Pemetik Wangi Gaharu

Filed in Perkebunan by on 01/03/2009 0 Comments

 

Pekebun di Desa Nangatayap, Kecamatan Nangatayap, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, itu tidak ingat jumlah produksi gaharu kamedangan dari pohon-pohon yang dipanennya. Yang Syamhuddin ingat, dari 3 pohon karas itu pada September 2007, ia memperoleh Rp11-juta. Pada 10 tahun lalu ia lukai sendiri tanaman itu dengan cara dibacok, dipantek kayu ulin, sampai ditaruh bongkahan gula merah agar muncul gubal. Syamhuddin bersukacita karena ia nyaris tak mengeluarkan biaya sepeser pun untuk merawat pohon-pohon karas itu hingga panen.

Syamhuddin masih memiliki 397 pohon gaharu lain di kebun karet seluas 12 hektar. Umurnya rata-rata 15 tahun dengan tinggi 8-10 m dan berdiameter 25-30 cm. Enambelas pohon di antaranya sudah dilukai dengan membenamkan 30-40 pasak kayu ulin sepanjang 40 cm pada tiap-tiap pohon. Cara itu dikombinasikan dengan memahat 12 lubang di setiap pohon selebar 6 cm sedalam 10 cm. Lubang disumpal akar pohon anggrek dan potongan gula merah serta ditutup tanah liat.

Inokulasi cendawan

Sejak 2006 cara tradisional itu ditinggalkan Syam. Itu atas saran kerabatnya yang bergaul dengan peneliti kehutanan dari Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Barat. Enam puluh pohon berumur 8-14 tahun pun diinokulasi cendawan fusarium.

Pada Desember 2008 saat ditoreh sebagian kulit batangnya, pohon-pohon itu mulai membentuk gubal. Seorang penampung menyodorkan harga Rp2-juta per pohon. Syamhuddin menolak dan memilih memperpanjang masa inokulasi sampai batas waktu yang tak bisa ditentukan. Pria keturunan raja Tanjungpura itu berharap dapat memanen gubal lebih banyak lagi.

Syam mengenal gaharu sudah lama, 16 tahun lalu. Ia yang mempelopori penanaman gaharu di desanya. Saat itu, ‘Orang banyak mencibir menanam gaharu itu buang-buang waktu dan tenaga,’ katanya. Untungnya sang paman, H Suhardi, terus mendukung. Ia pula yang ikut membantu menanam 400 pohon aquilaria di sela-sela tanaman karet. Total jenderal kini ada sekitar 13.000 pohon karas berumur 1-16 tahun.

Tak hanya menanam, Syam getol membibitkan. Sejak 2004 di bawah bendera CV Tri Kayong Putri, kakek tiga cucu itu sudah memproduksi 200.000 bibit. Bibit itu dijual rata-rata Rp5.000-Rp10.000. Dari tata niaga bibit itu Syam mampu menunaikan ibadah haji pada 2007. ‘Saya sampai diberi gelar haji gaharu,’ tuturnya.

Sebagai kepala desa Syam pun mewajibkan setiap warga yang hendak menikah menanam 100 bibit gaharu. Pun peristiwa kelahiran harus diikuti penanaman gaharu dengan jumlah serupa. ‘Ini sebagai tabungan warga, saat muda menanam ketika tua menuai hasilnya,’ kata peraih penghargaan 25 kepala desa terbaik bidang penghijauan se-Indonesia itu.

Visi

Nun di Bohorok, Sumatera Utara, H Mahmuddin Sany, mencecap untung dari panen sebatang gaharu Aquilaria malaccensis. Pohon alim-sebutan gaharu di Sumatera Utara-berdiameter 15 cm dan tinggi 5 m itu diinokulasi cendawan fusarium pada September 2006. Berselang 8 bulan, Sany memetik 4,5 kg gaharu kualitas kemedangan dari pohon itu. Dengan harga jual Rp400.000/kg, ia meraup Rp1,6-juta.

Keputusan pria kelahiran Blangkejeren, Gayoleus, Aceh Tenggara, itu mengebunkan gaharu bermula dari artikel mengenai potensi ekonomi gaharu di majalah pertanian. Ia membeli sebatang bibit gaharu Rp20.000. Pohon itu ditanam di pekarangan rumah. Sebulan berselang 20 batang bibit gaharu asal perburuan di hutan memasuki pekarangannya lagi. Mereka ditanam dengan jarak 2 m x 3 m.

Pada 2005, Sany memperluas penanamannya. Ia menumpangsarikan 800 pohon gaharu dengan tanaman salak di lahan seluas 6.000 m2. Sany melakukan itu karena dari literatur yang dibacanya bibit gaharu merupakan tanaman semitoleran yang butuh naungan untuk tumbuh.

Tahun berganti, jumlah pohon gaharu pria kelahiran 14 Agustus 1946 itu sudah tak mampu dihitung dengan jari. Menginjak 2007 luas penanaman gaharu yang ditumpangsarikan dengan karet dan kelapa sawit menjadi 10 ha. Jarak tanam yang digunakan bervariasi, 2 m x 5 m dan 2 m x 8 m. Di sana tak kurang 11.000 pohon telah ditanam. Pada 2008 area penanaman mencapai 15 ha dengan populasi mencapai 15.000 pohon. Sebuah koperasi dengan nama Gaharu Aroma Perdana pun didirikan untuk mewadahi pekebun gaharu yang menjadi mitranya.

Kesuksesan Sany tak mudah diperoleh. Kegagalan inokulasi pernah dirasakannya. Pada 2005 ayah 6 anak itu menginokulasi satu pohon. Sayang, setelah 6 bulan pohon itu mati. Setelah diusut, penyebabnya inokulan itu telah melewati masa aktif. Cendawan mempunyai masa aktif 3 pekan, tetapi Sany baru menggunakannya setelah 3 bulan. Bukan hanya itu, alat insersi yang tidak bersih sering membuat kontaminasi sehingga gubal gagal terbentuk.

Sany memandang gaharu potensial dipakai sebagai penghijauan dan bernilai ekonomis tinggi. Tak heran di setiap kesempatan pria ramah itu mengkampanyekan pentingnya penanaman gaharu. Kepeduliannya berbuah berkah. Pada temu petani gaharu di Pusat Bina Penyuluhan Kehutanan, Departemen Kehutanan, ia didapuk menjadi ketua APGARIN, Asosiasi Petani Gaharu Indonesia. Sany meyakini filosofi dalam menanam gaharu, ‘Hal besar dimulai dari hal kecil, tapi lakukanlah hal kecil itu dengan semangat besar,’ tuturnya. Itulah semangat para pemetik wangi gaharu. (Faiz Yajri)

 

Powered by WishList Member - Membership Software