Pelangi di Atas Batu

Filed in Uncategorised by on 03/09/2012 0 Comments

Ariocarpus fissuratus cv lloydii cantik dengan paduan tiga warnaBatu-batu hidup itu berwarna-warni.

 

Lloydii berdiameter 12 cm juga elok dengan balutan variegata kuningPenampilan Ariocarpus fissuratus var lloydii di sebuah situs kaktus dan sukulen di Jepang itu membuat Sugita Wijaya jatuh hati. “Variegatanya bagus banget, ada 3 warna, merah muda, jingga, dan kuning, dalam satu tanaman,” kata Wijaya. Apalagi tumpukan tuberkel alias batang kaktus menyerupai kelopak bunga mawar. Tanpa pikir panjang kolektor kaktus dan sukulen asal Surabaya, Provinsi Jawa Timur, itu langsung membeli kaktus triwarna berdiameter 12 cm.

Wajar bila Wijaya berhasrat memiliki tanaman yang termasuk dalam Convention on International Trade in Endangered Species (CITES) golongan Apendiks I. Musababnya, “Ariocarpus variegata dengan 3 warna seperti itu langka,” ujar kolektor kaktus dan sukulen itu. Lazimnya, ariocarpus terdiri atas satu warna, yakni kuning. Siapa pun yang memperjualbelikan lloydii hasil buruan di habitat aslinya bakal mendapat sanksi yang berat.

Kelainan pigmen

Menurut ahli Fisiologi Tumbuhan dari Jurusan Budidaya Pertanian, Universitas Sriwijaya, Profesor Dr Benyamin Lakitan, variegata terjadi karena jumlah klorofil atau pigmen hijau berkurang dan pigmen xantofil alias pembentuk warna kuning dominan. Akibatnya muncullah warna putih atau kuning di atas hijau. Pada kasus Ariocarpus fissuratus var lloydii koleksi Wijaya, variegata terjadi karena kelainan pada beberapa pigmen warna seperti kelompok pigmen flavonoid dan karotinoida.

Flavonoid terdiri dari 3 kelompok, yakni antosianin, pembentuk warna merah, biru, dan ungu; flavonol dan flavon, kekuningan atau gading. Sementara karotinoida terdiri dari 2 golongan, yaitu karotin, pembentuk warna merah; dan karotinol atau xantofil, kuning. Kedua kelompok pigmen itu menjadi dominan setelah jumlah klorofil berkurang. Hasilnya, muncullah variegata merah muda, jingga, dan kuning.

Penyilang kaktus di Pathumthani, Thailand, Pukhao Chakasik, mengungkapkan kaktus triwarna lebih langka karena peluang kemunculannya lebih sedikit. Perbandingannya bisa 1 : 1.000 dengan variegata kuning atau putih. “Padahal, peluang kejadian variegata hanya 1 : 5.000 dari semaian biji,” katanya. Wajar jika kaktus variegata 3 warna harganya selangit, bisa 6 kali lebih mahal daripada yang normal. Kaktus triwarna pun kian sulit didapat karena belum diperbanyak massal.

Jangankan triwarna, A. fissuratus var lloydii variegata kuning milik Wijaya tetap tampil menawan. Hampir setengah bagian mahkota berwarna kuning. Penampilan kaktus berdiameter 12 cm itu kian menarik karena setiap tuberkel penuh tonjolan-tonjolan sehingga mirip kulit buaya.

Dua cara

Koleksi Wijaya lainnya adalah Ariocarpus kotschoubeyanus. Bila melihat bonggol pada bagian bawahnya yang berwarna kecokelatan dengan kulit batang yang mengelupas, itu pertanda tanaman berumur tua. “Diperkirakan umurnya 35 tahun,” tutur arsitek itu. Penampilan kaktus yang habitatnya di tanah berlumpur dengan sedikit air itu kian cantik karena di bagian ujung tampil variegata.

“Meski ukuran variegata kecil, tapi sulit untuk mendapatkan kotschoubeyanus variegata dengan ukuran sebesar itu,” kata Wijaya. Diameter kaktus yang pertumbuhannya lambat itu 12 cm. Wijaya pun harus menebus kotschoubeyanus variegata seharga belasan juta rupiah dari kolektor asal Negeri Sakura.

