Pasar Memburu Domba

Filed in Majalah, Topik by on 01/06/2019

Tren penggemukan domba meningkat karena tumbuhnya permintaan di dalam dan luar negeri.

 

Pasar ekspor domba terbuka lebar, peluang bagi para peternak membesarkan domba. Malaysia saja meminta pasokan rutin hingga 60.000 domba per tahun, belum terpenuhi. Pasar domestik juga terus tumbuh.

Pakan berkualitas menentukan penambahan bobot harian domba.

Senyum Didik Eko Santoso semringah. Ia memasarkan 200 domba berbobot rata-rata 25 kg pada pertengahan 2018. Harga satwa ruminansia itu Rp48.000 per kg bobot hidup. Artinya omzet Didik Rp240 juta. Peternak di Desa Tanjungsari, Kecamatan Umbulsari, Kabupaten Jember, Jawa Timur, itu, memperoleh laba bersih Rp24 juta. Domba terjual itu hasil penggemukan 2,5—3 bulan.

Harga jual itu relatif tinggi, karena Didik menjual domba jantan. Menurut Ketua Umum Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia (HPDKI), Ir. Yudi Guntara Noor, S.Pt., IPU., harga domba jantan lebih mahal, karena untuk ibadah kurban atau akikah. Bandingkan harga domba betina hanya Rp33.000—RP35.000 per kg bobot hidup. Konsumen domba betina antara lain warung makan penyedia satai dan gulai.

Permintaan Malaysia sebanyak 60.000 domba per tahun belum terpenuhi.

Peternak sejak 2009 itu menggemukkan domba yang semula berbobot 14—18 kg. Ia memilih domba berpostur besar dan kurus karena lebih mudah digemukkan. Sementara domba berpostur kecil masih membentuk tulang. Dampaknya pembesaran lebih lama. Ia memasukkan domba ke 3 kandang yang berkapasitas total 250 ekor. Pakan hasil racikan sendiri yang diproduksi pabrik menjadi andalan Didik.

<script async src=”//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js”></script>
<ins class=”adsbygoogle”
style=”display:block”
data-ad-format=”autorelaxed”
data-ad-client=”ca-pub-4696513935049319″
data-ad-slot=”3406000923″></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>

Pasar ekspor

Menurut Didik pemberian pakan 3 kali sehari agar pakan selalu baru, sehingga satwa kerabat kambing itu menyukainya. Pertambahan bobot hidup harian atau average daily gain (ADG) di kandang Didik mencapai 5 kg per bulan (baca Bikin Domba Gemuk halaman 20—21). Didik memasarkan domba-domba itu ke PT Inkopmar Cahaya Buana asal Jakarta, yang mengekspor ke Malaysia .

Mayoritas pedagang di Jawa Barat menggunakan domba betina sebagai bahan baku satai kambing.

Saat itu Chief Operating Officer (COO) PT Inkopmar Cahaya Buana, Muhammad Harun Alrasyid, mengharapkan peternak di Kabupaten Jember, Jawa Timur, menyediakan 1.200 domba sesuai dengan syarat ekspor (lihat infografis: Kriteria Domba Ekspor). Didik pun memenuhi permintaan itu dari kandang pribadi dan peternak mitra. “Kehadiran PT Inkopmar Cahaya Buana sangat membantu peternak, karena adanya jaminan pasar dan harga lebih bagus,” kata Didik.

<script async src=”//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js”></script>
<ins class=”adsbygoogle”
style=”display:block; text-align:center;”
data-ad-layout=”in-article”
data-ad-format=”fluid”
data-ad-client=”ca-pub-4696513935049319″
data-ad-slot=”1164042394″></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>

Pada Juni 2018 PT Inkopmar Cahaya Buana mengekspor perdana 2.100 domba jantan ke Malaysia. Harun mengatakan, Malaysia meminta pasokan 60.000 domba jantan setahun. Dengan kata lain mestinya Harun mengrimkan 5.000 domba ke Malaysia per bulan. Namun, yang terpasok hanya sekitar 3.000 domba saban bulan. Permintaan itu belum terpenuhi sehingga ia bergerilya ke daerah-daerah di Jawa Timur untuk bekerja sama dengan para peternak. Kerja sama antara Harun dan para peternak tidak sebatas jual beli biasa.

Kini ia juga menyediakan bakalan dan calon induk serta memfasilitasi peternak agar mendapatkan modal dengan mudah. Harapannya peternak mandiri bibit. “Kami tengah membangun hulunya, produksinya. Jangan sampai hilang atau mati serta membangun kemitraan-kemitraan,” kata Wakil Ketua Komite Tetap Industri Peternakan dan Kemitraan, Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, itu.

