Peluang Minyak Bayi

Filed in Perkebunan by on 01/05/2010 0 Comments

Sepulang ke rumah, Sangidin, kepala sekolah SD Kotawaru, Cilacap Tengah, Jawa Tengah, berganti profesi. Ia menyuling 2 ton daun kayuputih sehari. Dengan rendemen 0,5 – 0,6% pada musim hujan dan 0,8 – 0,9% musim kemarau, ia memperoleh 12 kg minyak kayuputih per proses penyulingan selama 6 jam. “Saya menjual 300 kg minyak per bulan, sebagian besar untuk memenuhi kontrak 1.000 kg per tahun. Permintaan yang belum terlayani 2 – 3 kali lipat,” kata Sangidin.

Bermodal biaya produksi Rp55.000 per kg, Sangidin memperoleh Rp27-juta setelah menjual minyak seharga Rp90.000 per kg. Sebelumnya ia hanya menjual daun kayuputih kepada penyuling di kecamatan lain. Lama-lama ia berpikir, “Masa jadi pengepul terus?” kata Sangidin. Menurut Muhammad Chandra, manajer umum bagian industri PT Perhutani III, penyulingan kayuputih di luar pabrik Perhutani memang marak. “Selama ini dianggap tataniaga kayuputih dikuasai Perhutani. Padahal tidak,” kata Chandra. Itu lebih disebabkan luasnya lahan Perhutani sehingga otomatis penanaman pun terbanyak.

Kewalahan

Perhutani kewalahan melayani permintaan minyak kayuputih yang terus naik. Chandra menyebut permintaan ke Perhutani III mencapai 100 ton sepanjang 2008. “Yang dapat dipenuhi baru 70%,” kata Chandra. Pasokan 70% itu dipenuhi dari 5 pabrik yang tersebar di 3 kesatuan pemangkuan hutan (KPH): Indramayu, Kuningan, dan Sukabumi dengan luas total 10.000 ha. Dengan pertimbangan itu Perhutani mengundang swasta untuk bekerja sama.

Selain pasar domestik, pasar mancanegara juga menyerap minyak kayuputih. Chandra Lesmana, penyuling dan pengepul di Meruya, Jakarta Barat, sejak 1985 mengekspor minyak kayuputih ke Singapura, Taiwan, Hongkong, dan Malaysia. “Tiap tahun permintaan naik 5 – 10%. Sebanyak 60 – 70% permintaan dari dalam negeri,” kata Lesmana. Pada 2008 volume ekspor ke Singapura mencapai 1 kontainer 40 feet setara 15 ton minyak per 2 – 3 bulan. Pengiriman ke Taiwan dan Hongkong masing-masing 2 kontainer. Sedangkan ke Malaysia hanya 4 – 6 bulan sekali.

Ia memperoleh minyak kayuputih dari penyulingan di Halmahera, Provinsi Maluku. Bila kekurangan pasokan, ia membeli daun dari pekebun sekitar. Ia mengelola lahan seluas 185 ha dengan jarak tanam 10 m x 15 m. Menurut Suwandi, manajer pemasaran PT Djasula Wangi, eksportir minyak asiri, pasar minyak kayuputih sebetulnya terbuka. Itu karena perusahaan farmasi yang selama ini dipasok Perhutani masih kekurangan minyak. “Selama masih ada bayi lahir permintaan kayuputih bakal cenderung naik,” tutur Suwandi.

Penghangat

Minyak kayuputih hasil penyulingan daun kayuputih Melaleuca cajuputi. Saat kebutuhan nasional mencapai 1.500 ton pada 2009, produksi nasional ajek pada angka 300 ton. Sayang, kekurangan itu tidak serta-merta bisa ditambal dengan impor. Sebab, hanya ada 2 negara produsen minyak kayuputih dengan jumlah produksi tercatat: Indonesia dan Vietnam. Produksi Vietnam cuma 200 ton setahun, jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan Indonesia.

Untuk memenuhi kebutuhan itu produsen mencampurkan minyak eukaliptus  – asal pohon Eucalyptus sp – yang didatangkan dari Australia dan India. Kadar sineol minyak eukaliptus 70 – 75%, lebih tinggi ketimbang minyak kayuputih yang hanya 60 – 65%. “Sifat sineol seperti kamfor, menimbulkan efek hangat di kulit,” kata Dr A nto Rimbawanto, peneliti di Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (B2PBPTH) Depatemen Kehutanan, Sleman, Yogyakarta. Namun, zat seskuiterpen beraroma khas hanya dipunyai kayuputih sehingga minyak eukaliptus tidak populer.

