Pasar Ganda Bunga Bokor

Filed in Majalah, Tanaman hias by on 08/03/2019

Sukses mengembangkan agrowisata sekaligus bunga potong. Pendapatan ganda dari satu lahan.

Taman hortensia di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kotamadya Batu, Jawa Timur.

Lazimnya bunga bokor Hydrangea macrophylla berwarna putih bersemburat kuning dan ungu. Di taman bunga seluas 1 hektare itu beragam warna bunga bokor seperti ungu dan merah pekat amat seronok. Petani di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kotamadya Batu, Jawa Timur, Suprihatin membudidayakan bunga bokor itu pada 2017. Di lahan berketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut itu, ia menanam 6.000 hortensia holland per hektare.

“Yang 5.000 warna merah, sisanya ungu,” kata Suprihatin. Semula ia menanam hortensia lokal sejak 2012. Hingga kini ia tetap menanam hortensia lokal rata-rata 3 haktare. “Saya memang penggemar bunga. Kalau ada varian baru, saya langsung ingin menanamnya,” ujar perempuan kelahiran 1 Januari 1961 itu. Ketika memperoleh informasi  hortensia holland, ia berupaya mendapatkannya dari petani tanaman hias di Batu.

Potensi besar

Hortensia holland mulai berbunga 10 bulan sejak tanam.

Suprihatin mengelola total 4 hektare lahan hortensia. Kebun hortensia lokal dan holland itu menarik minat pelancong untuk berkunjung. Setidaknya 50 pengunjung datang per hari.  Pada akhir pekan atau musim liburan, jumlah pengunjung lebih banyak, yakni 100 orang per hari. Mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia seperti Makassar, Jakarta, Surabaya, bahkan Amerika Serikat. Para pengujung berswafoto dengan latar bunga pecah seribu alias hortensia.

Omzet perempuan 57 tahun itu Rp500.000 per hari dari agrowisata hortensia. Ia menetapkan tarif Rp10.000 per pengunjung. Sejatinya tujuan utama Suprihatin menanam hortensia adalah memanen bunga potong. Tanaman anggota famili Hydrangeaceae itu siap panen pada umur 10 bulan sejak tanam. Lima  bulan setelah pindah tanam, hortensia holland itu mulai berbunga. Artinya untuk menghasilkan bunga, hortensia holland memerlukan 10 bulan sejak setek.

Pembungaan perdana itu lebih lama dibandingkan hortensia lokal. “Kalau lokal 4 bulan sejak tanam sudah mulai berbunga,” ujarnya. Suprihatin mempertahankan 10—12 bunga per tanaman. Ia memanen dengan memotong tangkai bunga sepanjang 45 cm. Ia lalu mengemas bunga, membungkus dengan plastik yang terisi air. Hortensia berbunga terus-menerus sehingga panen pun bisa tiap hari. Pada umur 5 bulan hortensia mampu menghasilkan sekitar 6 tangkai bunga. Jumlah itu meningkat seiring pertambahan usia tanaman.

Harga setangkai hortensia holland Rp10.000.

Petani bunga potong sejak 2012 itu memasarkan hortensia ke Surabaya dan Malang, keduanya di Jawa Timur. Harga hortensia holland juga lebih tinggi dibandingkan dengan bokor lokal. Kalau hortensia holland Rp10.000, bunga bokor lokal hanya Rp3.000 per tangkai. Biaya produksi dua jenis hortensia itu pun sama sekitar Rp1.000—Rp1.500 per tangkai. Menurut Suprihatin menanam hortensia holland lebih untung.

Permintaan rata-rata 500 tangkai per hari. “Kadang bisa tembus 1.000, bahkan 2.000 tangkai per hari,” ujarnya. Permintaan melonjak signifikan ketika Imlek dan tahun baru. Dari total bunga potong yang ia kirim, hortensia lokal masih dominan, yakni 1:2 dibanding holland.  Ibu 3 anak itu juga menanam hortensia lokal di lahan 3 hektare. Itu pun terkadang tak muncukupi permintaan ketika saat-saat tertentu seperti hari raya. “Kalau stok kurang, saya bekerja sama dengan petani hortensia lain yang produknya juga berkualitas,” ujarnya.

Budidaya bokor

Suprihatin menanam hortensia lokal sejak 2012.

Suprihatin menanam bibit berupa setek sepanjang 10 cm di polibag atau kantong tanam. Di wadah tanam itu ia menggunakan media campuran tanah dan pupuk kandang kambing perbandingan 2 : 1. Sebulan kemudian ia memberikan pupuk NPK setengah sendok makan. Frekuensi pemupukkan sebulan sekali. Setelah tanaman berumur 5 bulan atau keluar daun, barulah  ia memindahkan ke lahan.

Suprihatin memberikan pupuk kandang ayam 5 bulan sekali dengan dosis 100 karung per hektare untuk perawatan di lahan produksi. Bobot per karung 50 kg. Perempuan kelahiran Blitar, Jawa Timur, itu juga memberikan pupuk kimia berupa  phonska berdosis 200 kg per hektare. Suprihatin juga rutin menyemprotkan pestisida sepekan sekali untuk mencegah serangan hama dan penyakit agar penampilan bunga tetap cantik. Ia menggunakan pestisida berbahan aktif mankozeb dan propamokarb hidroklorida.

Peneliti dari Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi) Prof Budi Marwoto menuturkan pengembangan hortensia di Indonesia cukup bagus. Potensi utamanya sebagai bunga potong. “Di Provinsi Bali misalnya, bunga hortensia biasa disebut bunga pecah seribu dan digunakan sebagai sesaji,” ujar peneliti kelahiran Bandung, 17 Maret 1959 itu. Hortensia ditanam di lereng-lereng gunung, seperti di Tabanan, Bali.

Hortensia lokal berwarna putih.

Namun, kini muncul tren baru membuat taman tropis temporer atau bongkar pasang berdurasi sekitar 6 bulan. “Taman tropis biasanya diisi tanaman-tanaman hias dengan beragam variasi bentuk dan warna daun. Kehadiran hortensia warna-warni bisa mengisi taman itu dengan keindahan bunganya,” ujar Budi Marwoto. (Bondan Setyawan)

Tags: , , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software