Kaktus tak berduri lain koleksi Wijaya ialah Ariocarpus furfuraceus variegata. Furfuraceus itu istimewa karena selain variegata, kaktus itu juga mengalami mutasi bentuk. Sejatinya ukuran tuberkel tanaman yang berhabitat di padang pasir Cihuahua, Meksiko, itu hanya 2-4 cm. Sementara panjang tuberkel kaktus koleksi Wijaya dua kali lipat dari biasa. “Turbekel A. furfuraceus itu panjang sehingga tampak seperti helaian daun,” ujar Wijaya.

Menurut Ir Ari Wijayani Purwanto MP, dosen Fisiologi Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta, mutasi ialah kelainan pada tanaman normal yang terjadi pada tingkat sel atau kimera. Sifatnya bisa labil atau justru stabil-tingkat gen. Mutasi bisa terjadi pada semua tanaman baik secara alami ataupun buatan. “Kondisi di alam seperti suhu dan intensitas sinar matahari yang ekstrem bisa membuat kaktus mutasi. Namun, perlakuan tertentu secara buatan seperti pemberian bahan kimia juga bisa menyebabkan munculnya kaktus mutasi,” ujarnya.

Total jenderal Wijaya mengoleksi 2 A. furfuraceus variegata yang mengalami mutasi. Yang pertama diperoleh pada 2010 dengan bentangan mahkota mencapai 15 cm. Sementara yang kedua berukuran lebih kecil, berdiameter hanya 7 cm yang ia peroleh pada 2011.

Dua mahkota

Selain Wijaya, Adrianto Faris juga kepincut ariocarpus. “Ariocarpus itu jenis bergengsi di keluarga kaktus. Tampilannya eksotis dengan pertumbuhan yang sangat lambat,” ujar pehobi di Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur, itu. Pertumbuhan tanaman yang lambat (kurang dari 1 cm per tahun) menjadi tantangan menyenangkan bagi para kolektor. Lagipula batu hidup, sebutan untuk ariocarpus, sulit diperbanyak.

Itulah sebabnya keberadaannya di pasaran terbatas dan langka. Bentuknya pun unik. Pantas bila harganya mencapai jutaan hingga puluhan juta rupiah. Harga kian melonjak jika kaktus itu mengalami mutasi. Yang mampu memikat hati Adrianto Faris ialah sesosok Ariocarpus trigonus variegata. Faris memperoleh kaktus itu dari Jepang setahun silam. Kaktus dengan tuberkel berbentuk segitiga dengan ujung lancip itu unik.

Selain variegata, trigonus juga memiliki dua mahkota atau doublehead. Sebuah mahkota memiliki variegata penuh, sementara yang lainnya berwarna hijau dengan sedikit rona kuning di bagian pangkal tanaman. Diameter kedua mahkota masing-masing 9 cm dan 10 cm. “Ariocarpus trigonus itu ibarat paket komplet. Sudah variegata, doublehead lagi,” ujar pehobi fotografi itu.

Faris pun rela merogoh kocek hingga jutaan rupiah untuk mendapatkan tanaman asal Tamaulipas dan Nuevo Leon, Meksiko, itu. Batu-batu hidup memang penuh pesona dan menarik hati bagi siapa pun. (Tri Istianingsih/Peliput: Rosy Nur Apriyanti)

Setengah Senti 10 Bulan

Pehobi kaktus di Jakarta Timur, Fernando Manik, mengoleksi Obregonia denegrii. Fernando memperoleh kaktus bersosok mirip bunga teratai itu dari Thailand pada 2011. Pertumbuhan denegrii sama dengan ariocarpus yang lambat. Ukuran diameter hanya bertambah 0,5 cm dalam 10 bulan. Koleksi Fernando berberdiameter 3,5 cm  itu kian menarik lantaran memiliki tiga warna-hijau, kuning, dan jingga-dalam satu tubuh alias variegata. Kaktus pelangi, memang menarik hati. (Tri Istianingsih)

 

Keterangan Foto :

  1. Lloydii berdiameter 12 cm juga elok dengan balutan variegata kuning
  2. Ariocarpus fissuratus cv lloydii cantik dengan paduan tiga warna
  3. Ariocarpus trigonus paket komplit: variegata dengan dua mahkota
  4. Ariocarpus kotschoubeyanus diperkirakan berumur 35 tahun
  5. Ariocarpus furfuraceus mutasi bentuk sehingga tampak bak helaian daun
  6. Obregonia denegrii variegata, termasuk dalam CITES Apendiks I
 

Powered by WishList Member - Membership Software