Pendatang Baru Bernama Babul Hitam

Filed in Tanaman hias by on 01/01/2010 0 Comments

Sosok arabica peserta Pameran Nasional Bonsai Pamekasan, Madura, pada 2008 itu memikat I Putu HamirtHa, dari Jembrana, Bali. Putu rela merogoh Rp35- juta demi memboyong arabica ke Pulau Dewata.

Dua tahun belakangan nama Acacia arabica tengah mencorong di kalangan pebonsai tanahair. Maklum, babul—julukan arabica—menorehkan prestasi luar biasa. Bendera merah tak hanya tertancap di Pamekasan, tapi juga pada kontes di Jombang dan Ponorogo, Jawa Timur. Di Jombang babul koleksi Lilik Sariyanto (Ponorogo) mendapat bendera merah di kelas madya. Sementara di Ponorogo, tanda kualitas baik sekali itu tertancap pada babul milik Soelistio Sidhi (Surabaya).

Kehadiran arabica mengekor jejak Acacia farnesiana alias pung, genus acacia yang mulai dikenal pebonsai pada era 85-an. Pung pun digandrungi karena berdaun kecil. Daun mini terlihat proporsional dengan ukuran bonsai yang kecil dan pendek. “Jadi benar-benar seperti miniatur pohon raksasa di alam,” kata Budi Sulistyo, pemain bonsai di Jakarta.

Karakter berdaun mini juga yang membuat asam jawa Tamarindus indica, santigi Pemphis acidula, cemara udang Casuarina equisetifolia, dan sapu-sapu Baeckea frutescens jadi favorit pebonsai.

Pung banyak diburu para kolektor pada era 90-an. Saat itulah Acacia arabica yang mirip pung ditemukan. “Bedanya arabica berbatang hitam, sementara pung berbatang putih hingga kuning. Tekstur arabica juga kasar sehingga lebih garang,” tutur Supriyanto, pebonsai di Ponorogo. Makanya arabica sempat dijuluki sebagai pung hitam. Daun arabica unik karena menutup pada malam hari seperti daun asam atau putri malu Mimosa pudica bila disentuh.

Prestasi perdana arabica tercatat pada 1996. Ketika itu pada pameran di Jakarta babul koleksi Ir Hermanto (Ponorogo) meraih bendera merah. Sejak itu kolektor di Kota Reog demam membonsai arabica. Sayang, masa pembentukan lama sehingga babul tak serta-merta marak terlihat di arena kontes. “Baru 2 tahun terakhir muncul lagi di pameran sehingga diburu hobiis,” kata Supriyanto.

Afrika

Sejatinya arabica bukan tanaman asli Nusantara. Dr RH MJ Lemmens, ahli taksonomi dari Fakultas Pertanian Universitas Wageningen, Belanda, mencatat dalam Prosea Plant Resources of South East Asia 3 Dye and Tannin Producing Plants. Pung hitam berasal dari daerah tropis Afrika, mulai dari Mesir bagian selatan hingga Mozambik dan Natal. Penyebarannya lalu meluas ke Asia Barat dan Tenggara seperti Sri Lanka, Birma, dan Indonesia. Tak ada catatan pemanfaatan acacia sebagai bahan bonsai di pusat bonsai di Asia Timur seperti Taiwan dan Jepang. “Hanya pebonsai dari Afrika yang biasa menggunakan acacia sebagai bonsai,” tutur Budi.

Menurut Djufri, pengajar di Program Studi Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, A. nilotica—sinonim A. arabica—diimpor ke Indonesia oleh Belanda pada 1850 untuk diambil getahnya sebagai tanaman perkebunan. Getahnya mengandung tanin yang dipakai pada penyamakan kulit. Ia lantas ditanam di Bogor, Jawa Barat. Sayang, 40 tahun kemudian babul ditebang besar-besaran karena produksi getah rendah. Tak ada yang tahu pasti arabica lalu tumbuh meluas di Ponorogo dan Situbondo, Jawa Timur.

Menurut Supriyanto, sumber arabica di alam Jawa Timur sangat melimpah. “Penyemaian dari biji juga cepat karena babul tergolong bandel,” katanya. Riset Djufri menyebutkan Taman Nasional Baluran, Situbondo, Jawa Timur, kewalahan mengenyahkan nilotica dari hamparan savanna. Babul dianggap gulma karena populasinya menekan pertumbuhan rumput yang menjadi pakan banteng, rusa, kijang, dan kerbau liar.

Maka, menurut Budi, meski bukan tanaman asli Indonesia, arabica sah-sah saja dikembangkan menjadi bonsai khas tanahair mendampingi santigi, cemara udang, dan wahong. “Negara lain belum ada yang mengembangkan, mengapa Indonesia tidak memulai? Apalagi di sini dianggap gulma sehingga pengambilan dari alam tidak merusak,” katanya. Dengan polesan tepat gulma itu jadi bonsai bernilai puluhan juta rupiah seperti yang dibeli Putu Hamirtha. (Destika Cahyana/Peliput: Ari Chaidir)

< Koleksi Budi Sulistyo, pernah disebut sebagai pung hitam

Koleksi Soelistio Sidhi, raih bendera merah di Ponorogo

Pung A. farnesiana koleksi Budi Sulistyo, genus

Acacia yang lebih dulu populer pada era 85-an

> Koleksi Supriyanto, batang keras dan kuat meski

ditampilkan dengan kulit batang yang terkelupas

Arabica di alam, dianggap gulma karena

menekan tanaman setempat di Situbondo, Jawa Timur

Foto-foto: Budi Sulistyo & Supriyanto

 

 

Powered by WishList Member - Membership Software