Penghasil Solar Anyar

Filed in Perkebunan by on 01/01/2010 0 Comments

Produktivitas kemiri sunan pada umur 15 tahun mencapai 200 kg buah setara 88 kg biosolar per tahun atau 8,8 ton biosolar per ha dengan populasi 100 pohon. Puncak produksi terjadi pada umur 25 tahun dengan panen 25 ton buah per ha setara 11 ton biosolar. Tingginya produksi biosolar karena rendemen kemiri sunan fantastis: 44%. Artinya, untuk memperoleh 1 kg biosolar (solar asal tumbuhan), produsen hanya memerlukan 2,2 kg buah kemiri sunan. Bandingkan dengan jarak pagar yang rendemennya cuma 24% atau kelapa sawit yang hanya 21—24%.

Biosolar diolah dari buah matang berumur 90 hari pascabunga yang menghasilkan minyak terbaik berwarna kuning jernih. Buah yang sudah kelewat tua menghasilkan minyak berwarna kuning pekat sampai merah tua. Menurut Ir Edi Wardiana MSi, peneliti kemiri sunan, kepekatan itu disebabkan asam lemak jenuh dalam buah. “Asam lemak itu terbentuk setelah buah matang. Itu merusak kualitas minyak,” kata Edi. Lemak jenuh menurunkan rendemen dari minyak kemiri menjadi biosolar. Minyak kualitas bagus rendemennya 88%; mutu jelek berkisar 56—72%.

Tingginya rendemen memungkinkan kemiri sunan dikembangkan sebagai alternatif pengganti bahan bakar minyak. Dua tahun terakhir, Ir Maman Herman dari Balai PEnelitian Tanaman Rempah dan Aneka Tanaman Industri (Balittri) mengisi mobil-mobil diesel dengan kemiri sunan berpersentase B10. Hasilnya tak ada asap hitam keluar dari knalpot.

Menurut Dr Iman Reksowardojo, kepala Laboratorium Mesin Bakar dan Propulsi Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung, itu berarti biodiesel kemiri sunan sesuai dengan spesifikasi bahan bakar yang dibutuhkan mesin. “Perbedaan kualitas dengan solar masih bisa ditoleransi mesin,” kata Iman.

Bukan bumbu

Kemiri sunan berbeda dengan kemiri bumbu. Ukuran buah kemiri bumbu Aleurites moluccana lebih kecil, 1 kg terdiri atas 70—80 buah. Kemiri sunan Aleurites trisperma, meskipun lebih besar—120—130 buah/kg—berkulit tipis sehingga ringan. Buah kemiri sunan juga tak dapat dikonsumsi lantaran mengandung senyawa alfaelaeostearat yang beracun. Sehingga penggunaan untuk biodiesel tidak mengganggu kebutuhan pangan.

Mengetahui potensi besar itu, PT Bahtera Hijau Lestari membudidayakan kemiri sunan di lahan seluas 2.600 ha pada 2008. Lokasi lahan tersebar di Majalengka, Kuningan, Sumedang, Bekasi, Ngawi, Lamongan, sampai Bali dan Nusa Tenggara. Hendra Natakarmana, direkturnya, menghitung biaya penanaman 100 bibit di lahan 1 ha kira-kira Rp5-juta, meliputi biaya pembelian bibit, pembuatan lubang tanam, dan tenaga kerja. Kemiri sunan bisa dibudidayakan di lahan kritis atau marginal. Pengalaman Hendra, kelulusan hidup bibit 99% meski ditanam di lahan kritis.

Ciri khas buah matang berwarna hijau kekuningan. Untuk mengolah buah, pisahkan biji dari daging buah. Kupas kulit luar biji sampai mendapatkan kernel alias daging biji. Setelah itu, keringkan kernel agar kadar air berkurang dari 20% menjadi 7%. Kernel kering itulah yang dipres untuk menghasilkan minyak. Minyak nabati itu lalu ditransesterifikasi melalui pemanasan, pencucian, pemisahan gliserol, dan pengeringan selama 5 jam dengan pelarut metanol menghasilkan biosolar. Serangkaian proses itu bertujuan agar biosolar kemiri sunan tidak mengotori mesin atau menyumbat saluran bahan bakar.

