Peluang Baru: Bisnis Beras Organik

Filed in Topik by on 01/12/2009 0 Comments

Produktivitas 10 ton per ha itu spektakuler! Bandingkan dengan produktivitas rata-rata sawah di Indonesia: 5 ton per ha. Dr Ir Ida Hodiyah, dekan Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi, mengatakan produksi padi membubung antara lain karena terjadi perbaikan sifat fisika, kimia, dan biologi tanah. Akar padi tumbuh bagus, lurus, dan panjang 20 cm atau 2 kali panjang akar padi nonorganik. Dampaknya penyerapan unsur hara optimal.

Melonjaknya produksi itu setelah Hendra menerapkan sistem budidaya organik pada 2004. Ia meninggalkan pupuk dan pestisida kimia. Sumber nutrisi bagi tanaman masing-masing 5 ton kompos dan pupuk kandang yang difermentasi selama sebulan. Hendra yang pernah hidup menggelandang di Tanjungpriok, Jakarta Utara, itu mula-mula hanya menuai 4 ton per ha. Produksi melonjak setelah Hendra menerapkan teknologi system of rice intensification (SRI). Prof Dr Iswandi Anas dari Institut Pertanian Bogor mengatakan SRIorganik berpeluang meningkatkan produksi padi.

Ekspor

Ketika menerapkan sistem organik yang dikombinasikan dengan teknologi SRI banyak kerabat mengatakan Hendra gila. Harap mafhum, ia hanya menanam satu bibit di sebuah lubang tanam. Itu pun bibit muda berumur 7 hari. Padahal, kelaziman petani di berbagai daerah menanam 10 bibit berumur 30 hari per lubang tanam (baca: Ramai-ramai Meminang SRI, Trubus Juni 2009). Panen hingga 10 ton per ha, setelah Hendra menerapkan SRIorganik membungkam semua cemoohan.

Membudidayakan padi organik memang banyak hambatan. Tohawi Husnullah, petani di Ciseeng, Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, selama 4 tahun membudidayakan padi organik. Namun, setahun terakhir ia berhenti menanam, meski permintaan beras organik sangat besar. “Pemilik tak lagi menyewakan lahan. Padahal mencari lahan dengan sumber mata air sangat sulit,” kata Tohawi.

Sumber air matarantai penting berorganik. Dengan sumber mata air, lahannya tak terkontaminasi pupuk atau pestisida kimia dari sawah lain. Kendala lain menghadang pengembangan padi organik dari hulu hingga hilir, seperti mengubah budaya menggunakan pestisida kimia ke nabati (baca: halaman 20).

Agung Prawoto dari Biocert—lembaga pemberi sertifikat organik—mendefinisikan beras organik merupakan hasil pengolahan padi yang dibudidayakan secara organik dengan memperhatikan benih, lahan, air, dan sarana produksi yang organik—bukan kimiawi. “Organik lebih menekankan pada proses budidaya, bukan sekadar hasil akhir. Jika air dari sawah sebelah yang nonorganik mengalir ke sawah organik, petani organik harus melakukan filterasi dengan tanaman tertentu,” kata Agung.

Sebutan padi organik itu bukan klaim pribadi, tetapi dibuktikan dengan sertifikat. Hendra memperoleh 2 sertifikat organik sekaligus dari IMO (Institute for Marketecology Organic) yang berbasis di Weinfelden, Swiss, dan Sucofindo. Dengan mengantongi sertifikat organik dari IMO, beras hasil budidaya Hendra dapat dipasarkan ke negara-negara di Eropa dan Amerika.

Itu bukti bahwa beras organik produksi petani sangat berkualitas hingga mampu menembus pasar ekspor. Selama ini Indonesia memang menjadi importir beras. Namun, kini Indonesia menjadi eksportir beras organik. “Untuk mendapatkan harga tinggi harus disasarkan untuk pasar luar negeri yang sudah terdidik menghargai produk organik. Produk yang bagus pasti dicari pasar,” kata Emily Sutanto, eksportir beras organik.

