Pasukan Tempur Penggempur CVPD

Filed in Buah by on 01/01/2010 0 Comments

Dua pekan sebelum kematian itu konidia—spora aseksual—hirsutella menempel di permukaan kulit diaphorina. Seminggu berselang cendawan keluarga Clavicipitaceae itu membentuk appresorium—lubang perkecambahan—yang menembus jaringan kulit dan masuk ke dalam darah diaphorina. Cendawan lalu memperbanyak diri dan membentuk blastospora yang menyebar ke jaringan di dalam tubuh diaphorina. Di saat itulah cendawan mengisap cairan dari jaringan tubuh vektor penyebab Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD) itu.

Isapan itu berlangsung sepekan hingga diaphorina mati. “Kematian itu karena kerusakan mekanis akibat perkembangan cendawan pada jaringan, racun yang dikeluarkan cendawan saat berkembang biak, dan kehabisan cairan tubuh,” kata Dr T eguh Santoso, ahli patologi serangga dari Institut Pertanian Bogor. “Setelah diaphorina mati, cendawan keluar dari tubuh serangga membentuk spora dan sinemata atau tubuh buah spora mirip rambut berwarna hitam,” lanjut Teguh. Serangga itu seolah mati berdiri karena posisinya di atas daun cenderung menungging.

Pestisida hayati

Kisah terbunuhnya diaphorina itu terjadi di kebun jeruk siam di Lumajang, Jawa Timur, 7 tahun silam. Temuan itu mendorong tim peneliti Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro), Batu, Jawa Timur, meriset lebih lanjut. Targetnya untuk menghasilkan pestisida hayati penghambat penyebaran CVPD.

“Itulah awal gagasan memanfaatkan H. citriformis untuk pengendalian D. citri,” kata Ir Mutia Erti Dwiastuti MS, peneliti hama dan penyakit tanaman Balitjestro. Pada waktu bersamaan pekebun jeruk siam di Sleman, Yogyakarta, pun melaporkan hal serupa. Menurut Ir Arry Supriyanto MS, peneliti jeruk di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Kalimantan Barat, matinya diaphorina oleh hirsutella kebanyakan ditemukan di daerah beriklim lembap tapi panas yang sesuai dengan habitat hirsutella.

Riset mengenai hirsutella oleh Balai Besar Penelitian Biogenetika dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BB Biogen), Bogor, Jawa Barat, kian meyakinkan Mutia. Mereka melaporkan Hirsutella citriformis mampu menekan populasi hama wereng cokleat Nilaparvata lugens pada padi. “Itu indikasi peluangnya menjadi pengendali serangga sangat besar,” kata Mutia.

Pada 2003, Mutia bersama tim peneliti Balitjestro gencar meneliti hirsutella. Mula-mula ia mengisolasi cendawan itu dari tubuh diaphorina, lalu memperbanyaknya dalam media dengan paduan beberapa nutrisi. Spora hirsutella hasil kultur disemprotkan pada diaphorina yang sengaja dipelihara di screen house berukuran 12 m x 6 m. Screen house itu ditanami 300 jeruk dan kemuning yang tunas mudanya jadi santapan diaphorina. Hirsutella yang disemprotkan beragam jumlahnya mulai dari 105—108 spora per mililiter.

Kendalikan 50%

Cendawan itu disemprotkan pada nimfa maupun imago diaphorina di pucuk daun. Pucuk kemudian dibungkus kasa agar diaphorina tak berpindah tempat. Dua minggu pascapenyemprotan, dosis 107 spora per mililiter terbukti paling efektif membasmi imago diaphorina. Separuh populasi imago diaphorina mati akibat infeksi. “Hirsutella efektif membunuh imago, tapi kurang efektif membunuh nimfa diaphorina,” kata wanita kelahiran Surabaya 52 tahun silam itu. Mutia lantas merancang formulasi bahan pembawa berupa serbuk dan cair agar mudah dipakai pekebun.

Hasil ujilapang menunjukkan ledakan populasi diaphorina di kebun jeruk siam di Kediri, Jawa Timur, saat musim hujan menurun 30%. Itu lebih rendah daripada pengujian di screen house lantaran pengaruh luar seperti angin. “Angin kencang membuat spora hirsutella yang menempel di kulit diaphorina jatuh sebelum menginfeksi,” kata Teguh. Toh, cendawan sepanjang 1—10 μm berwarna abu-abu atau cokelat itu menjadi pengendali alternatif untuk substitusi pestisida sistemik.

Menurut Mutia pestisida hayati berisi cendawan hirsutella efektif dipakai saat musim hujan ketika populasi diaphorina meningkat. Kelembapan tinggi juga membuat hirsutella mudah beradaptasi dengan lingkungan. Penyemprotan cukup seminggu sekali saat ada serangan. Caranya dengan mengencerkan seliter formulasi hirsutella pada 10 l air lalu disemprotkan pada pagi hari ke seputar tajuk jeruk.

Hama lain

Yang istimewa penyemprotan hirsutella juga menekan serangan hama lain seperti aphid Tox-optera citricida, tungau merah Panonychus citri, dan tungau karat jeruk Phyllocoptura oleiver. “Hirsutella menekan populasi tungau merah sampai 37% dan menekan populasi aphid sampai 100% pada 21 hari setelah pemakaian,” kata master bidang fitopatologi dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta itu. Serangan tungau karat jeruk juga menurun, tapi angka pastinya belum diteliti.

Kini Mutia dan peneliti di Balitjestro tengah merancang kombinasi hirsutella dengan cendawan lain seperti Metarhizium anosopliae dan Beuveria bassiana untuk mendongkrak efektivitas. “Metharizium menjadi parasit serangga yang banyak hidup di dekat permukaan tanah. Sedangkan beuveria berkarakter mirip hirsutella,” kata Teguh. Ketiga cendawan itu terbukti tidak bersifat antagonis—saling mamatikan—jika dipadukan. Dengan paduan itu Mutia berharap pestisida hayati yang dirancangnya dapat membunuh hama lebih banyak. Cendawan-cendawan penyelamat jeruk itu kini siap tempur. (Nesia Artdiyasa)

 

Populasi Diaphorina citri meningkat saat musim hujan

Cendawan Hirsutella citriformis kendalikan vektor CVPD sampai 50%

Ir Mutia Erti Dwiastuti MS, H. citriformis mampu menginfeksi aphid, tungau merah, dan tungau karat jeruk

 

Powered by WishList Member - Membership Software