Pendatang Baru Mencuri Laba Petani

Filed in Inspirasi, Majalah by on 09/09/2020

Kutu putih Paracoccus marginatus dapat menyerang daun, buah, dan batang pepaya.

 

Kutu putih Paracoccus marginatus mengisap cairan tanaman dan menyebabkan menurunnya kualitas buah. Tanaman inang sangat luas.

Permukaan daun, buah, dan batang pepaya di kebun Widaryanto tampak memutih. Itulah gerombolan kutu putih yang menutupi hampir semua bagian tanaman. Sebanyak 60% dari total 1.000 tanaman pepaya milik pekebun di Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, itu terserang hama kutu putih Paracoccus marginatus. Widaryanto mengebunkan pepaya kalifornia di beberapa lokasi.

Serangan kutu di dua lokasi terparah. “Dua lahan dengan populasi 80 tanaman semua terkena kutu putih. Lahan lain juga terkena tapi tidak separah dua lahan itu,” kata pekebun pepaya sejak 2009 itu. Separah itu hingga batang bagian bawah dekat tanahpun tak luput.

Tak terurus

Tri Budiyanti, S.P., M.Si., peneliti pepaya di Balai Penelitian Tanaman Buah (Balitbu) Tropika, Solok, Sumatera Barat.

Kutu putih bukan hama mematikan tetapi daya rusaknya cukup tinggi. Lama-kelamaan tanaman mati lantaran pertumbuhan terganggu. Peneliti pepaya di Balai Penelitian Tanaman Buah (Balitbu) Tropika, Tri Budiyanti, S.P., M.Si., menuturkan, masih banyak pekebun pepaya mengeluhkan kutu putih.

“Biasanya petani terlambat melakukan pengendalian sehingga kutu putih mewabah dengan cepat,” kata Tri. Paracoccus marginatus berkembang baik pada lingkungan panas di daerah tropis. Potensi kemunculannya lebih tinggi pada musim kemarau daripada musim hujan.

Peneliti budidaya tanaman itu menuturkan, “Apalagi kalau sudah ada populasi kutu putih di lokasi itu, musim apa pun akan tetap ada serangan.” Semut dan angin berperan sebagai pembawa kutu putih. Serangan parah terjadi jika seluruh bagian tanaman dipenuhi gerombolan kutu putih terutama daun dan buah. Cairan buah bisa terisap terus-menerus sehingga kualitas buah turut menurun.

Pada lapisan daging buah yang dekat dengan kulit menjadi menebal, warnanya memutih, dan rasa buah kurang manis. Di samping mengisap cairan, kutu putih juga mengeluarkan cairan sekresi berwarna hitam yang menempel di tanaman mirip embun jelaga. Noda hitam itu menyebabkan cacat pada buah sehingga berpotensi tidak lolos sortir mutu tertinggi.

Serangan kutu putih itu terjadi pada 2011 ketika Widaryanto baru mengebunkan pepaya. Ia menemukan kunci mencegahnya, “Sebetulnya kalau perawatan rutin seperti pemberian pupuk dan insektisida sudah sesuai kebutuhan, tidak akan ada serangan.”

Salah satu penyebab menyebarnya P. marginatus adalah tanaman yang tak terurus. Selain itu, pengamatan rutin diperlukan untuk mencegah kutu putih. Biasanya hama anggota famili Pseudococcidae itu menempel di bagian pangkal daun yang tersembunyi sehingga sulit terdeteksi. Kutu berkembang biak dengan cepat dan pekebun baru menyadari setelah sebagian besar daun dan buah tertutup koloni putih itu. Jika telanjur terserang, Widaryanto menggosok bagian yang tertempeli kutu putih dengan kain basah hingga rontok. Setelah itu ia menyemprotkan insektisida.

Tanaman inang kutu putih sangat luas antara lain anggota famili Annonaceae.

Polifagus

Pekebun pepaya di Ngemplak, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Widaryanto.

Sejatinya mealybugs alias kutu putih berasal dari Meksiko. Kemunculannya di Indonesia terdeteksi pertama kali di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat, pada 2008. Sejak saat itu, penyebarannya meluas ke berbagai sentra produksi pepaya di Indonesia. Peneliti dari Program Studi Proteksi Tanaman Institut Pertanian Bogor, Aisah, menyatakan kutu putih pepaya tergolong hama polifagus yang memiliki inang lebih dari satu jenis tanaman.

Aisah menjabarkan rentang tumbuhan inang kutu putih cukup luas mulai dari tumbuhan buah, bunga, hingga kacang-kacangan. Adapun famili inang meliputi antara lain Acanthaceae, Annonaceae, Apocynaceae, Arecaceae, Caricaceae, Convolvulaceae, Euphorbiaceae, Fabaceae, Lauraceae, dan Malpighiaceae.

Anggota staf bagian layanan pelanggan PT Petrokimia Kayaku, Bambang Jatmiko, sering menerima keluhan petani akibat kutu putih. Jika parah, daun bisa mengerut atau mengeriting dan tumbuh tidak normal. “Kutu putih ada beberapa macam dan dapat menyerang beragam tanaman seperti kedelai, kopi, nanas, pepaya, dan singkong. Saat ini serangannya meluas meliputi banyak jenis hortikultura,” kata Bambang.

Bahkan, ia menerima laporan serangan pada tanaman tahunan sengon. Sebelum mengebunkan pepaya, Tri merekomendasikan pekebun untuk memusnahkan tanaman inang kutu putih di area kebun. Setidaknya pastikan tidak ada tanaman itu di area kebun dan sekitarnya.

Kulit buah pepaya yang terserang kutu putih pun memutih dan dagung buah mengeras.

Selain itu, pengendalian ketika populasi kutu putih masih sedikit menjadi penting. Itu agar tidak menular ke tanaman di sampingnya terutama pada kebun dengan jarak tanam padat. Serangan pada 2011 itu adalah pertama dan terakhir bagi Widaryanto. Setelah memupuk rutin dan mengaplikasikan pestisida sesuai kebutuhan, ia tak pernah mengalami serangan P. marginatus lagi. (Sinta Herian Pawestri)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software