Pemetik Laba Jati Genjah

Filed in Fokus by on 30/06/2011

 

Ketika itu Endang yang tinggal di Desa Cikoneng, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menanam 530 bibit jati genjah arthamas. Pada umur 7 tahun lingkar batang seukuran tiang listrik berdiameter 15 – 27 cm. ‘Diameter rata-rata 20 cm,’ tutur Endang. Ia menjual hasil panen langsung di kebun kepada seorang pengepul kayu dengan harga Rp2,3-juta/m3.

Jika dibandingkan dengan harga jati lokal yang rata-rata Rp5,8-juta/m3, nilai itu memang lebih kecil. Namun, jika diperhitungkan penghematan waktu panen, maka jati genjah jelas lebih unggul. Pekebun jati lokal rata-rata memanen pada umur minimal 20 tahun, jati genjah mulai dapat dipanen pada umur 7 tahun. ‘Kualitasnya akan lebih bagus jika jati genjah sudah berumur 10 – 15 tahun. Tapi pada umur 7 tahun pun sudah laku dijual,’ tutur Endang.

Marak

Selain Endang, pekebun lain yang menikmati gurihnya menanam jati genjah antara lain Pandi, juga asal Sukamakmur. Ia menanam 110 batang jati di lahan 500 m2 pada 2004. Sayang, tanaman dibiarkan tumbuh begitu saja tanpa perawatan berarti. Akibatnya, Pandi baru dapat memanen 7 pohon pada Mei 2011.

Ketujuh tanaman itu tumbuh dekat kandang kambing sehingga kemungkinan dapat menyerap hara dari pupuk kandang. Pertumbuhan tanaman pun pesat hingga diameter pohon mencapai 30 cm.

Menurut Santi Mia Sipan, direktur PT Jaty Arthamas di Slipi, Jakarta Barat, penanaman jati genjah kian marak. Indikasinya penjualan bibit terus meningkat dari tahun ke tahun. Tahun ini, misalnya, penjualan bibit jati arthamas rata-rata 10.000 – 20.000 bibit per bulan atau naik 20% dibanding tahun lalu.

Hal serupa juga dialami Ostrafarm di Jakarta Selatan. ‘Sejak 3 tahun silam, permintaan meningkat rata-rata 20% per tahun,’ ujar Edward Ostra, direktur PT Tunas Agro Lestari, produsen bibit jati jumbo ostrafarm. Meski sudah memasarkan bibit jati ke seluruh Indonesia, permintaan masih didominasi dari seputaran Jawa, yang mencapai 60%. Edward menyarankan jarak tanam 4 m x 4 m atau populasi 600 pohon per ha untuk menghindari perebutan hara saat jati berumur 6 tahun lebih.

Di Jawa Barat, Sukamakmur kini menjadi sentra jati baru yang dikembangkan PT Jaty Arthamas. Semula hanya Endang yang menanam jati genjah di daerah sentra ubikayu dan albasia itu. Kini mulai bermunculan pekebun jati lain. ‘Total luas area penanaman jati saat ini mencapai 200 ha lebih,’ ujarnya. Maraknya penanaman itu antara lain dipicu oleh adanya pekebun yang sukses memanen jati.

Menurut Edward tingginya minat mengebunkan jati juga dipicu naiknya tarif listrik, air maupun pajak, dan transportasi. Dalam berinvestasi, masyarakat berusaha menghindari biaya-biaya yang makin membengkak. ‘Akibatnya mereka mulai melirik sektor agribisnis jangka panjang seperti mengebunkan jati yang tak banyak menyedot anggaran serupa,’ ujarnya.

Selama ini pekebun seringkali ragu menanam lantaran modal awal penanaman relatif besar ketimbang menanam jati lokal. Pembengkakan biaya terutama karena harga bibit yang relatif mahal mencapai Rp20.000/tanaman. Sementara jati lokal hanya Rp2.000. Toh jika dihitung-hitung penghematan waktu dan total hasil yang diperoleh, menanam jati genjah justru lebih menguntungkan.

Paket

Tingginya minat masyarakat untuk menanam anggota famili Verbenaceae itu mendorong beberapa produsen bibit menawarkan paket-paket berkebun jati. Tujuannya untuk mempermudah calon pekebun yang kesulitan mencari lokasi maupun tenaga penggarap. Paket-paket itu antara lain paket lahan dengan hak kepemilikan kebun bagi investor, paket reklamasi lahan, serta paket bagi hasil.

‘Awalnya kami hanya menjual bibit, tetapi karena ada saran dari beberapa calon pembeli yang kesulitan mencari tanah untuk penanaman, kami pun terpikir untuk menawarkan paket lahan lengkap,’ tutur Santi. Paket lahan itu sudah termasuk bibit dan petani penggarap dengan hak kepemilikan lahan bagi investor. Jika modal yang dimiliki kecil, paket kepemilikan lahan skala 1.000 m² dapat menjadi pilihan.

Donda adalah salah satu yang tertarik mengebunkan 5 ha jati hasil pembelian paket kepemilikan lahan pada 2008. Sebelumnya, pemilik usaha garmen di Jakarta Barat itu belum pernah terjun ke dunia perkebunan. ‘Saya tertarik karena investasinya tergolong murah dan kita mendapatkan banyak manfaat antara lain tanah beserta hasil kebunnya,’ kata Donda.

Donda juga dapat menikmati hasil kebun lain dari tumpangsari dengan jati yaitu pisang, mentimun, dan ubijalar. Tiap bulan ia hanya perlu merogoh Rp700.000 untuk biaya pemeliharaan kebun. Donda berharap jati genjah menjadi pilihan investasi tepat, dalam waktu yang lebih cepat. (Tri Susanti)

 

Powered by WishList Member - Membership Software