Penggerus Tumor Hipofaring

Filed in Uncategorised by on 01/11/2012 0 Comments

Tumor sebesar kacang merah di bagian belakang pita suara hilang setelah rutin mengonsumsi ekstrak daun sirsak.

 

Andarini Kuswardani-yang bersangkutan enggan disebut nama sebenarnya-bagai terkena hantaman godam saat dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) mendiagnosis tumor hipofaring. Hasil pemeriksaan dokter terdapat benjolan seukuran kacang merah pada bagian belakang pita suara itu. Tumor itu memang belum ganas. “Tapi jika dibiarkan bisa menjadi kanker dan menjalar ke bagian lain di tenggorokan,” ujarnya menirukan pendapat dokter.

Andarini tak menyangka bakal menderita penyakit menakutkan itu. Maklum, sebelumnya perempuan 50 tahun itu hanya mengeluh batuk, gatal di tenggorokan, suara serak, dan rasa sakit saat menelan makanan. Saat memeriksakan diri ke dokter umum di dekat kediaman di Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, dokter hanya mendiagnosis Andarini mengalami radang tenggorokan biasa. Dokter hanya memberi obat antibiotik dan peluruh dahak. Obat itu untuk konsumsi selama 5 hari masing-masing 3 kali sehari.

Namun, setelah obat habis, kesembuhan tak kunjung datang. Khawatir berdampak buruk, Andarini kembali memeriksakan diri ke dokter yang sebelumnya memeriksa. Lagi-lagi dokter hanya memberi obat yang sama dan ia tak jua menggapai kesembuhan. Pada kedatangan ketiga kalinya, dokter lalu menyarankan ibu 3 anak itu untuk memeriksakan diri ke dokter spesialis THT di Kota Bogor. Dari pemeriksaan itu akhirnya terkuak. Penyebab batuk dan sakit di tenggorokan yang tak kunjung sembuh ternyata adalah tumor.

Langka

Menurut dokter spesialis THT RS Telogorejo di Semarang, Provinsi Jawa Tengah, dr Henny Kartikawati MKes SpTHT-KL, pasien tumor hipofaring biasanya mengalami gejala gatal di tenggorokan dan suara serak bila tumor menyebar mengenai nervus laringeus atau muskulus krikoaritenoid. Gejala lain pasien sulit menelan dan merasa seperti ada yang mengganjal di tenggorokan.

Tumor hipofaring sejatinya tergolong penyakit langka. Menurut dr Effy Huriyati, SpTHT-KL dari Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, satu dari 100.000 penduduk Eropa menderita penyakit itu setiap tahunnya. Di Perancis 14 orang dari   100.000 penduduk mengalami penyakit akibat pertumbuhan jaringan baru karena aktivitas sel yang tak terkendali itu.

Tumor hipofaring paling rentan menyerang pria, terutama yang suka merokok dan mengonsumsi alkohol. Konsumsi alkohol dapat menekan respon imun serta membuat karsinogen hidrokarbon di dalam tembakau menjadi efektif. Namun, bukan berarti perempuan terbebas dari risiko terkena penyakit yang biasanya menyerang pasien berusia lebih dari 50 tahun itu. “Kekurangan nutrisi seperti vitamin A dan B, konsumsi makanan berpengawet, dan lemahnya sistem imun dapat memicu tumor hipofaring,” ujar Effy.

Untuk mengobatinya, dokter menawarkan dua pilihan kepada Andarini: operasi atau radioterapi. Bagi seorang ibu rumahtangga dan istri dari suami yang penghasilannya terbatas, kedua pilihan itu sungguh berat. “Biayanya pasti mahal, saya tidak sanggup,” ujarnya. Ia pun memilih pengobatan alternatif dengan mengonsumsi aneka ramuan herbal dari sebuah klinik. Upaya menggapai kesembuhan harus ditempuh dengan menebus beberapa kali “resep” herbal. Pengobatan itu pun kemudian terhenti karena kendala biaya pengobatan. “Ternyata hanya pada pengobatan pertama saja yang murah, Rp300.000. Untuk pengobatan lanjutan biayanya lebih mahal, bisa mencapai Rp900.000 untuk sekali pengobatan,” ujarnya. Satu paket ramuan biasanya habis untuk dua pekan.

Daun sirsak

Pada awal 2012 adik Andarini memberi tahu tentang khasiat daun sirsak Annona muricata yang ampuh mengatasi tumor dan kanker. Berharap sembuh, ia pun menuruti saran sang adik. Andarini rutin mengonsumsi ekstrak daun sirsak dalam bentuk kapsul 3 kali sehari masing-masing 2 kapsul.

Setelah dua bulan mengonsumsi, batuk dan rasa sakit saat menelan makanan hilang. Andarini juga tak lagi merasa seperti ada yang mengganjal di tenggorokan. Sayang, ia belum memeriksakan kembali keberadaan tumor di lehernya. “Toh saya sudah tidak merasa sakit. Jadi saya belum ke dokter lagi,” ujar Andarini.