Artinya PT Inkopmar Cahaya Buana membangun sinergi antara perusahaan swasta dan masyarakat serta diketahui pemerintah dalam hal ini dinas peternakan. Sebetulnya permintaan mancanegara bukan hanya dari Malaysia. Importir di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, juga meminta rutin 5.000 domba jawa hidup pada 2019. Adapun Kuwait menuggu pasokan 3.500 domba setiap bulan. Kedua permintaan itu belum terpenuhi.

Lokomotif bisnis

Nun di Kabupaten Batubara, Sumatera Utara, CV Asia Global pun memperoleh permintaan ekspor 25.000 domba per tahun ke Malaysia. Rencananya ekspor perdana pada 2019. Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Dr. drh. I Ketut Diarmita, M.P., menuturkan ekspor domba ke Malaysia pencapaian membanggakan dan perlu ditingkatkan lagi.

Ketua Umum Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia (HPDKI), Ir. Yudi Guntara Noor, S.Pt., IPU.

Berdasarkan Dokumen Ditjen Bea Cukai Indonesia mengekspor 3.732 domba ekor tipis ke Malaysia dan Uni Emirat Arab pada 2018. Ketut berharap pada masa depan permintaan ekspor pun berupa karkas atau daging sehingga bernilai tambah lebih tinggi. “Selain itu juga bisa menggerakkan sektor pendukung lain seperti jasa pemotongan dan logistik sehingga meningkatkan lapangan pekerjaan di subsektor peternakan,” kata Ketut.

Permintaan ekspor pun tidak melulu domba hidup. Singapura siap menerima 3.500 karkas domba per bulan. Ketut mengatakan, domba menjadi prioritas nasional yang tersebar di 3 provinsi dan 8 kabupaten/kota (Garut, Ciamis, Cirebon, Banjarnegara, Wonosobo, Tegal, Jember, dan Bondowoso). Itu mengacu kepada Peraturan Menteri Pertanian Nomor 18 Tahun 2018 Tentang Pedoman Pengembangan Kawasan Pertanian Berbasis Korporasi Petani.

Ketua Umum HPDKI, Ir. Yudi Guntara Noor, S.Pt., IPU., melihat ekspor domba ke Malaysia secara holistik. Pasar ekspor menjadi pilihan lain peternak untuk menjual domba selain untuk keperluan akikah dan kurban. Menurut Yudi tren perkembangan budidaya domba dan kambing di Indonesia positif. Salah satu indikatornya terbukanya peluang pasar dari dalam dan luar negeri serta domba dan kambing mulai menjadi tema dan bahasan di tingkat nasional.

Kepala Laboratorium Ruminansia Kecil Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP), Fakultas Peternakan, IPB, Dr. Ir. Sri Rahayu, M.Si.

Kepala Laboratorium Ruminansia Kecil Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP), Fakultas Peternakan, IPB, Dr. Ir. Sri Rahayu, M.Si, ekspor menggairahkan bisnis domba. Selama ini bisnis domba di tanah air hanya pada waktu tertentu seperti hari raya kurban. Meski ceruk pasar besar, serapan daging domba lebih sedikit daripada sapi. Itu karena harga daging domba lebih mahal ketimbang sapi.

Isu kesehatan seperti peningkat kadar kolesterol dan pemicu darah tinggi juga membuat penyerapan daging domba di masyarakat terhambat. Padahal, kandungan kolesterol lebih tinggi pada daging sapi. Berita gembiranya tren penggemukan domba yang menggeliat turut meningkatkan daya konsumsi daging domba. Sejatinya yang dijual sebagai satai kambing pun sejatinya adalah daging domba. “Itu terjadi di Jawa Barat. Kambing punya nama dan domba punya rasa,” kata Sri.

Pasar domestik

Bagaimana dengan pasar lokal? Akikah dan kurban masih menjadi pasar terbesar domba dan kambing. Ketika rapat kerja nasional pada 26 Februari 2019, Asosiasi Pengusaha Aqiqah Indonesia (Aspaqin) menyatakan, pasar akikah masih tumbuh 10—12% pada 2017—2018. Sementara data pemotongan untuk konsumsi daging reguler belum ada angka yang definitif.

Meski begitu harga domba dan kambing akikah lebih tinggi 10% dibandingkan dengan 2018. Harga hewan kurban pada 2019 pun diprediksi naik 20%. Artinya peningkatan permintaan domba bukan hanya untuk pasar mancanegara. Kebutuhan domba dalam negeri pun bertumbuh. Pengelola Rizki Aqiqah di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Ahmad Nasarudin Kurniawan, memulai binis akikah pada 2015 karena permintaan banyak dan potensi pasar bagus.

