Pasar Memburu Jahe

Filed in Majalah, Perkebunan by on 13/06/2020

Minuman jahe digemari berbagai lapisan masyarakat.

 

Jahe mendatangkan omzet menggiurkan. Petani maupun pengolah sama-sama untung.

Nendi mendulang rupiah dari jahe merah.

Petani di Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Nendi (38), menunggu saat tepat memanen jahe merah di lahan 8.000 m2 miliknya. Hampir setahun silam ia menanam empat kuintal bibit. Pengalaman tujuh musim menanam jahe merah membuatnya yakin bahwa bakal memanen setidaknya empat ton rimpang. Harga di kebun minimal Rp35.000 sehingga di bawah bedengan-bedengan setinggi 10 cm itu tersimpan harta senilai Rp144 juta.

Ayah satu anak itu menyatakan, jahe merah siap panen ketika tanaman rebah. Saat itu kualitasnya mencapai puncak, artinya rasa pedas optimal dan ukuran serta bobotnnya maksimal. Sembari menantikan masa panen, Nendi menebas—membeli dengan memanen sendiri—dan mengepul jahe merah hasil panen para tetangga. Pada April 2020, ia menyetorkan 2,5 ton jahe merah hasil tebasannya.

Harga melejit

Nendi mengutip laba Rp1.000 per kg rimpang sehingga laba kotornya Rp2,5 juta. Kebetulan desa tempat ia lahir, besar, tinggal, dan berkeluarga itu adalah sentra jahe merah. Nendi tidak bisa mengepul terlalu banyak lantaran pengepul di sana bukan hanya dia. “Kalau bisa inginnya semua hasil panen saya yang tebas,” katanya. Penjualan sama sekali tidak menjadi masalah. Menurut Nendi banyak pembeli yang mencari sampai ke kebun.

Ia menyebutkan beberapa perusahaan herbal kemasan tanah air membutuhkan pasokan jahe. Itu belum termasuk pedagang yang rutin memasok ke pasar tradisional maupun modern. Meski harga beli pabrikan besar sedikit lebih murah ketimbang pedagang pasar, uang yang ia peroleh jauh lebih terasa. Pabrikan membeli minimal satu ton per pembelian, sementara pedagang yang memasok ke pasar paling puluhan atau ratusan kilogram.

Saat menanam pertama pada 2013, Nendi hanya mendapat harga Rp12.000 per kg. Setiap tahun harga berangsur naik, tapi lonjakan paling tajam terjadi pada 2019. Produsen jahe merah serbulk dan instan di Cipondoh, Kota Tangerang, Provinsi Banten, Darul Mahbar menyatakan, awal 2019 harga masih berkisar Rp10.000 untuk pembelian partai besar. Awal 2020, harganya langsung meloncat ke Rp20.000 dan terus naik menjadi Rp30.000.

Tanaman jahe merah di kebun Nendi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Itu sebabnya pada triwulan pertama 2019, Nendi memperluas penanaman delapan kali lipat dari biasanya hanya 1.000 m2. “Harga akan tetap tinggi,” ungkapnya yakin. Jahe merah dan jahe emprit—jahe putih kecil—makin menjadi buruan ketika pada Februari 2020 pandemi korona masuk ke Indonesia. Saat itu di Pasar Induk Beringharjo, Kota Yogyakarta, harga jahe emprit melejit dari biasanya Rp15.000—Rp20.000 menjadi minimal Rp25.000.

Sudah begitu, rimpang itu sempat langka di sana. Musababnya begitu pemasok dari daerah muncul, pedagang langsung berebutan membeli. Padahal, tidak tiap hari ada pekebun yang panen sehingga pemasok harus “bergerilya” ke daerah lain atau membeli dari pemasok lain. Darul Mahbar menyatakan, saat itu seakan terjadi euforia jahe. “Memasuki Maret 2020 harga jahe merah sampai Rp40.000,” kata alumnus Jurusan Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang, Jawa Timur itu.

Untungnya Darul rajin mengamankan pasokan untuk produksi Cangkir Mas—merek miliknya—dengan cara mengakrabi banyak petani. Saat Trubus menghubungi pada Mei 2020, Darul mempersilakan untuk mengkonfirmasi keterangannya kepada petani mitra. “Mau yang di Banten, Bengkulu, atau Jawa Barat?” kata ayah 2 anak itu. Mengolah jahe merah sejak 2008, Darul (50) menjalin hubungan dengan banyak petani di berbagai daerah.

Dari para mitra itulah, termasuk Nendi yang rutin memasok kepadanya dua tahun terakhir, bahan baku ajek mengalir ke tempat pengolahan miliknya. Maklum, setiap bulan ia memerlukan pasokan sedikitnya 10 ton rimpang segar.

Lahan gambut

Jahe juga menggerakkan perekonomian masyarakat kelas bawah di ibukota. Salah satunya Samud (33) penjual susu jahe keliling di Kecamatan Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat. Pabrik tempatnya bekerja di Jalan Raya Bogor pailit membuatnya kehilangan pekerjaan. Sempat menjadi pelayan kedai, sejak 2017 ia banting setir menjual susu jahe. Ia menggunakan susu segar dari peternak di Kabupaten Bogor dan Kota Depok, keduanya di Jawa Barat.

Pengolah jahe merah di Kota Tangerang, Banten, Darul Mahbar (kanan) dan petani mitra di Kabupaten Lebak, Banten.

<script async src=”https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js”></script>
<ins class=”adsbygoogle”
style=”display:block; text-align:center;”
data-ad-layout=”in-article”
data-ad-format=”fluid”
data-ad-client=”ca-pub-4696513935049319″
data-ad-slot=”5685217890″></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>

Sejak 2020, konsumennya bertambah. Sebelumnya 15 liter susu segar yang ia bawa baru habis selewat pukul 22.00. Kini dagangannya nyaris selalu ludes sebelum pukul 21. Warga Desa Pasakpiang, Kabupaten Kuburaya, Kalimantan Barat, Mansur, juga merasakan hangatnya perniagaan jahe. Pada 2018, ia memanen 500 kg rimpang jahe emprit berumur 5—7 bulan dari tanaman jahe di lahan seluas 2.500 m².

Mansur menjual hasil panennya kepada pengepul di Kabupaten Kuburaya dan Kota Pontianak seharga Rp35.000—Rp50.000. Ia menanam di tanah gambut yang menjadi plot demonstrasi (demplot) Badan Restorasi Gambut (BRG). Seperempat bagian lahan seluas satu ha itu ia tanami jahe, lainnya sayuran daun dan singkong. Dari semua tanaman itu, rimpang Zingiber officinale mendatangkan omzet terbesar.

Jelas saja, dalam 7 bulan Mansur meraup omzet minimal Rp17,5 juta dari budidaya tanaman anggota famili Zingiberaceae itu. Oleh karena itu, “Jahe menjadi salah satu tanaman unggulan program pengelolaan lahan tanpa bakar (PLTB, red.),” kata dinamisator Kedeputian III BRG Kalimantan Barat, Hermawansyah. Jahe juga menjadi angsa bertelur emas bagi para pelakunya. (Argohartono Arie Raharjo)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software