Panen Sawit Melejit 

Filed in Inspirasi, Majalah by on 17/01/2020

Kelapa sawit di tanah mineral pertumbuhan tegak, hasil lebih optimal dibandingkan dengan penanaman di lahan gambut.

Mengatur populasi kelapa sawit untuk meningkatkan hasil panen.

Para petani kelapa sawit biasa menerapkan pola tanam persegi sehingga populasi hanya 123 tanaman per hektare. Namun, kini mereka dapat meningkatkan populasi kelapa sawit hingga 143 pohon per hektare. Menurut dosen Program Studi Agroteknologi, Universitas Asahan, Sumatera Utara, Amar Maruf, M.Sc., populasi tinggi dengan menerapkan pola tanam segitiga sama sisi 9 m x 9 m x 9 m.

Artinya dengan menerapkan pola tanam segitiga sama sisi bisa meningkatkan populasi 11% per hektare. Selisih populasi mencapai 20 tanaman per hektare. Potensi hasil panen pun akan meningkat seiring meningkatnya populasi. Menurut pakar kelapa sawit di Kota Bogor, Jawa Barat, Dr. Ir. Darmono Taniwiryono, M.Sc, pola tanam segitiga sama sisi menyebabkan pemanfaatan lahan lebih optimal.

Cegah rebah

Pertukaran kation di tanah mineral lebih optimal dibandingkan dengan di tanah gambut.

Pakar kelapa sawit di Jakarta, Dr. Ir. Witjaksana Darmosakoro, M.S., menuturkan, pola segitiga sama sisi lazim untuk tanaman dengan tajuk membulat. Tanaman keluarga Arecaceae itu memiliki tajuk membulat sehingga populasi bisa optimal dengan pola tanam segitiga sama sisi. Menurut pekebun kelapa sawit di Kota Medan, Sumatera Utara, Daniel Jaidi Purba, lazimnya populasi tanaman di lahan gambut lebih padat.

Pori pada lahan gambut relatif lebar dibandingkan dengan tanah mineral. Populasi lebih padat mencegah tanaman rebah. Alasan lainnya meningkatkan produktivitas. Menurut Amar rata-rata populasi sawit di lahan gambut mencapai 156 tanaman per hektare. Menurut periset di Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Kota Medan, Sumatera Utara, Dr. Iman Yani Harahap, sebetulnya pekebun bisa menanam kelapa sawit dengan populasi lebih rapat, yakni 181 pohon per hektare. Jarak tanam 7,3 m x 7,3 m.

Namun, populasi tinggi itu terbatas hingga tanaman berumur 7—10 tahun. Oleh karena itu, petani harus melakukan dua kali penjarangan. Pertama, saat tanaman berumur 7 tahun dengan mengurangi 25 pohon sehingga terdapat 156 pohon. Penjarangan kedua pada saat tanaman berumur 10 tahun dengan mengurangi 31 pohon. Setelah penjarangan kedua, populasi total 125 pohon per hektare.

Menurut Direktur PPKS, Dr. Muhammad Edwin Syahputra Lubis, M.Agr.Sc., petani dapat menerapkan pola penanaman padat di lahan yang memiliki potensi serangan hama penyakit tinggi. Seperti tanah gambut atau lahan potensial serangan Ganoderma sp. Namun, sebaiknya dilakukan bertahap. Uji coba terlebih dahulu dengan pengamatan intensif, terutama indeks luas daun (ILD).

Pola tanam, kualitas tanah, bibit, dan pemupukan penentu hasil panen.

Jika nilai ILD maksimal 6 maka harus dilakukan penjarangan. Rata-rata ILD mencapai 6 pada umur tanaman 6—7 tahun. “Semua varietas sawit kreasi PPKS dapat digunakan untuk penanaman populasi tinggi,” kata Edwin. Menurut Kepala Afdeling II Kebun Cikasungka PT Perkebunan Nusantara VIII, Jimmy Permana, pola tanam beraturan untuk mengoptimalkan populasi efektif di lahan datar.

Sebaliknya di lahan berbukit pola tanam menyesuaikan kontur lahan. “Populasi pada kontur berbukit tidak bisa diprediksi, sebab jarak antarkontur berbeda,” kata Jimmy. Menurut Amar di areal berbukit perlu dibuat teras kontur terlebih dahulu. Jarak dan pola tanam harus dibuat seoptimal mungkin, sehingga setiap tanaman mendapat ruang perkembangan kanopi dan sinar matahari optimum dan merata.

Menurut Jimmy faktor lain yang mempengaruhi populasi dan produksi adalah kualitas tanah. Secara umum kualitas tanah dibedakan menjadi tanah mineral dan gambut. “Setiap perusahaan rata-rata mempunyai aturan baku mengenai populasi di tiap kualitas lahan,” katanya. Secara umum populasi kelapa sawit pada satuan lahan dipengaruhi oleh kontur, kualitas tanah, dan jenis bibit (baca: Memacu Tumbuh Bibit Sawit halaman 86—87).

Menurut Product Development Marketing PT Wilmar Chemical Indonesia, Ramdhani, pada tanah gambut produksi lebih rendah dibandingkan dengan tanah mineral meskipun populasi tanaman lebih banyak. Kendalanya tanaman kerap kekurangan unsur hara terutama hara mikro. Pekebun kerap mengabaikan kebutuhan mikro. Padahal, hara mikro seperti seng, tembaga, dan borat juga mempengaruhi panen. Solusinya petani harus memberikan pupuk mikro pada tanah potensial kekurangan hara.

Pupuk mikro dari sebelah kiri: seng, tembaga, dan borat berfungsi untuk mencegah defisiensi hara dan meningkatkan produksi kelapa sawit.

Praktikus nutrisi kelapa sawit di Jakarta, Herman Suriato, mengatakan, pemilihan kebun mempengaruhi hasil panen. Salah faktor penentu adalah kualitas bahan organik. Tanah dengan bahan organik ideal akan optimal pertukaran kationnya jika diberi pupuk. Menurut Witjaksana pekebun juga perlu memperhatikan kandungan C-organik tanah. Jika C-organik tanah kurang dari 1% menyebabkan tandan kosong.

C-organik merupakan hal vital untuk kesehatan tanah. Kondisi ideal kadar C-organik pada kisaran 4%. Menurut Herman di kebun produktivitas rendah lazimnya perakaran pendek. Indikator tanaman kelapa sawit sehat panjang akar bisa mencapai 90 cm. Akar panjang memudahkan mengambil air dan nutrisi di dalam tanah, terutama pada musim kemarau. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software