Perbanyakan Biji, Bibit, Lalu Sambung

Filed in Majalah, Topik by on 02/09/2019

Para pekebun durian di Pulau Pinang menanam durian dari biji untuk menghasilkan durian jenis baru. Saat berumur setahun, pucuk dari bibit itu di-topworking pada pohon dewasa untuk mempercepat panen.

Menurut periset durian Malaysia, Dr. Abdul Aziz Zakaria munculnya nama-nama durian baru yang belum tersertifikasi di Malaysia sebagian besar muncul di Pulau Pinang. Bermunculannya nama-nama durian baru itu salah satu strategi para pekebun untuk memenangkan persaingan dalam berniaga durian. Harap mafhum, populasi durian di Pulau Pinang melimpah.

“Pekebun yang satu dengan yang lain berdekatan sehingga mereka bersaing ketat,” tuturnya. Oleh karena itu, masing-masing pekebun harus punya jenis andalan baru agar “berbeda” dengan kebun pesaingnya. Menurut penggemar durian asal Bulungan, Kalimantan Utara, yang berpengalaman mencicipi durian dan berkunjung ke beberapa kebun di Malaysia, Tony Irawan, untuk memperoleh jenis baru itu para pekebun di Pulau Pinang rela menanam durian dengan bibit asal biji.



“Biji yang ditanam biasanya durian unggul,” tutur pria yang kini menetap di Surabaya, Jawa Timur, itu. Mereka berharap dengan menanam asal biji terjadi mutasi sehingga menghasilkan varian baru dengan karakter yang lebih unggul dari tanaman induk. Agar lebih cepat mengetahui varian yang dihasilkan, para pekebun biasanya menyambung atau top working pada pohon-pohon yang kualitas buahnya kurang bagus.

Entres berasal dari tanaman asal biji umur setahun. Dengan top working mereka berharap tanaman lebih cepat berbuah. Tanaman hasil top working biasanya belajar berbuah pada umur 3 tahun pascasambung. Artinya, untuk mengetahui hasil penanaman bibit asal biji pada umur 4 tahun. Bandingkan bila menunggu tanaman asal biji itu hingga berbuah. Durian asal biji biasanya perlu waktu minimal 7 tahun hingga belajar berbuah. (Imam Wiguna)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software