Panen Selada di Gurun

Filed in Majalah, Topik by on 01/08/2016

Inovasi baru untuk menyulap padang pasir menjadi lokasi budidaya sayuran hidroponik.

Bahrain memproduksi aneka jenis sayuran dengan teknik hidroponik rakit apung.

Bahrain memproduksi aneka jenis sayuran dengan teknik hidroponik rakit apung.

Bahkan rumput pun tak mampu tumbuh di hamparan padang pasir itu. Padang pasir di Bahrain, kawasan Asia barat daya itu memang ekstrem, suhu udara pada musim dingin menukik tajam, hanya 6—8°C. Sebaliknya ketika musim panas, suhu membakar hingga 52°C dan kelembapan mencapai 99%. Padang pasir itu sangat tak ramah bagi pertumbuhan tanaman.

Kini di kawasan itu bak negeri dongeng. Hamparan tanaman selada tumbuh subur, hijau menyegarkan ada pula yang merah, dan berukuran seragam. Tanaman anggota famili Brassicaceae itu tumbuh di atas permukaan meja berwarna putih. Lebar meja itu sekitar 1,2 m. Di setiap meja tumbuh 10 baris tanaman. Selada-selada itu tumbuh sentosa di sebuah greenhouse atau rumah tanam berukuran 5.000 m².

Iklim mikro

Prinsip rakit apung pada perangkat talang bertingkat.

Prinsip rakit apung pada perangkat talang bertingkat.

Itulah panorama di Peninsula Farm, membudidayakan aneka jenis selada di dua rumah tanam berukuran sama. Commercial grower asal Indonesia yang menjadi konsultan di Peninsula Farm, Edi Sugiyanto, mampu mengatasi kondisi ekstrem di padang pasir. Ia menerapkan berbagai teknologi untuk menciptakan iklim mikro yang sesuai dengan syarat tumbuh sayuran.Kondisi greenhouse harus selalu sesuai dengan kebutuhan tanaman, baik suhu, sinar matahari, air, sirkulasi udara, kecepatan angin, dan kelembapan,” kata Edi. Ia memodifikasi konstruksi rumah tanam, yakni model multispan.

Model rumah tanam itu gabungan antara tipe tunnel atau lorong dan piggy back alias punggung babi. Atap rumah tanam itu berbentuk melengkung seperti pada tipe tunnel, tapi pada bagian tengah punggung atap tidak menyatu. Salah satu sisi lengkungan berada di atas sisi lengkung yang lain sehingga terbentuk ventilasi di bagian atap yang menjadi ciri khas tipe piggy back.

Peninsula Farm mendirikan bangunan rumah tanam di lahan 50.000 m² untuk memproduksi sayuran hidroponik.

Peninsula Farm mendirikan bangunan rumah tanam di lahan 50.000 m² untuk memproduksi sayuran hidroponik. (Foto-foto: Koleksi Edi Sugianto)

Para pekebun banyak mengadopsi model rumah tanam multispan karena memiliki ventilasi yang optimal. Uniknya di atas atap rumah tanam terdapat kerangka penopang naungan di atas atap untuk mencegah paparan sinar matahari yang terlalu tinggi saat musim panas. “Jika paparan sinar matahari terlalu tinggi, suhu udara di dalam greenhouse semakin panas sehingga dapat mengganggu pertumbuhan tanaman,” tutur Edi Sugiyanto.

Pada saat musim dingin bagian penutup atap terluar dibuka. Tujuannya agar tanaman tetap dapat memanfaatkan sinar matahari yang terbatas secara optimal untuk fotosintesis. Untuk mencegah udara yang terlalu panas di dalam rumah tanam, di bagian dinding rumah tanam terpasang kipas exhaus berukuran jumbo untuk menyedot udara panas di dalam rumah tanam dan membuangnya ke luar. Di bagian dinding juga terpasang cooling pad yang berfungsi mengalirkan udara dari luar masuk ke dalam greenhouse sehingga suhu rumah tanam turun.

Produk Peninsula Farm yang mengisi gerai-gerai pasar swalayan di Bahrain.

Produk Peninsula Farm yang mengisi gerai-gerai pasar swalayan di Bahrain.

Di bagian dalam rumah tanam juga terpasang ratusan kipas angin untuk memperlancar sirkulasi udara. Peninsula Farm membudidayakan aneka jenis sayuran seperti selada, tomat ceri, tomat beef, cabai, dan paprika secara hidroponik. Namun, teknologi hidroponik yang digunakan berbeda-beda tergantung komoditas sayuran. Contohnya selada. Edi membudidayakan sayuran daun itu dengan teknik hidroponik rakit apung.