Berdasarkan data Aspaqin ada 2 juta domba yang dipotong pada 2018 dan 1,35 juta pada 2017. Prediksinya pada 2019 ada 3 juta domba yang disembelih untuk keperluan akikah. Kini Wawan—sapaan akrab Ahmad Nasarudin Kurniawan—menjual 20—40 domba per bulan. Jumlah itu lebih banyak ketimbang pada 2015 yang hanya terjual 10 domba per bulan. Keuntungan lain bisnis akikah yakni laba lebih tinggi 18—20% dibandingkan dengan menjual domba hidup yang berkisar 10%.

Tren akikah meningkat karena kesadaran masyarakat menjalankan syariat pun bertambah baik. ”Bahkan ada diaspora di Turki memesan akikah di tempat kawan saya dan meminta hasil akikan dibagikan ke pengungsi Rohingya di Aceh,” kata pria kelahiran Trenggalek, Jawa Timur, itu. Selain akikah, konsumen domba lainnya yaitu warung penyedia satai. Aditya Guzwatutohir Rahmawanto, S.Pt., hanya mampu memasok 600—1.000 karkas domba/bulan ke salah satu restoran penyedia menu satai di Kabupaten Bogor, Jawa Barat per bulan.

Domba salah satu komoditas peternakan yang menjadi prioritas nasional Kementerian Pertanian.

Padahal kebutuhan warung makan itu mencapai 1.500 karkas per bulan. “Jika saya menjual 200 domba setiap hari pun pasti terserap pasar,” kata pengelola Tawakkal Farm di Cimande, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu. Kapasitas produksi Huda yang 50—100 domba per bulan juga belum memenuhi permintaan. Ia yakin jika bisa memproduksi 200 domba sebulan pun pasti laku. Didik pun demikian. Ia hanya memenuhi 1—1,5% permintaan pasar dari kapasitas 90 domba per 3 bulan.

<script async src=”//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js”></script>
<ins class=”adsbygoogle”
style=”display:block”
data-ad-format=”autorelaxed”
data-ad-client=”ca-pub-4696513935049319″
data-ad-slot=”3406000923″></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>

Tren domba

Didik Eko Santoso memasok 200 domba jantan tujuan ekspor pada 2018.

Memperoleh laba pembesaran domba bukan hal mudah. Banyak hambatan menghadang para peternak (baca boks: Batu Sandungan Domba). Setahun terakhir tren penggemukan domba untuk ekspor menggeliat. Peternak domba asal Kelurahan Nangkaan, Kecamatan Bondowoso, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, Muhammad Huda Khairon S.T., merenovasi kandang miliknya sehingga berkapasitas 1.000 ekor.

Semula kandang itu berkapasitas 250 domba. “Penggemukan domba perputaran uang lebih cepat dan adanya permintaan ekspor,” kata Huda. Alumnus Teknik Elektro Universitas Hang Tuah Surabaya, Jawa Timur, itu memasok ke PT Inkopmar Cahaya Buana. Pada Februari 2019 ia menjual 100 domba seharga rata-rata Rp46.000 per kg bobot hidup. Bobot rata-rata domba 27,5 kg sehingga omzetnya Rp126,5 juta.

Huda mengutip laba sekitar 12,5% setara Rp15,8 juta. Sebetulnya Didik dan Huda panen lebih cepat jika bobot bakalan lebih berat seperti pengalaman Iwan Setiawan. Iwan memanen domba 28—30 kg per ekor setelah 1,5 bulan pemeliharaan. Itu memungkinkan lantaran peternak di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, itu menggunakan bakalan berbobot 17—20 kg.

Pada 2018 ia memasok 1.600 domba yang melibatkan 10 peternak mitra. Harga domba Iwan Rp44.500 per kg. Bandingkan jika ia menjual domba di pasar lokal yang hanya Rp35.500 per kg. Profit Iwan 27,5% dari harga jual setara Rp12.237 per kg atau Rp367.125 per domba berbobot 30 kg. Didik juga mendukung ekspor karena perusahaan asal Jakarta itu menghendaki domba jantan.

Selama ini domba jantan hanya dijual ketika Idul Adha. Serapan domba jantan di luar hari raya kurban tidak signifikan. Konsumen lebih memilih domba betina yang lebih murah karena cita rasanya pun sama dengan domba jantan. Hampir 80% domba betina mengisi pasar dalam negeri sebagai bahan satai dan gulai. Pasar domestik maupun mancanegara sama-sama memburu Ovis aries itu. (Riefza Vebriansyah/Peliput: Bondan Setyawan & Tamara Yunike)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software