Nun di Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, tumbuh lebih dari 4.200 ha kayuputih. Bibit pohon Melaleuca cajuputi yang tumbuh sejak 1959 itu dari Ambon. Luasan sebesar itu – 80% total luas hutan di Gunungkidul – menghasilkan 10.000 – 15.000 ton daun segar per tahun setara 50 – 150 ton minyak.  Sayang, kebanyakan tanaman dibiarkan telantar tanpa perawatan memadai.

Kurangnya perawatan bukan hanya menyebabkan minimnya daun yang dihasilkan. Penyulingan daun pun hanya menghasilkan sedikit minyak, kurang dari 1%. Kendala lain, panen daun tidak bisa dilakukan sepanjang tahun. Musababnya, hujan membuat tanah becek sehingga truk pengangkut tidak bisa masuk terlalu jauh ke lahan. Hujan juga mengakibatkan kadar air daun melonjak sehingga rendemen tinggal 0,5 – 0,6%. Idealnya rendemen berkisar 0,7 – 1%.

Oleh karena itu panen daun hanya dilakukan saat kemarau. “Tahun lalu panen hanya berlangsung 8 bulan,” kata Ir Ahmad Dawam, Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pabrik tua

Pabrik pengolahan yang sudah tua turut andil terhadap rendahnya produksi. Salah satu pabrik kayuputih di Gunungkidul, PT Sendangmole, berkapasitas 2,5 ton daun per proses, didirikan pada 1970. Setelah hampir 40 tahun beroperasi, komponen seperti pipa, boiler, serta tabung suling, mulai rusak dan membahayakan karyawan. Penggantian komponen rusak pun tidak efisien lantaran kerusakan terjadi bergantian antarkomponen.

Makanya pada 2009, produksi oleum cajuputi di Gunungkidul hanya mencapai 36 ton. Padahal, “Minyak kayuputih menduduki peringkat kedua dalam pendapatan asli provinsi,” kata Sri Paku Alam VIII, wakil gubernur Yogyakarta. Pada 2009, produksi minyak kayuputih menyumbang pundi-pundi pemerintah provinsi sebesar Rp4,05-miliar.

Potensi minyak kayuputih yang belum tergarap sangat besar. Pemerintah Yogyakarta mengucurkan dana Rp7-miliar untuk pembangunan pabrik baru. Dana itu mewujud menjadi instalasi pengolahan berteknologi teranyar dengan kapasitas 6-ton daun segar per proses di Sendangmole. Pabrik baru dengan 3 tabung destilasi – masing-masing berkapasitas 2 ton – itu bisa menghasilkan hingga 50 l minyak setiap proses selama 6 jam.

Instalasi baru itu menggunakan tekanan uap lebih tinggi, hingga 7 atmosfer; instalasi lama, 5 atmosfer. Boiler itu juga mampu mencapai tekanan 7 atmosfer dalam 45 menit, sedangkan boiler lama yang dibuat pada 1970 perlu 4 jam untuk menghasilkan uap bertekanan 5 atmosfer. Boiler yang didatangkan dari Jerman itu beroperasi tanpa bahan bakar minyak. Daun yang sudah disuling dibakar sebagai sumber panas. Setiap proses memerlukan 1 – 1,2 ton daun kering.

Dengan masa panen daun 8 bulan, pabrik anyar itu diharapkan mampu menghasilkan 38 ton atau setara 34.200 liter minyak kayuputih per tahun. Kalau harga minyak kayuputih di pasaran Rp100.000 per liter, berarti dalam setahun Dinas Kehutanan dan Perkebunan meraup omzet Rp3,42-miliar hanya dari pabrik Sendangmole. Itu belum menghitung produksi 4 pabrik lain di Gelaran di Gunungkidul, Sermo di Kulonprogo, serta Kediwung dan Dlingo di Bantul.

Dibandingkan minyak asiri jenis lain, minyak kayuputih harganya paling murah. Meski demikian, kayuputih berperan menghijaukan kembali Gunungkidul. Perawatan dan teknologi pemrosesan tepat bisa menghasilkan hasil optimal. Apalagi harga jual minyak kayuputih terus naik. Pada 2007, harga jual di tingkat penyuling Rp95.000 – Rp100.000; 2008 menjadi Rp110.000 per kg. (Argohartono Arie Raharjo/Peliput: Destika Cahyana)

 

 

  1. Kayuputih hijaukan Gunungkidul
  2. Wakil gubernur DIY Sri Paku Alam VIII meresmikan pabrik Sendangmole.
  3. Tabung suling berkapasitas masing-masing 2 ton daun.
  4. Tungku berbahan bakar serasah sisa penyulingan
 

Powered by WishList Member - Membership Software