Pelindung Ikan dari Perairan

Filed in Majalah, Topik by on 03/06/2020

Penelitian terbaru membuktikan Staurogyne sp. bersifat antibakteri sehingga berpotensi sebagai obat herbal untuk ikan.

Potensi tanaman air sebagai obat antibakteri untuk ikan. Lebih ramah lingkungan.

Penemuan senyawa alelokimia pada duckweed, Myriophyllum brasiliense, Myriophyllum spicatum, dan Microcarpa eleocharis menjadi pelopor dalam pencarian senyawa alelokimia dari tanaman air lainnya. Staurogyne sp. salah satu tanaman air asal Sulawesi yang terbukti ilmiah bersifat antibakteri. Peternak ikan dapat memanfaatkannya untuk mengendalikan beragam penyakit.

Hasil penelitian penulis dan tim menunjukkan, senyawa aktif dalam Staurogyne sp. meliputi flavonoid, fenol, saponin, glikosida, dan antioksidan. Hasil riset yang dilaksanakan pada Oktober 2017—Mei 2018 itu juga mengungkapkan 0,2 gram per ml ekstrak staurogyne mempunyai diameter zona hambat skala intermediet pada bakteri Aeromonas hydrophila, Edwardsiella ictahuri, dan Streptococcus agalactiae—semua penyakit utama ikan konsumsi.

Masalah antibiotik

Tombe uwa beraktivitas antioksidan dan antibakteri kuat terhadap bakteri patogen ikan yakni Aeromonas hydrophila, Edwardsiella ictaluri, dan Flavobacterium columnare.

Pada konsentrasi tinggi ekstrak tanaman yang juga tersebar di Semenanjung Malaysia, Sumatera, dan Kalimantan itu pun efektif pada bakteri Aeromonas hydrophila, Edwardsiella ictaluri, dan Streptococcus agalactiae. Makin tinggi konsentrasi ekstrak kian besar zona hambat bakteri. Ekstrak staurogyne berkonsentrasi tinggi memiliki daya antibakteri yang besar dan sebaliknya.

Buktinya pemakaian ekstrak staurogyne berkonsentrasi tinggi mampu menghambat pertumbuhan bakteri intermediet. Meski begitu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut konsentrasi optimum ekstrak staurogyne untuk menghambat pertumbuhan bakteri penyebab penyakit ikan. Perusakan dinding sel, perubahan permeabilitas membran sitoplasma, dan penghambatan kerja enzim beberapa mekanisme penghambatan bakteri oleh senyawa antibakteri.

Tanaman air lain yang terbukti ilmiah bersifat antibakteri yaitu Kjellbergiodendron celebicum. Masyarakat Sulawesi menyebut tanaman itu tombe uwa. Hasil riset penulis dan tim menunjukkan, ekstrak daun tombe uwa memiliki aktivitas antioksidan dan antibakteri kuat terhadap bakteri patogen ikan yakni Aeromonas hydrophila, Edwardsiella ictaluri, dan Flavobacterium columnare.

Infeksi oleh bakteri patogen memang menjadi momok bagi pembudidaya ikan. Pencegahan dan penanggulangan penyakit selama ini mengandalkan antibiotik. Alasannya antibiotik stabil, tidak bisa diurai dalam tubuh, dan tetap aktif dalam waktu lama sehingga menjadi pilihan utama para pembudidaya ikan. Padahal, penggunaan antibiotik dalam jangka panjang memunculkan beberapa masalah seperti resistensi bakteri, mengancam mikrobiota lain, dan alergi karena produk olahan ikan terpapar antibiotik.

<script async src=”https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js”></script>
<ins class=”adsbygoogle”
style=”display:block; text-align:center;”
data-ad-layout=”in-article”
data-ad-format=”fluid”
data-ad-client=”ca-pub-4696513935049319″
data-ad-slot=”5685217890″></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>

Ramah lingkungan

Identifikasi senyawa fitokimia dalam tanaman air di Indonesia menjadi aspek penting untuk dipelajari. Penelitian lanjutan perlu dilaksanakan untuk mengungkapkan potensi lain tanaman air. Apalagi kebutuhan konsumsi ikan terus meningkat seiring bertambahnya populasi dan kesadaran manusia untuk mengonsumsi satwa air itu. Bergantung pada perikanan tangkap tidaklah bijaksana.

Akuakutlur menjadi teknologi harapan untuk memproduksi protein ikan dan sumber lipid guna melawan gizi buruk dan kemiskinan terutama di negara-negara berkembang. Tanaman air yang terbukti ilmiah mampu mengatasi penyakit yang kerap menyerang ikan menjadi harapan baru demi terwujudnya perikanan budidaya yang lebih ramah lingkungan sekaligus menghasilkan produk yang lebih sehat.

Namun, riset pencarian senyawa fitokimia dari tanaman air hanya sedikit. Sebetulnya senyawa kimia dalam tanaman air merupakan material berharga untuk pengembangan obat herbal bagi ikan. Tanaman air juga mampu menyerap bikarbonat sehingga menetralkan pH dalam air. Beberapa ahli menyatakan air terjun dan sungai di pegunungan mendukung keberagaman tanaman air yang berkontribusi pada aspek ekonomi, budaya, kesehatan, dan rekreasi sosial masyarakat.

Mengidentifikasi tanaman air Indonesia merupakan kegiatan vital untuk menyelamatkan ekosistem dan menggali potensinya. Penelitian beragam senyawa fitokimia yang diekstrak dari aneka tanaman banyak dilakukan. Selain itu keberadaan beragam jenis tanaman air menunjukkan kondisi perairan dan ekosistem. Mayoritas masyarakat belum mengetahui jenis tanaman air.

Tanaman air atau tanaman akuatik merupakan tanaman yang tumbuh sebagian atau seluruhnya berada di dalam air dan akarnya tumbuh dalam lumpur atau mengambang. Ada tiga tipe tanaman air yaitu tanaman dalam air, tanaman mengapung, dan tanaman tepian. Tanaman air dari berbagai famili berperan sebagai indikator biologis eksosistem perairan. Kesehatan eksoistem perairan dapat dilihat dari kondisi tanaman air.

Itulah sebabnya kehilangan suatu jenis tanaman air dapat mengubah komposisi spesies sehingga keseimbangan dalam ekosistem terganggu. Harap mafhum fungsi utama tanaman air yakni menyaring karbondioksida dan menghasilkan oksigen dalam air. Manfaat lainnya meliputi pengurai amonia, penyerap kontaminan metal, dan pengontrol pertumbuhan alga dengan menyeimbangkan eksosistem perairan. (Dr. Media Fitri Isma Nugraha, S.P., M.Si., Ph.D., peneliti tanaman air di Balai Riset Budidaya Ikan Hias, KKP, Kota Depok, Jawa Barat)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software