Panen Sri 8 Ton per Hektar

Filed in Sayuran by on 07/08/2010 0 Comments

Itu sungguh hasil luar biasa. ‘Padahal dengan serangan hama mencapai 40% panen 1 ton per ha saja sudah bagus,’ ujar Endang. Pada musim tanam 2010 serangan hama wereng di Kabupaten Karawang memang mengganas. Menurut Drs Nanang Sumpena MP, kepala seksi Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian, Kehutanan, dan Perkebunan Kabupaten Karawang, luas areal terserang mencapai 366 hektar di 6 kecamatan. Yaitu Lemahabang, Cikampek, Tirtamulya, Rawamerta, Pakisjaya, dan Purwasari.

Ameng-sapaan Yoskar-pun terpaksa mencabut 40% tanamannya yang terserang hama. Sisanya dipertahankan hingga panen. Sayang, akibat serangan hama 30% dari total gabah yang dihasilkan hampa alias kosong. Namun, hasil 8 ton/ha itu saja sudah luar biasa. ‘Rata-rata petani Indonesia hanya mampu menghasilkan 4,9-5,1 ton gabah kering giling per ha,’ ujar Dr Ir Hasil Sembiring, MSc, kepala Balai Besar Penelitian Padi.

Panen lebih cepat

Menurut Ameng kunci keberhasilannya terletak pada varitas padi yang digunakan dan teknik budidaya intensif. Maklum, pria 47 tahun itu menggunakan varietas baru BUNDA (Benih Unggul Nusantara Deminsi Alam) yang memiliki potensi hasil panen hingga 20 ton/ha. Varietas padi hasil silangan Dr Ir Haryadi, ketua Pusat Kajian dan Pengembangan Pertanian Organik Malang, itu vigor dan menghasilkan malai yang panjang, 30 cm, dengan 400 butir gabah per malai. Bandingkan dengan varietas lain-seperti ciherang, cilamaya, muncul, mekongga, dan PW-yang panjang malainya hanya 20 cm dan menghasilkan rata-rata 200 butir gabah/malai.

Selain itu, waktu panen bisa lebih cepat 5-10 hari. ‘Padi hibrida lain biasanya dipanen pada umur 110-120 hari setelah tanam, tapi padi ini (BUNDA, red) dipanen pada umur 100-105 hari,’ ujar Haryadi.Sayang, meski memiliki banyak keunggulan varietas hasil persilangan padi lokal genjah rawe dan cempo itu belum beredar di pasaran. BUNDA masih dalam tahap ujicoba sebelum dilepas sebagai varietas unggul.

Sejauh ini tahap ujicoba penanaman padi baru itu sudah dilakukan di Banyuwangi, Malang, dan Blitar, Jawa Timur, serta Subang dan Karawang, Jawa Barat. ‘Rata-rata hasil panennya mencapai 14 ton per ha,’ ujar Haryadi. Pusat Kajian dan Pengembangan Pertanian Organik Malang dan Ameng, direktur CV Buana Sakti, produsen pupuk hayati dan pembenah tanah sekaligus penangkar benih, tengah menjajaki kerja sama pemasaran BUNDA.

Peran enzim

Ameng tak menerapkan satu metode budidaya tertentu. ‘Sekitar 60 teknik budidaya telah dicoba sehingga mendapatkan metode yang paling cocok untuk mendapatkan hasil maksimal,’ ujarnya. Sebelum penanaman, tanah diberi kompos asal kotoran hewan 2-3 ton per ha, lalu dibajak sedalam 25-30 cm. Itu sambil membenamkan sisa-sisa tanaman dan rumput. Kemudian gemburkan tanah dengan garu, lalu ratakan. Selanjutnya tanah disemprot dengan larutan pupuk hayati dan pembenah tanah yang dilengkapi enzim sebanyak 60 ml/340 l air per 1 ha.

Menurut Ir Yos Sutiyoso enzim berfungsi untuk memicu dan memacu suatu proses yang peranannya seperti hormon. ‘Dengan begitu proses perbaikan lahan menjadi lebih cepat sehingga nutrisi yang bisa diserap tanaman menjadi lebih banyak,’ kata ahli pupuk di Jakarta itu.

Ir Edhi Sandra MSi ahli fisiologi tanaman, di Bogor, Jawa Barat, mengatakan enzim juga sebagai katalis. Artinya mempercepat reaksi, tapi tak ikut dalam proses reaksi. ‘Di lahan, enzim membantu proses perbaikan lahan lebih cepat dan sempurna,’ ujar kepala unit kultur jaringan di Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, IPB itu.

Sebelum dibibitkan, benih diuji kebernasannya dengan merendamnya dalam larutan garam. Benih yang mengambang pertanda buruk sehingga tak dipakai alias dibuang. Benih terpilih kemudian direndam dalam larutan enzim selama 24 jam. ‘Sebanyak 5-10 kg benih direndam dalam larutan enzim berkonsentrasi 5 ml/10 l air,’ kata Ameng. Setelah ditiriskan benih padi siap ditanam di persemaian selama 10-15 hari sebelum dipindah ke sawah.

Hemat bibit

Ameng menanam 1-2 bibit per lubang tanam sesuai dengan sistem tanam system of rice intensification (SRI). Dengan begitu pertumbuhan padi benar-benar optimal karena tidak ada persaingan nutrisi dalam satu lubang tanam. Bandingkan dengan petani konvensional yang menanam 9 bibit per lubang. ‘Penggunaan bibit pun bisa dihemat hingga 3-4 kali lipat,’ ujar pengusaha sembako di Karawang itu.

Untuk jarak tanam Ameng menggunakan teknologi jajar legowo, 20 cm x 40 cm x 12 cm. Sejak ditanam padi disemprot enzim setiap 2 minggu hingga berumur 60 hari. Pemupukan tambahan diberikan pada saat tanaman berumur 15 hari dan 30 hari setelah tanam dengan cara ditabur di sela-sela tanaman. ‘Dengan begitu semua tanaman mendapatkan nutrisi yang tepat dengan jumlah sama,’ kata Ameng. Konsekuensinya, biaya tenaga kerja dan pupuk meningkat 25% atau lebih tinggi Rp2-juta/ha. ‘Namun, hal itu tak masalah lantaran hasil panen yang diperoleh lebih tinggi dan keuntungan yang diperoleh pun lebih banyak dari luasan lahan yang sama,’ tambahnya.

Untuk mengatasi serangan hama wereng Ameng menyemprotkan pestisida setiap 2 minggu dengan dosis sesuai anjuran. Dengan cara itu ia pun bisa panen 8 ton gabah kering panen (GKP) per hektar. Pada penanaman berikutnya Ameng menerapkan metode baru dengan mengubah jarak tanam agar wereng dan hama penyakit lainnya tak menyerang. (Rosy Nur Apriyanti)

 

Powered by WishList Member - Membership Software