Pembuat Gelembung dari Alam

Filed in Ikan hias by on 05/10/2010 0 Comments

Cupang sepanjang 5 cm hasil tangkaran Hermanus dari induk asal Kalimantan Barat itu memang menggoda Chok Peng Dit, kolektor. Sosok brownorum kecil, gesit, dan coraknya menarik: merah marun. Penampilan kian istimewa dengan pola biru langit di tengah tubuhnya. Nah, selain brownorum yang masuk di kelas bubble nester, Chok Peng Dit juga memboyong cupang alam lain asal tanahair seperti Betta bellica, B. patoti, B. unimacullata, dan B. compuncta.

Chok getol mengumpulkan cupang alam sejak setahun silam lantaran coraknya menarik dan belum banyak yang mengoleksi. Ia pun tak membuang kesempatan memiliki cupang alam terutama kategori bubble nester ketika mengikuti kontes yang menghadirkan beberapa pemain Indonesia. ‘Sekitar 70% cupang alam di dunia berada di Indonesia. Salah satunya brownorum.’ kata Hermanus.

Bubblenester

Brownorum merupakan salah satu cupang alam tipe small bubble nester. Tipe seperti itu memiliki panjang maksimal 5 cm. Sebutan bubblenester melekat lantaran telur-telur diletakkan di sarang busa yang dibuat oleh sang jantan. Sifatnya pun seperti cupang alam lain, pemalu dan senang bersembunyi. Itu lantaran di habitat aslinya brownorum hidup pada kondisi air gelap yang tertutup serasah daun dengan suhu air rendah sekitar 21 – 23oC serta pH asam.

Oleh karenanya, Tan Iwan, hobiis di Jakarta yang baru merawat brownorum 6 bulan silam, menaruhnya dalam akuarium yang disulap mirip habitat asli serta diberi tambahan daun ketapang Terminalia catappa dan pipa PVC. ‘Daun ketapang menciptakan kualitas air sesuai habitat di alam,’ ujar alumnus Bina Nusantara itu. Selain itu, daun ketapang mengandung tanin yang bersifat seperti antibakteri sehingga membuat ikan prima. Pipa PVC sebagai tempat brownorum membuat gelembung dan meletakkan telurnya di sana.

Menurut Andree Gunawan, hobiis di Bogor, Jawa Barat, cupang tipe bubblenester sebenarnya sudah dikenal sejak 1980-an. Namun, di tanahair baru dikenal 3 tahun silam seiring munculnya kontes wild betta. ‘Yang banyak turun saat itu cupang alam di atas 5 cm,’ kata pemilik Fantasy Aquatic itu. Contohnya seperti bellica yang panjangnya 10 cm dan smaragdina sekitar 7 cm.

Tipe small bubblenester muncul belakangan lantaran di alam sulit didapat, juga tidak mudah dibudidayakan. ‘Cupang ini sensitif alias mudah stres,’ tambah Andree. Selain brownorum, Andree juga memiliki bubblenester lain seperti B. uberis dan B. rutilans yang masing-masing diperoleh dari Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Uberis istimewa lantaran ekornya berwarna cokelat dengan semburat biru kehijauan. Sementara rutilans bercorak merah dengan panjang tubuh maksimal 3,5 cm.

Langka

Tipe small bubblenester lain yang tak kalah cantik adalah B. burdigala, B. coccina, B. persephone, dan B. wajok sp. Yang disebut pertama merupakan cupang alam asal Bangka. Di habitat, cupang sepanjang 2,5 cm itu hidup di air berwarna cokelat seperti warna teh. Jantan burdigala sisinya berwarna hijau terang dan sirip perut besar; betina cenderung merah dengan kantong telur.

Menurut Hermanus B. coccina banyak terdapat di Jambi. Cupang yang berarti anggur merah itu hidup di rawa gambut dengan kondisi pH antara 4 – 6 dan suhu 24 – 27oC. Suhu air lebih rendah ketimbang habitat B. smaragdina dan B. splendens karena genangan air tempat coccina hidup dikelilingi oleh pohon besar.

Jantan coccina bisa mencapai panjang 5 cm dan betina ukurannya jauh lebih kecil. Jantan berwarna cokelat merah dengan 2 garis horizontal cokelat terang dari mata hingga ekor. Ketika masih muda, jantan coccina memiliki totol biru terang di sisinya dan perlahan hilang seiring bertambahnya umur. Betina memiliki warna yang lebih redup ketimbang jantan.

Menurut Edo Susanto, hobiis di Probolinggo, Jawa Timur, B. persephone merupakan bubblenester yang tergolong langka. Maklum, cupang sepanjang 3 cm itu masuk dalam daftar IUCN Red List of Threatened Species dengan status kritis. Pantas sejak 3 bulan silam alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Malang itu mencoba untuk memijahkan bubblenester endemik Malaysia itu.

Edo juga memijahkan B. wajok sp – jenis baru asal Kalimantan Barat. ‘Ia menarik karena berwarna merah pekat,’ kata Edo yang menangkarkan cupang sepanjang 3 cm itu lantaran jumlahnya terbatas seperti brownorum. (Rosy Nur Apriyanti/Peliput: Ratu Annisa)

 

Powered by WishList Member - Membership Software