Penyubur dari Dapur

Filed in Sayuran by on 01/12/2009 0 Comments

Sukamto Hadisuwito mengerti betul sengsaranya hidup di lokasi pembuangan sampah. Angin menerbangkan bau busuk ke rumahnya yang berjarak 7 meter dari lokasi pembuangan sampah di Cempakabaru, Jakarta Pusat. Lalat beterbangan di atas sampah yang menggunung dan acap kali mendekati rumahnya. Persoalan serupa tentu saja dihadapi oleh banyak orang. Maklum di kota-kota besar terdapat pembuangan sampah sementara sebelum diberangkatkan ke tempat pembuangan akhir.

Kondisi itulah yang mendorong Sukamto merakit alat pengolah sampah. Alat itu berupa tong plastik sebagai komposter mini atau tempat pengomposan sampah. Dengan peranti itu ia mengomposkan sendiri sampah organik sehingga tak membuang sampah. Menurut I N yoman Pugeg Aryantha, ahli mikrobiologi dari Institut Teknologi Bandung, idealnya sampah rumahtangga memang diolah menjadi pupuk organik.

Ventilasi

Sukamto membuat lubang berdiamater 4 cm di kedua sisi atas tong plastik, kira-kira 10—15 cm dari atas tong berkapasitas 60 liter. Sebuah lubang di bagian bawah, sekitar 10 cm di atas dasar tong. Ia menambahkan instalasi pipa polivinilchlorida (PVC) di dalam tong. Pipa-pipa itu ia lubangi untuk mengalirkan udara dari dan keluar tong. Persis ventilasi di sebuah rumah. Dengan sirkulasi udara yang bagus, maka suhu dalam komposter selama pengomposan tidak terlalu panas. Bila suhu stabil mikroba pengurai bahan organik bertahan hidup (lihat boks: Pabrik Mini).

Dengan komposter mini Sukamto mengolah sampah organik menjadi pupuk cair. Mula-mula ia memisahkan antara sampah anorganik dan organik seperti potongan sayuran dan buah serta sisa makanan. Alumnus Organization for Industrial Spiritual and Cultural Advancement (OISCA), Jepang, itu memotong-motong sampah organik berukuran besar untuk mempercepat proses penguraian. Sukamto kemudian menyemprotkan mikroba bioaktivator di sampah itu. Di pasaran banyak beredar bioaktivator seperti Boisca, EM4, dan Promi. Setelah mengaduk rata, barulah ia memasukkan sampah ke dalam tong.

Sampah itu menjalani proses fermentasi selama 2 pekan. Setiap 2 hari atau saat menambahkan bahan organik baru, sampah dalam tong diaduk agar penguraian berlangsung optimal. Sampah yang semula di permukaan, ia balik ke bagian bawah dan sebaliknya. Dua pekan berselang ia memanen perdana pupuk organik cair. Setelah itu, setiap hari ia memanen pupuk karena setiap hari pula ia menambahkan sampah ke dalam tong.

Bentuk pupuk cair berupa lindi alias cairan berwarna cokelat kehitaman. Untuk mengeluarkan pupuk cair, ia tinggal memutar kran dan menampung cairan di dalam botol. Pupuk organik cair itulah yang dimanfaatkan oleh Sukamto untuk memenuhi kebutuhan beragam tanaman seperti mangga, sansevieria, dan palem. Sebelum disiramkan ke tanaman, pupuk organik cair itu diencerkan dengan perbandingan 1:5. Artinya 1 liter pupuk cair perlu penambahan 5 liter air bersih.

Menyebar

Teknologi pengolahan sampah itu kemudian disebarluaskan ke masyarakat. Hingga kini ratusan komposter mini bikinan Sukamto digunakan oleh warga di Cempakabaru, Jakarta Pusat. Akibatnya sampah tak lagi menggunung di dekat rumah Sukamto. Lahan 700 m2 itu kini tampak asri dan hijau. “Rata-rata setiap hari satu keluarga menghasilkan 2 kg sampah organik. Bila setiap hari sampah itu dikumpulkan dan difermentasi selama 2 pekan dapat menghasilkan sekitar 50 liter kompos cair,” kata pria kelahiran 27 November 1950 itu.

Djadjuli Sadikin, pekebun di Pasirangin, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mengatakan pengomposan bahan organik menjadi pupuk bermanfaat dalam mengatasi kelangkaan pupuk kimia. Ia juga mengomposkan beragam bahan organik, seperti sisa-sisa makanan, daun bambu, batang pisang, dan lumpur dari dasar kolam. Hasil pengomposan itu digunakan untuk memupuk 20 jenis sayuran yang ia budidayakan seperti caisim, terung, labu siam, selada, kangkung, bayam jepang, dan cabai.

Menurut Dr Toto Himawan dari Universitas Brawijaya, pupuk organik dibuat dari bahan organik seperti tanaman dan kotoran ternak yang telah dikomposkan. Standar pupuk organik harus memiliki C organik 12% dan N organik sangat rendah, kurang dari 20%. Dengan komposter mini, Sukamto mampu memenuhi standar itu. “Adanya isu untuk memanfaatkan sumber yang ramah lingkungan mendongkrak popularitas pupuk organik untuk menghasilkan tanaman organik yang ramah lingkungan,” kata Himawan.

Langkah Sukamto mengolah sampah menjadi pupuk organik cair bukan hanya menjamin ketersediaan nutrisi bagi tanaman. Namun, ia juga membantu pemerintah mengatasi persoalan sampah. Menurut Dinas Kebersihan DKI Jakarta produksi sampah di DKI Jakarta mencapai 26.945 m3 per hari. Dari jumlah itu setengahnya berupa sampah organik. Bila sampah organik bisa diolah menjadi kompos atau pupuk cair, maka hampir separuh sampah kota Jakarta teratasi.

Untuk urusan sampah, Jakarta mengeluarkan biaya minimal Rp32-miliar. Jakarta membayar Rp103.000 per ton sampah yang dibuang ke Bantargebang, Kotamadya Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Padahal, Jakarta menghasilkan 6.000 ton sampah sehari. Langkah Sukamto membantu mengurangi besarnya biaya pengelolaan sampah yang ditanggung pemerintah. (Ari Chaidir)

 

Tong komposter penghasil kompos cair

Lingkungan warga Kelurahan Cempakabaru hijau & asri berkat mengolah limbah organik rumahtangga

Sukamto, ciptakan komposter mini dari tong plastik untuk hasilkan kompos cair

 

Powered by WishList Member - Membership Software