Percantik Halaman Sempit

Filed in Tanaman hias by on 03/10/2013

Teknik berkebun tanaman hias di lahan sempit dengan perawatan mudah.

Botol air minum dalam kemasan ukuran 600 ml kerap membuat tempat sampah di kediaman Ir Deborah Herlina Adriani, MS, cepat penuh. “Suami saya suka minum air minum dalam kemasan jadi sampah sering menumpuk,” tutur Deborah yang tinggal di Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu. Namun, belakangan Deborah tak lantas membuang botol-botol itu. Ia memanfaatkan botol plastik sebagai pot tanaman hias yang unik, sederhana dan bermanfaat.

Mula-mula Deborah memotong bagian bawah botol, lalu melubangi tutup botol. Setelah itu menyusunnya pada dinding secara vertikal (lihat ilustrasi). “Ini vertikultur sederhana untuk budidaya tanaman hias,” ujar peneliti tanaman hias di Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi), Cipanas, Jawa Barat itu. Menurut Deborah, vertikultur sederhana buatannya cocok untuk masyarakat di perkotaan yang memiliki lahan dan waktu terbatas sehingga tidak jadi memelihara tanaman hias. “Cocok juga untuk para pehobi tanaman hias agar perawatan lebih efisien, terutama tenaga kerja,” kata Herlina.

Lahan sempit

Menurut Deborah sebagian masyarakat perkotaan biasanya enggan merawat tanaman hias di kediamannya karena lahan sempit, tidak punya waktu luang, tidak mengerti teknik budidaya, keterbatasan biaya, dan tidak menyukai tanaman hias. “Dengan budidaya tanaman hias secara vertikultur, kendala keterbatasan waktu dan tempat yang sempit bisa diatasi. Teknik yang saya terapkan murah karena menggunakan barang-barang bekas,” tuturnya.

Menurut pemerhati taman perkotaan di Jakarta, Eko Wardhana, teknik vertikultur tanaman hias selain memanfaatkan lahan sempit dari segi estetika juga terlihat indah. “Kesannya rapi dan harmonis dengan tempat tinggal. Selain itu vertikultur juga bisa menghias gedung-gedung perkantoran asalkan model dengan area penanamannya serasi, ” tutur perancang desain lingkungan itu.

Itulah sebabnya vertikultur menjadi salah satu inovasi yang dipamerkan pada acara openhouse dan seminar Inovasi Teknologi Florikultura di kantor Balithi di Pasirgunung, Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, pada 28—29 Agustus 2013. Salah satunya vertikultur menggunakan bahan baku botol plastik bekas hasil rancangan Deborah Herlina yang disusun setinggi 1—1,5 m. “Ketinggian susunan botol plastik disesuaikan dengan tinggi badan  pehobi agar perawatan lebih mudah,” ujarnya. Herlina menyusun botol-botol itu agar memudahkan dalam penyiraman. Botol itu disusun sedemikian rupa agar dapat mengalirkan air penyiraman dari botol paling atas, lalu mengalir turun ke botol berikutnya karena gravitasi.

Dalam pameran itu juga menampilkan vertikultur hasil rancangan peneliti tanaman hias Balithi lain yakni Ir Yoyo Sulyo. Karya Yoyo sedikit rumit karena dibuat dengan materi pipa polivinil klorida (PVC) dan selang. Dalam vertikultur rancangan Yoyo itu tanaman hias dalam pot diletakkan pada lubang berdiameter 11—15 cm—disesuaikan ukuran pot—yang terdapat di permukaan pipa PVC berdiameter 3 inci. Jarak antarlubang 50 cm. Pada setiap pot tanaman diberi selang berdiameter 1 cm yang terhubung dengan pipa PVC diameter 3 cm. Yoyo menyarankan untuk menggunakan selang warna gelap atau tidak transparan. “Kalau transparan bisa ditumbuhi lumut sehingga dapat menyumbat aliran air penyiraman,” tuturnya. Selang itulah yang mengalirkan air dari tandon atau bak penampungan air dengan bantuan pompa untuk penyiraman.

Karya Yoyo yang lain menggunakan pot yang disusun pada tiang besi penyangga. Tiang itu ditegakkan sebagai penopang pot. Pada setiap pot juga diberi selang berdiameter sekitar 1 cm yang terhubung dengan selang besar dengan diameter 3—5 cm. Selang-selang besar itu yang mengalirkan air dari tandon atau bak penampungan air menuju selang kecil kemudian menuju pot. “Bahan-bahannya bisa didapatkan di toko bunga dan toko bangunan,” kata Yoyo.

Sekam bakar dan kompos

Teknik budidaya dan perawatan vertikultur tanaman sama dengan cara konvensional. Untuk media tanam Deborah Herlina menggunakan campuran sekam bakar dan kompos dengan perbandingan 1 : 1. Jika kedua media tanam itu tidak ada pehobi bisa menggunakan media tanam lain seperti pasir malang dan serbuk sabut kelapa. “Pada prinsipnya media tanam harus bisa mengikat air, meloloskan air, dan tidak kotor. Karena itu tidak disarankan menggunakan media tanah,” kata Deborah.

Tanaman hias yang cocok untuk vertikultur sederhana itu di antaranya begonia, syngonium, dan aster. “Tanaman itu pertumbuhannya menjuntai dan tidak berkayu,” kata Herlina Deborah. Menurut ibu dua anak itu botol minuman air mineral tidak cukup kuat untuk menyangga tanaman yang besar dan berkayu. Sementara untuk model vertikultur ala Yoyo jenis tanaman hias yang digunakan bisa lebih beragam lantaran tanaman ditanam dalam pot terlebih dahulu, lalu ditata pada penopang yang lebih kokoh. Tanaman hias lain yang dapat digunakan adalah kalanchoe, anggrek, dan krisan.

Untuk pemupukan bisa menggunakan pupuk cair lengkap dengan dosis sesuai kemasan. “Penggunaan pupuk bisa seminggu sekali,” kata Deborah. Penggantian pot dan media tanam disesuaikan dengan kondisi tanaman. “Jika 3 bulan tanaman sudah terlihat besar dan akar sudah memenuhi pot, maka tanaman sudah bisa dipindahkan ke wadah yang lebih besar,” kata Deborah. (Bondan Setyawan)

FOTO:

Herlina Deborah, “Vertikultur tanaman hias sederhana, cocok untuk masyarakat di perkotaan”

 

Powered by WishList Member - Membership Software