Panen Sayuran di Pinggir Gang

Filed in Majalah, Sayuran by on 12/03/2018
Aneka sayuran hidroponik saat peresmian program Gang Hijau pada 28 Desember 2017.

Aneka sayuran hidroponik saat peresmian program Gang Hijau pada 28 Desember 2017.

Wakil Gubernur Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, Sandiaga Salahuddin Uno, meresmikan program Gang Hijau.

Gang selebar 3 m itu terlihat begitu asri. Kanopi tanaman anggur dan barisan polibag berisi aneka sayuran seperti kangkung dan bayam menyejukkan siapa pun yang melewatinya. Tidak terkecuali Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Salahuddin Uno, yang mengunjungi daerah itu. Ia begitu senang melihat kangkung berbatang bongsor tumbuh di Gang MHT 1 dan Gang MHT 2, Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Pemandangan itu mengingatkannya pada kangkung plecing yang berkembang di Nusa Tenggara Barat. Sandiaga juga senang masyarakat menanam tanaman herbal yang bermanfaat seperti bawang dayak. Di sana juga tumbuh labu madu alias butternut squash yang rasanya enak.

Kedatangan Sandiaga ke lokasi itu dalam rangka meresmikan program Gang Hijau pada 28 Desember 2017. Pria 48 tahun itu memberikan apresiasi positif pada kegiatan yang terselenggara berkat kerjasama Majalah Trubus, Bank Indonesia DKI Jakarta, serta Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (DKPKP) Provinsi DKI Jakarta.

Multifaedah

Gang MHT 1 & 2 RT. 10 RW. 03, Kelurahan Cempaka Putih Timur, Jakarta Pusat, terpilih sebagai salah satu penerima manfaat gang hijau.

Gang MHT 1 & 2 RT. 10 RW. 03, Kelurahan Cempaka Putih Timur, Jakarta Pusat, terpilih sebagai salah satu penerima manfaat gang hijau.

Menurut Sandiaga pertanian perkotaan atau urban farming memiliki banyak manfaat antara lain menciptakan lapangan pekerjaan, edukasi bertani di perkotaan, dan ruang terbuka hijau. Pertanian perkotaan juga dapat menjadi solusi untuk menjaga stabilitas harga bahan pokok seperti cabai. Harap mafhum harga cabai relatif fluktuatif. Bahkan, pada 2016 harga cabai rawit dan merah keriting pernah menembus harga Rp120.000—Rp160.000/kg. Menanam cabai di pekarangan salah satu solusinya.

Apalagi rata-rata warga Jakarta menyukai masakan pedas sehingga sangat bergantung pada ketersediaan cabai. Ia juga memastikan pasokan cabai cukup dan distribusinya lancar sehingga harganya stabil. Yang paling penting Sandiaga menginstruksikan setiap Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) wajib membeli hasil pertanian perkotaan jika hasil panen berlebih. “Kita pastikan produk pertanian perkotaan terserap pasar sehingga bernilai ekonomis,” kata Sandiaga. Terutama komoditas penting seperti cabai dan bawang merah karena dikonsumsi sehari-hari.

Sandiaga berencana mengarahkan program pertanian perkotaan pada diversifikasi dan fokus produk. Lokasi penanaman tidak melulu di gang. Tempat lain seperti rumah susun (rusun), kantor pemerintahan, lahan milik pemerintah, dan kawasan elit seperti Jalan Sudirman dan Thamrin pun berpotensi mengembangkan pertanian perkotaan. Sandiaga berharap produk pertanian perkotaan dipamerkan di bazar yang diselenggarakan berbarengan dengan program one kecamatan one center for entrepreneurship (OKOC).

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Salahuddin Uno menanam bibit mangga setinggi 1,5 meter sebagai tanda peresmian gang hijau.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Salahuddin Uno menanam bibit mangga setinggi 1,5 meter sebagai tanda peresmian gang hijau.

Tujuannya memperluas pasar sekaligus meningkatkan kecintaan masyarakat kepada produk lokal. Menurut Kepala Dinas DKPKP, Ir., Darjamuni M.M., program Gang Hijau diinisiasi pada 2016. Total jenderal ada 150 gang yang terpilih mengikuti program. Hasilnya pada 2017 terdapat 75 gang yang tadinya gersang menjadi hijau dan menghasilkan produk bermanfaat.

Koordinasi antara pemerintah pusat hingga RT dan RW setempat sangat berperan dalam menyukseskan program. “Contohnya dari walikota Jakarta Pusat, camat Cempaka Putih, hingga lurah Cempaka Putih Timur yang peduli kegiatan Gang Hijau,” kata Darjamuni. Ia berharap pada 2018 kualitas produk hasil budidaya hidroponik dan program Gang Hijau meningkat. Pasalnya, pada 2018 Deputi Bidang Tata Ruang dan Lingkungan DKPKP menginisiasi peraturan gubernur dan instruksi gubernur sehingga memiliki payung hukum kuat untuk mengembangkan program Gang Hijau di seluruh wilayah DKI Jakarta.

Menguntungkan
“Meskipun belum menambah penghasilan, pertanian perkotaan bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari warga,” kata Darjamuni. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi DKI Jakarta, Doni P Joewono, mengatakan pertanian bisa dilakukan di ibukota. Itu terbukti pada program pertanian perkotaan yang diselenggarakan BI sejak 2015. Pada program sebelumnya BI bekerja sama dengan ibu-ibu anggota Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) pada 15 titik di 3 kelurahan yaitu Kebonjeruk, Malakasari, dan Kebonkosong.

Wakil Gubernur DKI Jakarta, SandiagaSalahuddin Uno (tengah, jajaran depan), Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta, Doni P Joewono (kedua dari kanan jajaran depan), dan  Kepala Dinas DKPKP, Ir Darjamuni MM (paling kanan jajaran depan) berfoto dengan pejabat setempat dan pasukan oranye pada peresmian program Gang Hijau.

Wakil Gubernur DKI Jakarta, SandiagaSalahuddin Uno (tengah, jajaran depan), Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta, Doni P Joewono (kedua dari kanan jajaran depan), dan Kepala Dinas DKPKP, Ir Darjamuni MM (paling kanan jajaran depan) berfoto dengan pejabat setempat dan pasukan oranye pada peresmian program Gang Hijau.

Bank Indonesia juga bekerja sama dengan DKPKP melakukan pertanian perkotaan di Rusun Pesakih, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat dan Rusun Cibesel, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur. “Pertanian perkotaan di kedua tempat itu menghasilkan 1,3 ton aneka sayuran dari awal mulai program hingga sekarang. Hasil panen tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri, tetapi sudah dijual. Salah satu warga di Cibesel bisa mudik dari hasil perniagaan sayuran,” kata Doni.

Menurut Doni pada 2018 BI Provinsi DKI Jakarta tetap bekerjasama dengan DKPKP membina 25 titik gang yang terpilih mengikuti program Gang Hijau. Ia berharap dengan program itu warga bisa memanen cabai di pekarangan sehingga harga relatif stabil. Di Jakarta komoditas yang harganya fluktuatif adalah cabai, bawang merah, dan telur ayam. Kegiatan itu diharapkan menjadi salah satu solusi mengatasi harga komoditas yang berfluktuasi. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software