Pada Agustus 2009, Emily mengekspor 18 ton beras organik. Pembelinya adalah Lotus Food di Amerika Serikat. Ia mengemas beras organik dalam kantong berbobot 5 kg. Pada Desember 2009 direktur PT Bloom Agro itu mengekspor 19 ton ke Malaysia. Alumnus Pepperdine University, Amerika Serikat, itu bermitra dengan 2.333 petani di Tasikmalaya.

Mereka memperoleh sertifikasi organik dari IMOterdiri atas 3 standar: NOP untuk pasar Amerika Serikat, EEC (Eropa), dan JAS (Jepang). Gabah-gabah produksi mereka dibeli oleh Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) Simpatik. Harganya Rp3.200 per kg gabah varietas sintanur; Rp3.500 (redrice). Harga gabah nonorganik di Tasikmalaya Rp2.600 per kg. Gapoktan menggiling gabah menjadi beras organik yang akhirnya dibeli oleh Emily Rp8.000 per kg.

Ceruk besar

Menjalin kemitraan dengan para petani juga ditempuh Suyamto di Sragen, Jawa Tengah. Ia bekerja sama dengan 300 petani bersertifikat organik yang mengelola lahan 132 ha. Pada Juni 2008, importir Jepang meminta pasokan rutin 20 ton beras organik per bulan kepada Suyamto. Namun, ketika itu beras dianggap komoditas strategis sehingga tak dapat diekspor. Ia mengurus izin ekspor ke Departemen Perdagangan dan Bulog, tetapi izin ekspor itu baru diperoleh setahun kemudian.

Saat ini Suyamto masih menggarap pasar domestik yang cukup besar. Direktur PTPadi Mulya itu membeli gabah kering panen (GKP) dari petani Rp3.500 per kg. Ia membeli GKP untuk mengontrol dan mencegah terjadinya pengoplosan dengan gabah nonorganik. Pebisnis beras organik sejak 2001 itu mengeringkan GKP menjadi gabah kering giling (GKG) hingga susut 20%. Gabah itulah yang ia olah menjadi beras organik dengan rendemen 30%. Artinya untuk memperoleh 1 kg beras perlu 3 kg gabah kering giling.

Ia kini rutin memasok 30—40 ton per bulan kepada pedagang di berbagai kota seperti Jakarta dan Sragen. Suyamto menjual beras organik Rp10.000 per kg. Menurut Suyamto biaya pemrosesan untuk menghasilkan 1 kg beras dari gabah organik mencapai Rp2.000 per kg. Jika saja ia mampu memenuhi semua permintaan, labanya bakal kian besar. Total permintaan rutin mencapai 50 ton sebulan, tetapi belum ia penuhi lantaran pasokan beras organik terbatas.

Kurang pasokan juga dialami oleh PTPelopor Alam Lestari (PAL). Menurut Ir Suwarjo MM, dari PT PAL, perusahaan itu baru mampu memasok 40—50 ton beras organik per bulan. Padahal, di luar itu masih ada permintaan rutin 100—160 ton dari produsen makanan bayi. Beberapa perusahaan lain juga menghadapi hal serupa (Lihat tabel: Kurang Pasokan).

Tren

Para pelaku bisnis beras organik—eksportir, pengepul, dan petani—sepakat prospek beras organik sangat bagus. “Peluang bisnis beras organik terbuka lebar. Pemain masih sedikit, sedangkan konsumsi beras organik terus meningkat,” kata Suyamto. Suyamto menggambarkan jumlah warga menengah-atas berkisar 10% atau 22-juta konsumen potensial. Padahal, produsen beras organik di Indonesia kini baru melayani maksimal 15% dari jumlah konsumen potensial itu.

Lihat saja PTFastfood Indonesia yang mengelola restoran cepat saji Kentucky Fried Chicken setahun terakhir menggunakan beras organik. Dari 370 gerai, 117 gerai di Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jakarta memanfaatkan beras organik. “KFCmenggunakan beras organik karena konsumen sekarang lebih melek kesehatan,” kata Novrizal, brand manager PT Fastfood Indonesia.