Rakit apung
Di tanahair teknik hidroponik rakit apung sebetulnya bukan hal baru. Pada 2004 petani di Indonesia menerapkan teknologi budidaya itu. Meski demikian teknik rakit apung kurang populer di Indonesia. Edhi memilih teknologi itu karena disesuaikan dengan kondisi suhu Bahrain yang ekstrem. Edi mengatakan, teknik hidroponik lain seperti nutrient film technique (NFT) tidak cocok diterapkan di daerah padang pasir seperti Bahrain.

“Pada saat musim panas suhu udara di dalam greenhouse sangat panas. Jika menggunakan teknik NFT, konsentrasi larutan nutrisi di talang lebih cepat habis atau cepat pekat karena tingkat penguapan tinggi,” tuturnya. Selain itu suhu nutrisi lebih cepat berubah menjadi panas. Menurut ahli hidroponik asal Inggris, Dr Allen Cooper, dalam “Nutrient Film Technique, Growers Book,” dalam budidaya sayuran hidroponik tanaman tumbuh optimal bila suhu nutrisi 25—30°C. Pertumbuhan tidak akan terjadi pada suhu 10°C dan 35°C.

Peninsula Farm juga memproduksi sayuran dengan teknik hidroponik bertingkat.

Peninsula Farm juga memproduksi sayuran dengan teknik hidroponik bertingkat.

Menurut Edi dalam teknik rakit apung volume nutrisi dalam bak penampung jauh lebih banyak dibandingkan dengan teknik NFT. Dalam perangkat hidroponik rakit apung di Peninsula Farm kedalaman larutan nutrisi dalam bak mencapai 12 cm. “Volume nutrisi yang lebih banyak membuat suhu larutan nutrisi lebih stabil dan tidak mudah berubah akibat udara panas di dalam greenhouse,” ujar Edi.

Tangki dan pompa nutrisi yang dikendalikan secara otomatis dengan komputer.

Tangki dan pompa nutrisi yang dikendalikan secara otomatis dengan komputer.

Sebagai konsultan, Edi juga memasang pompa yang mendorong larutan nutrisi dalam bak agar mengalir dengan kecepatan tertentu dan terjadi resirkulasi. “Dengan begitu suhu udara yang panas di dalam greenhouse tidak terlalu berpengaruh pada peningkatan suhu larutan nutrisi,” ujarnya. Di dasar bak penampung nutrisi itu Edi memasang pipa yang permukaannya berlubang. Edi memompa nutrisi melalui pipa itu dan keluar melalui lubang-lubang kecil di permukaan pipa.

“Dengan teknik seperti itu larutan nutrisi yang diberikan juga berkadar oksigen tinggi sehingga pertumbuhan tanaman lebih optimal,” tuturnya. Menurut praktikus hidroponik di Jakarta, Yos Sutiyoso, dalam teknik rakit apung pengelolaan instalasi sangat mudah. Bahkan, para pekebun dapat merancang instalasi hidroponik rakit apung dengan cara sederhana sehingga investasi lebih murah.

Vertikal

Pemasangan kipas exhaust di dinding rumah tanam untuk mengoptimalkan sirkulasi udara dalam rumah tanam.

Pemasangan kipas exhaust di dinding rumah tanam untuk mengoptimalkan sirkulasi udara dalam rumah tanam.

Selain teknik rakit apung, Peninsula Farm juga membudidayakan selada pada talang yang disusun secara vertikal pada rak berbentuk hurup A. Edi mengatakan, prinsip kerja hidroponik vertikal itu sama dengan teknik rakit apung. Di dalam talang itu berisi larutan nutrisi dengan volume yang lebih banyak dibandingkan dengan teknik NFT. Kedalaman nutrisi pada talang mencapai 8 cm atau 3/4 dari kedalaman talang yang mencapai 10 cm.

“Kedalaman larutan nutrisi disesuaikan dengan fase pertumbuhan tanaman,” kata Edi. Ia menyusun talang-talang itu dengan posisi datar, tidak miring seperti lazimnya pada perangkat NFT. Menurut konsultan itu posisi talang yang miring membuat jumlah larutan nutrisi tidak merata. Pada bagian hulu kedalaman nutrisi lebih dangkal dibandingkan dengan di hilir sehingga kemungkinan pertumbuhan menjadi tidak seragam.

