Pemulihan Kaki Merapi

Filed in Buah by on 31/12/2010 0 Comments

 

Gunung Merapi, abu yang dikeluarkan gunung berapi mengandung 21 mineral tetapi diselimuti asam klorida dan asam sulfatSorgum, menjadi alternatif tanaman perintis karena mudah tumbuh. Daun untuk pakan ternak dan biji untuk pangan manusiaPolemik abu Merapi pun bermunculan. Satu ahli dari institusi terkenal menyebut lahan yang terkubur dapat kembali ditanami 2 – 3 minggu pascaletusan. Pakar lain mengatakan butuh waktu 2 – 3 tahun untuk memulihkan lahan. Bahkan ada yang lebih ekstrim. Butuh 10 hingga puluhan tahun agar hara yang terkandung dapat diserap tanaman.

Sejatinya semua yang dikatakan ahli itu benar. Pemulihan lahan akibat letusan gunung berapi lamanya bervariasi mulai seminggu hingga puluhan tahun, tergantung ketebalan abu dan bahan vulkanik. Tindakan pemulihan agar usaha petani pulih dan hara yang terkandung dapat diserap tanaman pun berbeda tergantung ketebalan. Maka yang mendesak untuk pemulihan lahan pertanian di kaki Merapi ialah memetakan lahan sesuai ketebalan abu.

Berdasarkan pengaruhnya terhadap lahan, ketebalan abu dibedakan menjadi kurang dari 5 mm, 5 – 25 mm, 25 – 150 mm, dan di atas 150 mm. Pada tanah yang diselimuti abu kurang dari 5 mm vegetasi akan pulih dalam hitungan minggu. Abu pun menyatu dengan tanah dalam 1 tahun. Lahan tidak perlu direhabilitasi. Sebaliknya lahan yang tertimbun abu lebih dari 5 mm perlu tindakan rehabilitasi. Atau tidak direhabilitasi sama sekali. Kenapa?

Kaya silika

Riset di berbagai negara seperti Indonesia, Guatemala, Costarica, New Zealand, dan Amerika melaporkan abu vulkanik mengandung 21 mineral terutama silika. Sayang, butiran abu dilapisi asam sulfat dan asam klorida sehingga merusak daun di tajuk tanaman. Perakaran tanaman pun terganggu. Tanah yang tertimbun abu yang tebalnya di atas 150 mm menjadi miskin oksigen dan air sehingga akar mati.

Abu vulkanik yang jelas-jelas kaya hara pun tak dapat diserap tanaman. Secara fisik ukuran abu vulkanik masih berupa agregat (kesatuan butiran, red) yang keras. Sementara secara kimia, mineral yang terkandung masih dalam bentuk senyawa komplek. Sebaliknya tanaman menyerap hara dalam bentuk kation dan anion sederhana. Pun secara biologi abu vulkanik miskin organisme. Padahal pematangan tanah membutuhkan organisme untuk mengurai senyawa komplek.

Maka tindakan pertama untuk mempercepat pematangan tanah ialah membalik dan menyatukan tanah dengan abu agar sirkulasi oksigen dan peresapan air pulih. Berikutnya menambahkan bahan organik sebanyak mungkin dan menanam tanaman yang cepat menghasilkan biomassa. Sebut saja tanaman dari keluarga Graminae (padi-padian) dan leguminosa (kacang-kacangan). Secara fisik pencampuran bahan organik dan pertumbuhan akar tanaman berbiomassa tinggi dapat memecah agregat butiran abu vulkanik menjadi gembur.

Agar lebih efektif, ekstrak bahan organik seperti pemberian asam humik dapat dilakukan. Bahan organik terbaik sebaiknya berasal pupuk kandang hewan ruminansia. Itu karena hewan ruminansia memiliki lambung yang di dalamnya kaya mikroorganisme pengurai yang terbawa hingga ke feses. Diharapkan salah satu mikroorganisme pengurai itu ada yang mampu mempercepat pemecahan senyawa komplek abu menjadi bentuk sederhana yang dapat diserap tanaman.

Pilihan tanaman dengan biomassa tinggi pun perlu berbagai pertimbangan. Bila tersedia, benih rumput-rumputan dapat segera disebarkan karena mudah tumbuh dan penanaman gampang, hanya disebarkan. Pertimbangan lain ialah tanaman yang bermanfaat untuk pakan ternak dan pangan manusia. Contohnya shorgum. Daunnya cocok untuk ternak, sementara bijinya untuk manusia.

Pemulihan

Semua prinsip itu diaplikasikan berbeda sesuai dengan ketebalan abu vulkanik yang menutupi tanah. Pada tanah yang ditimbun abu setebal 5 – 25 mm pemulihan cukup dengan membajak tanah sekaligus menambah pupuk kandang agar abu bercampur dengan pupuk kandang. Lahan sudah bisa dipakai untuk budidaya tanaman komersial dengan sedikit penambahan pupuk P dan dolomit karena abu vulkanik miskin fosfor dan asam.

Abu yang lebih tebal 25 – 100 mm membutuhkan pemulihan yang lebih lama. Pembajakan tanah dan penambahan organik dilakukan untuk menanam tanaman perintis seperti rumput. Budidaya tanaman komersial baru dapat dilakukan setelah budidaya penutup tanah 1 tahun.

Yang agak sulit ialah abu yang tebalnya 100 – 300 mm. Perlu dilakukan pemindahan abu hingga ketebalan hanya 100 mm dan melakukan rehabilitasi seperti cara sebelumnya. Sementara abu dapat dipindahkan untuk menyuburkan tanah di daerah lain dengan cara mencampurnya. Tanpa relokasi dan rehabilitasi dibutuhkan waktu 25 tahun agar tanah bisa ditanami tanaman komersial.

Berikutnya abu yang tebalnya di atas 300 mm. Rehabilitasi menjadi lahan pertanian komersial sangat mahal. Diduga lahan baru pulih 40 tahun kemudian. Alternatif terakhir untuk abu yang sangat tebal ini ialah menyebarkan benih rumput dan membiarkannya menjadi hutan.

Oksigen dan air

Tindakan mekanis lain yang perlu dilakukan ialah membuat parit dan guludan agar air dapat meresap ke dalam tanah dan sirkulasi udara lancar. Arah parit yang tepat dibuat memotong lereng. Pengamatan di kaki Merapi sebulan pascaerupsi membuktikan, tanaman – seperti bambu dan rumput – yang tumbuh di lereng tebing tetap bertahan hidup karena akar mendapat air dan udara yang cukup.

Pun pengamatan di kaki gunung berapi lain. Setahun pascaletusan lahan yang tertimbun abu hingga 1 m nyaris tak ditumbuhi tanaman apa pun. Namun, ketika terjadi parit secara alami karena rekahan, maka dalam waktu setahun tanaman perintis seperti rumput tumbuh dengan sendirinya di dasar dan tepi parit.

Sementara untuk tanaman hortikultura komersial seperti salak atau buah naga, pemulihan dapat dilakukan pula di tajuk tanaman. Caranya dengan rejuvenasi alias mempercepat keluarnya tunas-tunas baru. Yang termudah ialah melakukan pembersihan tajuk dari abu dan pemangkasan. Pemangkasan dapat dilakukan dengan memilih tanaman bernilai ekonomi tinggi seperti salak. (Sobir PhD, kepala Pusat Kajian Buah Tropika, IPB, Bogor)

 

Powered by WishList Member - Membership Software