Penyelamat Saat Kemarau

Filed in Uncategorised by on 03/09/2012 0 Comments

Ruminansia membutuhkan pakan hijauan sebagai sumber energiTak ada rumput, wafer pun jadi. Pakan alternatif untuk ternak ruminansia.

Mencari rumput saat kemarau saja kian sulit. Apalagi jika lokasi mencari rumput itu di kota besar seperti Jakarta. Itulah pengalaman Nurdin setiap kali musim kemarau tiba. Peternak sapi sejak puluhan tahun lalu di Jakarta Selatan itu lebih sering keluar-masuk kampung untuk mengumpulkan 200 kg rumput segar bagi 10 sapinya. “Mencari rumputnya bisa sampai ke Jakarta Barat,” kata Nurdin.

Seberapa penting pakan hijauan? Prof Dr Ir I Wayan Mathius MSc, periset di Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan di Ciawi, Kabupaten Bogor, menjelaskan, hewan ruminansia seperti sapi, domba, dan kambing perlu pakan hijauan berserat tinggi sebagai sumber energi. “Bila pakan hijauan kurang, ternak kurus dan mengakibatkan kematian,” kata Mathius.

Tiga terbaik

Masalah peternak itu selama bertahun-tahun menjadi tantangan Dr Ir Yuli Retnani MSc dari Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Untuk mengatasi masalah itu, Retnani membuat pakan hijauan berbahan limbah sayuran, bukan rumput. Ide cemerlang itu muncul setelah melihat sampah sayuran menggunung di Pasar Induk Kramatjati, Jakarta Timur.

“Limbah sayuran seperti tomat, kol, cabai, wortel, klobot jagung, dan bunga kol masih bisa dipakai untuk pakan,” kata Retnani. Doktor Ilmu Lingkungan dan Sumberdaya Alam alumnus Institut Pertanian Bogor itu lantas menganalisis ketersediaan dan nilai gizi limbah sayuran. Hasilnya terpilih 3 jenis limbah untuk pakan, yakni klobot atau kulit jagung, daun bunga kol, dan kulit tauge kacang hijau.

Menurut Retnani, tauge, misalnya, kaya protein sampai 22% atau setara protein ampas tempe. Bahkan, protein daun kembang kol mencapai 27%. Protein tinggi itu berguna untuk pertumbuhan dan memperbaiki sel tubuh rusak. “Klobot jagung proteinnya rendah sekitar 1,22%, tapi berserat tinggi yang banyak mengandung selulosa dan hemiselulosa untuk mikroba di usus ruminansia,” kata Retnani.

Ia tak memberikan sayuran segar itu, tetapi mengolah menjadi wafer supaya tahan simpan dalam waktu lama. Semula Retnani mencetak wafer seukuran kardus buku. Namun, karena ruminansia agak kesulitan mengonsumsinya, maka ia mengubah ukuran wafer sebesar dua kali kotak korek api.

Bahan wafer berupa klobot jagung, kulit tauge, dan daun kembang kol. Ia mengeringkan seluruh bahan hingga berkadar air 16%. Selanjutnya ia mencacah semua bahan, mencampurkan sedikit molases atau tetes tebu sebagai perekat. Lalu Retnani mengepres campuran itu memakai mesin cetak.

Cocok penggemukkan

Wafer limbah sayur itu terbukti cocok sebagai pakan ruminansia seperti sapi, kambing, dan domba. Pengujian pemakaian pakan wafer pada domba, misalnya, selama 2 bulan memperlihatkan hasil menggembirakan. “Domba menyukai wafer sehingga selalu habis bila diberikan,” kata Retnani. Dari riset terlihat komposisi pemberian pakan terbaik adalah 50% wafer dan 50% rumput.

Hasilnya bobot domba meningkat 24% ketimbang pemberian hanya rumput. Rumput memang terus diberikan karena sejatinya pakan utama ruminansia adalah rumput. Wafer yang cocok untuk penggemukan karena berkadar protein tinggi itu memiliki aroma harum dengan rasa agak asin. Uji  kandungan lengkap wafer limbah sayuran memperlihatkan 13-16% total protein wafer, 27-41% serat kasar, 35-49% bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN), dan 52-62% total nutrisi yang mampu dicerna (TDN).

Menurut Wayan, total kadar protein untuk ruminansia agar hidup dan berproduksi sebesar 11-14%. “Jika ingin produksi maksimal tingkatkan kadar protein, tetapi dengan konsekuensi biaya produksi lebih tinggi,” ujar Wayan. Oleh karena itu wafer sayuran menjadi secercah harapan. Ruminansia hanya butuh wafer 300 gram per hari dengan ongkos produksi Rp1.500 per kg.

Wayan mengatakan bahan baku tak melulu limbah sayuran seperti dipakai Retnani, tapi dapat memanfaatkan bahan baku lain seperti daun papaya, daun katuk, bungkil kelapa, kulit cokelat, dan limbah sagu.

Menurut Retnani wafer pakan tahan simpan 3 tahun setelah dibungkus plastik kedap udara terlebih dahulu. Wafer pakan ruminansia sangat potensial untuk dikembangkan dalam skala industri. Bila itu terwujud Nurdin bakal girang karena ia tak perlu repot lagi mencari pakan hijauan saat tiba kemarau. (Desi Sayyidati Rahimah)

Keterangan Foto :

  1. Ruminansia membutuhkan pakan hijauan sebagai sumber energi
  2. Dr Ir Yuli Retnani MSc, periset wafer pakan limbah sayuran
  3. Wafer pakan limbah sayuran mampu mengatasi kelangkaan pakan di musim kemarau

 

 

Powered by WishList Member - Membership Software