Namun, larutan nutrisi pada talang itu tetap harus mengalir agar terjadi resirkulasi. Oleh sebab itu Edi memasang pompa yang mendorong larutan nutrisi pada talang agar dapat mengalir dengan kecepatan tertentu. Pada metode itu panjang talang yang digunakan maksimal sepanjang 15 m. “Kalau lebih panjang dari itu membutuhkan pompa dengan daya dorong yang lebih kuat,” ujar mantan Sekretaris Jenderal Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI) itu.

Peninsula Farm membudidayakan tomat ceri menggunakan talang yang dirancang khusus dan memanfatkan jasa lebahuntuk membantu penyerbukan.

Peninsula Farm membudidayakan tomat ceri menggunakan talang yang dirancang khusus dan memanfatkan jasa lebahuntuk membantu penyerbukan.

Peninsula Farm juga memproduksi aneka jenis tomat, seperti ceri merah, ceri kuning, dan tomat beef di 3 rumah tanam yang masing-masing berukuran 5.000 m². Untuk budidaya tomat, Edi menggunakan lebar talang berbahan stirofoam yang lebih lebar, yakni mencapai 60 cm. “Desain talang itu dipesan khusus,” tutur Edi. Talang itu memiliki penutup dengan panjang yang sama dengan lebar talang.enutup talang itu sekaligus menopang tanaman tomat.

Setiap tutup talang itu hanya terdiri atas satu lubang tanam, yakni di bagian tengah. Tingkat kedalaman talang mencapai 40 cm dan diisi larutan nutrisi dengan kedalaman disesuaikan dengan pertumbuhan tanaman. Prinsip kerja perangkat itu sama dengan rakit apung dan talang bertingkat. Edi memelihara lebah untuk membantu penyerbukan bunga tomat agar menjadi buah.

Harap mafhum, tomat tumbuh di dalam rumah tanam dan area di sekeliling rumah tanam berupa padang pasir. Teknologi itu biasanya juga diterapkan para pekebun tomat di Belanda. Dengan kombinasi teknik hidroponik dan bantuan serangga itu Edi mampu memproduksi 48 kg tomat per m² per tahun. Peninsula Farm juga memproduksi paprika dan cabai masing-masing di dua rumah tanam dan 1 rumah tanam.

Media khusus

Peninsula Farm membudidayakan paprika pada media tanam rockwool.

Peninsula Farm membudidayakan paprika pada media tanam rockwool.

Untuk memproduksi dua tanaman angggota famili Solanaceae itu Edi menggunakan teknik hidroponik substrat dengan media tanam wol batu atau rockwool—media tanam berbahan batu hasil pemanasan ribuan derajat selsius. Menurut Edi untuk hidroponik substrat sebetulnya bisa saja menggunakan media tanam lain yang lebih efisien seperti arang sekam dan serbuk sabut kelapa atau cocopeat.

Namun, menurut Edi kedua media tanam itu tidak tahan lama. Dalam membudidayakan paprika tanaman biasanya dibiarkan produksi hingga tanaman berumur hingga satu tahun. “Pada umur itu arang sekam sudah hancur sehingga harus diganti dan merepotkan,” ujar alumnus Sekolah Menengah Teknik (SMT) Pertanian Slawi, Kota Tegal, Jawa Tengah, itu.

Edi Sugiyanto, commercial grower asal Indonesia yang mengelola produksi sayuran hidroponik di Bahrain.

Edi Sugiyanto, commercial grower asal Indonesia yang mengelola produksi sayuran hidroponik di Bahrain.

Selain tahan lama, media tanam wol batu juga memiliki banyak kelebihan. Struktur seratnya yang khusus membuat perakaran lebih cepat tumbuh dan merata. Para pekebun juga dapat menyesuaikan dengan cepat jika kadar air mengalami penurunan yang signifikan akibat udara panas yang memicu penguapan tinggi. “Daya ikat air dan nutrisi juga lebih baik sehingga media tanam tidak cepat kering bila suhu udara di dalam rumah tanam terlalu panas. Media rockwool juga sudah terstandarisasi sehingga lebih mudah mengontrolnya,” tutur Edi.

Dengan berbagai teknologi itu kini Bahrain dapat mengurangi ketergantungan terhadap sayuran impor. Sebelum industri pertanian hadir di Bahrain, 80% kebutuhan sayuran salah satu negara penghasil minyak bumi itu diimpor dari berbagai negara seperti Belanda, Thailand, Malaysia, Yordania, dan India. “Kini hanya 40% yang diimpor dari luar negeri,” kata Edi. Negara yang berarti di antara dua lautan itu bahkan mengekspor sebagian produksi sayuran hidroponiknya ke Arab Saudi. (Imam Wiguna)

Tags: , , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software