Penyengat Memang Hebat

Filed in Eksplorasi by on 01/04/2010 0 Comments

Saat ini Sinosteel International Plaza dalam tahap pembangunan dan diperkirakan rampung pada 2012. Menurut Endy Subijono, ketua Ikatan Arsitek Indonesia, pola heksagonal telah lama diadopsi dan menjadi sumber inspirasi banyak arsitek. Sarang lebah memang unik terdiri atas ribuan kantong heksagonal tempat menyimpan madu. Lebah pekerja membangun sarang berbahan kulit kayu, lilin, dan resin dari beragam tumbuhan.

“Lebah bekerja dari pukul 06.00 hingga 18.00. Mereka bergotong-royong mengumpulkan material dan membangun sarang. Satu koloni lebah terdiri atas 50.000—80.000 ekor mampu menyelesaikan pembangunan sarang dalam waktu sepekan,” kata Prof Dr DTH Sihombing, guru besar emiritus Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

Sarang lebah terdiri atas beberapa bagian. Bagian atas terdiri dari 2 zona: ruang tertutup oleh lapisan lilin sebagai tempat menyimpan madu; ruang terbuka, berisi polen. Bagian berikutnya adalah tempat peletakan telur, larva, dan lebah muda yang belum tumbuh sempurna. Menurut Suputa MP, peneliti serangga di Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, lebah menggunakan pola segienam karena memiliki banyak keistimewaan. “Dari segi efektivitas ruang dan kebutuhan bahan yang digunakan, bangunan heksagonal merupakan bentuk paling optimal sebagai tempat penyimpanan madu,” kata Suputa.

Bentuk heksagonal yang simetris jika digabungkan akan menghasilkan kombinasi ruang sempurna tanpa celah kosong. Bandingkan bila lebah membangun kantung-kantung penyimpan madu dengan bentuk lain seperti lingkaran. Gabungan beberapa lingkaran justru membentuk celah kosong antarruang. Akibatnya pembangunan sarang malah boros material karena butuh banyak lilin untuk menambal celah-celah kosong.

Begitu pula bila menggunakan segitiga atau persegi. Dengan kedua bentuk itu celah kosong memang tidak terbentuk. Namun, secara matematis segitiga dan persegi memiliki keliling lebih besar ketimbang segienam. Dampaknya dalam luasan yang sama untuk membangun sebuah persegi atau segitiga, memerlukan material lebih banyak ketimbang heksagonal. Pemakaian persegi atau segitiga pun tidak efisien.

Untuk membuat persegi panjang dan segitiga seluas 25 cm2, lebah harus membangun dinding dengan keliling 20 cm dan 22,8 cm. Bandingkan jika lebah membangun ruang heksagonal, hanya perlu keliling 18,6 cm. Artinya, dengan bentuk heksagonal, lebah memperoleh kapasitas simpan yang lebih besar, tetapi bahan baku bangunan lebih sedikit.

Penggunaan bentuk heksagonal juga menunjukkan bahwa lebah pun memiliki perhitungan ekonomis dan optimalisasi biaya dalam membangun sarang. Analoginya, “Bila membuat 2 bangunan dengan luas yang sama, satu berbentuk heksagonal dan lainnya persegi, maka bentuk heksagonal hanya perlu setengah sak semen, sedangkan persegi perlu 2 sak,” kata Suputa.

Selain itu lebah ternyata membangun rangkaian heksagonal dari 2—3 titik awal berbeda. Namun, tetap menghasilkan susunan yang simetris dan sempurna. Menurut Suputa kemampuan itu lantaran lebah memanfaatkan bantuan polarisasi cahaya matahari—perubahan gerakan cahaya matahari menuju arah tertentu—dalam menentukan arah dan sudut setiap heksagonal yang dibuat.

Mereka mengikuti perubahan setiap derajat pergerakan cahaya matahari. Ibarat kompas, pergerakan itu menjadi pedoman untuk merangkai pola heksagonal. Kondisi di dalam sarang lebah juga unik. Suhu dalam sarang selalu konstan pada kisaran 35—36oC. Tujuannya, supaya telur dan larva tetap hidup. Larva lebah memerlukan suhu hangat untuk dapat bertahan hidup. Dalam sehari lebah ratu menghasilkan 2.000 telur yang harus dijaga supaya tetap hidup. Oleh sebab itu lebah-lebah pekerja harus bahu-membahu menjaga suhu sarang.

Saat suhu tinggi, lebah pekerja akan mengepakkan sayap mereka secara bergantian. Kepakan ribuan sayap lebah menghasilkan angin yang dapat mendinginkan sarang. “Kepakan sayap berfungsi seperti kipas angin yang mengembuskan udara segar saat ruangan panas,” kata Sihombing. Ketika suhu rendah, “Lebah akan berkerumun menyelimuti sarangnya supaya suhu dingin tidak masuk ke sarang. Bila suhu dingin disebabkan oleh adanya lubang angin, maka lebah menutupi lubang itu dengan lapisan lilin,” kata Suputa.

Penelitian Prof Jurgen Tautz, periset perilaku lebah di Universität Würzburg, Jerman menunjukkan pada suhu rendah, lebah pekerja berdiam di dalam sarang dan menempelkan torak pada larva untuk memberikan kehangatan. Struktur dinding heksagonal yang tipis memudahkan lebah dalam mentransfer panas dan berkomunikasi. Di dalam sarang, lebah berkomunikasi melalui getaran. Mereka menghasilkan getaran yang diteruskan melalui dinding-dinding heksagonal kepada lebah lain.

“Susunan panel-panel segienam yang rapi berfungsi sebagai jaringan komunikasi antarlebah,” kata Tautz. Dengan beragam keistimewaan, pantas rangkaian heksagonal pada sarang lebah menjadi sumber inspirasi. Layaknya seorang arsitek ulung, dengan perhitungan dan pemilihan model bangunan yang tepat, lebah berhasil membangun sarang yang sempurna. Hemat bahan bangunan, tetapi tetap berkapasitas besar. (Ari Chaidir).

Keterangan foto

  1. Bentuk segienam memungkinkan lebah menyimpan madu dalam jumlah lebih banyak
  2. Peternakan lebah milik Jeanny Komar di Sukabumi, Jawa Barat
  3. Pola heksagonal pada sarang lebah menginspirasi pembangunan dinding gedung Sinosteel International Plaza
  4. DTH Sihombing, lebah membangun sarang dari kulit kayu, lilin, dan resin

Foto-foto: Nesia Artdiyasa & Sardi Duryatmo

 

Powered by WishList Member - Membership Software