Buktinya di sebuah gerai yang menyajikan nasi organik dan nonorganik, 80% konsumen memilih nasi organik. Konsumen menjadi hakim yang baik. Merekalah yang bakal menentukan seberapa luas pasar beras organik. Bertambahnya konsumen berarti juga menuntut perluasan tanam. Wajar bila petani organik bermunculan di berbagai daerah. Sekadar menyebut beberapa contoh adalah Rahmat Tobadiana di Desa Palbapang, Kecamatan Bantul, Kabupaten Bantul, Yogyakarta; Indraningsih di Peniwen, Malang, Jawa Timur.

Di berbagai sentra, luas penanaman padi organik terus bertambah. Kepala Dinas Pertanian Sragen Haryono mengatakan luas budidaya padi organik saat ini 3.500 ha, meningkat 35 ha dibanding tahun sebelumnya. Belum ada data tentang luas tanam padi organik secara nasional. Namun, menurut Dr Agus Setyono MS, peneliti Balai Penelitian Tanaman Padi, luas penanaman padi organik nasional tak lebih dari 5%. Jika total luas sawah 12,6-juta ha, berarti luas penanaman padi organik baru 630.000 ha.

Menurut Dr Zaenal Soedjaiz, ketua umum Maporina (Masyarakat Pertanian Organik Indonesia) mereka berbondong-bondong membudidayakan padi organik karena tergiur laba. Harap mafhum, harga padi dan beras organik Rp1.000—Rp2.000/kg

lebih tinggi ketimbang padi/beras nonorganik. Sedangkan biaya produksi padi organik relatif rendah, yakni Rp1.400; nonorganik Rp1.700 per kg. Belum lagi produktivitas yang melonjak 2 kali lipat setelah tahun ke-4 penanaman.

Dengan berorganik, “Peluang petani untuk meningkatkan keuntungan kian besar,” ujar doktor Ilmu Pertanian alumnus Universitas Gadjah Mada itu. “Ini momentum yang bagus, antara produksi dan pasar saling bertemu,” kata Soedjaiz. Ir Heru Santosa MSdari Universitas Brawijaya mengatakan kelangkaan pupuk juga memicu petani beralih ke pola budidaya organik. Dengan menerapkan budidaya organik, petani mandiri tanpa bergantung pada pupuk kimia.

Bebas racun

Pemicu lain menurut Dr Satoto, periset Balai Penelitian Tanaman Padi, pasar beras organik semakin terbuka karena masyarakat makin menyadari pentingnya kesehatan—termasuk mengkonsumsi nasi organik. Menurut dr Oetjoeng Handayanto, ahli terapi kolon di Bandung, Jawa Barat, konsumsi nasi organik sangat bagus bagi kesehatan. Sebab, mencegah beragam penyakit degeneratif seperti kanker.

Oetjoeng mengatakan konsumsi pangan beresidu tinggi sejak dini dalam jangka panjang dapat memicu kanker; bagi pria, juga menghambat pertumbuhan zakar. Jangankan menyantap langsung, bayi yang disusui perempuan yang mengkonsumsi nasi berkadar residu tinggi saja membahayakan kesehatan. Pendapat serupa disampaikan oleh dr Erwin Chandra Wiguna MM.

Alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada itu mengatakan residu pestisida mengancam kesehatan. Organisme yang dipacu untuk tumbuh (dengan pupuk kimia, red) pasti dalam keadaan tak seimbang. Jika dikonsumsi bakal mempengaruhi jaringan tubuh. “Kalau yang kita konsumsi sesuatu yang baik, tubuh kita pun akan baik,” ujar akupunkturis itu.

Beras organik bebas residu kimiawi lantaran tanpa pemberian pupuk dan pestisida kimia. Itu dibuktikan melalui uji laboratorium untuk memantau 18 jenis racun seperti dielarine, endrine, endosulfan, endrine aldehida, dan heptakhlor. Beras organik bermutu antara lain jika ke-18 residu itu tak terdeteksi. Dengan demikian beras organik lebih menyehatkan untuk dikonsumsi. Selain sehat bagi konsumen, budidaya padi organik juga berpeluang memperbaiki ekosistem lahan, meningkatkan produksi, sekaligus mendongkrak laba bersih petani. (Sardi Duryatmo/Peliput: Ari Chaidir, Faiz Yajri, Nesia Artdiyasa, Niken Anggrek, & Tri Susanti)

 

Powered by WishList Member - Membership Software