Menurut Iman, minyak kemiri sunan mesti dihidrogenasi sebelum ditransesterifikasi lantaran mengandung ikatan tak jenuh dalam rantai karbon yang menyebabkan minyak rentan perubahan suhu. “Kalau kedinginan minyak bisa membeku,” ungkapnya. Dari pengolahan 100 kg kemiri sunan, diperoleh 44 kg biodiesel, 6 kg gliserin, dan 50 kg bungkil.

Potensial

Selain kemiri sunan, tanaman “baru” penghasil biosolar lain adalah kayu besi pantai Pongamia pinnata. Masyarakat Jawa menyebutnya bangkong; Sunda, kipahang. Sebelum dijadikan bahan bakar mesin, minyaknya—disebut minyak karanja—dimanfaatkan masyarakat India untuk pengobatan diare dan penyakit kulit.

Menurut Prof Tatang Soerawidjaja, kepala Pusat Penelitian Pendayagunaan Sumber Daya Alam dan Pelestarian Lingkungan Institut Teknologi Bandung, kipahang berpotensi luar biasa untuk dikembangkan. “Daunnya bisa untuk pakan ternak, kayunya bisa dijadikan perabot dan bahan bangunan, bunganya menghasilkan madu, dan kulit batangnya bisa untuk obat, serta minyaknya untuk bahan bakar,” ungkapnya.

Kipahang berbuah perdana pada umur 4 tahun dengan produksi 9 kg biji kering per pohon setahun. Produksi optimal ketika pohon berumur 7—10 tahun, yakni 90 kg per pohon. Jika populasi 100 pohon/ha, maka total produksi 9 ton buah. Dengan rendemen minyak 30—40%, produksi biosolar mencapai 3—3,5 ton/ha setahun.

Teknologi proses kipahang identik dengan kemiri sunan. Buah matang dipisahkan biji dan daging buahnya. Kupas biji untuk memperoleh kernel. Dengan pengepresan, diperoleh minyak yang lantas ditransesterifikasi. Biodiesel kipahang rendah belerang, sepersepuluh kadar belerang solar.

Pemakaian kipahang sebagai bahan bakar nabati bisa dicampur dengan solar atau murni tanpa campuran solar. Penggunaan B100 atau 100% kipahang bisa dilakukan tanpa perlu modifikasi mesin. Sayang, potensi besar itu belum tergali. “Padahal pohon itu tersebar di seluruh Indonesia,” kata Tatang. (A. Arie Raharjo)

 

 

 

Penggunaan biodiesel asal buah dan biji kipahang bisa 100%, tanpa campuran solar

Kemiri sunan, rendemen minyak jadi biosolar tinggi, mencapai 44%

Foto-foto: A. Arie Raharjo & Sardi Duryatmo

 

47,8

53,3

51,0

Biodiesel Solar

kemiri sunan

Biodiesel

kipahang

Bilangan setana

3,60

5,32

5,51

Kekentalan (cp)

Keterangan

  • Bilangan setana (cetane number) adalah bilangan yang menyatakan seberapa cepat bahan bakar mesin diesel yang diinjeksikan ke ruang bakar bisa terbakar secara spontan setelah bercampur dengan udara. Semakin tinggi bilangan setana semakin baik kualitas bahan bakarnya.
  • Kekentalan bahan bakar yang bisa ditoleransi mesin diesel adalah 3—6 centipoise (cp). Bahan bakar yang terlalu kental akan sulit mengalir sehingga mengurangi performa mesin.

Ilustrasi: Bahrudin

 

Powered by WishList Member - Membership Software