Menurut dokter dan juga herbalis di Yogyakarta, dr Sidi Aritjahja, daun sirsak ampuh mengatasi sel tumor karena mengandung senyawa acetogenins. Cara kerja senyawa itu adalah mengganggu atau memperlambat proses mitosis sel tumor dan kanker dengan menghambat pembentukan adenosina trifosfat (ATP). Sel tumor dan kanker memiliki kemampuan untuk membelah cepat dalam hitungan jam yakni setiap 2-5 jam, sedangkan sel normal biasanya 7-14 hari. Pembelahan yang cepat itu memerlukan energi besar yang berasal dari ATP. “Jika pasokan energi berkurang maka dengan sendirinya aktivitas sel kanker jadi melamban dan akhirnya terjadi apoptosis (bunuh diri sel, red),” tutur dokter alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Gadjahmada itu.

Terbukti ilmiah

Kondisi Andarini yang membaik menambah daftar panjang bukti empiris khasiat daun sirsak mengatasi tumor dan kanker. Penelitian ilmiah untuk membuktikan khasiat daun tanaman anggota famili Annocaeae itu pun terus berjalan di tanahair. Salah satu yang terbaru adalah penelitian yang dilakukan oleh Eka Prasasti Nur Rachmani dan rekan-rekan dari Departemen Farmasi Universitas Jenderal Soedirman. Dalam penelitian itu Eka meneliti efek sitotoksik ekstrak etanol daun sirsak terhadap sel kanker payudara T47D. Hasil penelitian menunjukkan, ekstrak etanol daun sirsak mampu menghambat pertumbuhan sel kanker (IC50) pada konsentrasi 17,149 µg/ml.

Menurut dr Sidi daun sirsak memiliki kelebihan dibandingkan dengan herbal antitumor dan antikanker lain karena cakupan khasiatnya lebih luas. Contohnya bila dibandingkan dengan temuputih. Anggota famili Zingiberaceae itu mengandung protein yang hanya efektif untuk mengganggu mitosis sel kanker yang berasal dari kelenjar seperti kanker prostat dan pankreas alias adenokarsinoma. Daun sirsak cakupannya lebih luas yakni efektif juga untuk kanker yang berasal dari sel jaringan ikat seperti kanker payudara dan kanker rahim.

Namun, dr Sidi mewanti-wanti agar pasien tidak mengonsumsi daun sirsak secara tunggal dalam jangka panjang tanpa putus. “Daun sirsak memiliki antioksidan tinggi,” ujarnya. Antioksidan bersifat akumulatif dalam tubuh. Jika jumlahnya terlalu tinggi dan terlalu lama menumpuk dalam tubuh, antioksidan akan berubah menjadi prooksidan yang justru dapat memicu kanker. Untuk mengatasinya perlu antioksidan yang dosisnya jauh lebih banyak lagi. Oleh karena itu sebaiknya konsumsi daun sirsak selama gejala masih terasa. Jika sudah membaik, hentikan konsumsi daun sirsak minimal 6 bulan. “Setelah itu bisa dikonsumsi kembali,” katanya.

Hingga saat ini Andarini masih mengonsumsi kapsul ekstrak daun sirsak. Hanya saja dosisnya berkurang, yakni menjadi 1 kapsul yang dikonsumsi 3 kali sehari. Dengan begitu ia berharap tumor pergi dan tak kembali. (Imam Wiguna)

Keterangan foto :

  1. Daun sirsak mengandung acetogenins yang berperan melawan sel tumor dengan menghambat pembentukan adenosina trifosfat (ATP)
  2. Perokok lebih berisiko tinggi terkena tumor hipofaring
  3. Konsumsi kacang hijau yang kaya vitamin B, dapat membantu mencegah tumor hipofaring
  4. Ras kulit putih seperti warga Eropa lebih rentan terkena tumor dan kanker hipofaring
  5. Daun sirsak mengandung antioksidan tinggi. Jika konsumsi terus-menerus dalam jangka panjang tanpa putus dapat menyebabkan menumpuknya antioksidan dalam tubuh dan berbalik menjadi prooksidan yang memicu kanker. Sebaiknya konsumsi daun sirsak jika gejala penyakit masih terasa
  6. dr Sidi Aritjahja: cakupan kerja daun sirsak luas, tidak hanya ampuh atasi tumor dan kanker pada kelenjar, tapi juga kanker pada jaringan ikat.
  7. Cakupan kerja daun sirsak lebih luas ketimbang temuputih yang aktivitas antikankernya terbatas karena mengandung protein yang hanya efektif untuk mengganggu mitosis sel kanker pada kelenjar seperti kanker prostat dan pankreas
 

Powered by WishList Member - Membership Software