Panen Padi Berlipat Ganda

Filed in Inspirasi, Majalah by on 09/12/2020

Luas panen padi berkurang 700.000 hektare pada 2019.

Kombinasi pupuk organik, pupuk hayati, dan anorganik sesuai kebutuhan tanaman meningkatkan panen padi.

Badan Pusat Statistik mencatat, luas panen padi pada 2019 menurun 700.047 hektare. Akibatnya produksi gabah kering giling (GKG) pun anjlok hampir 4,6 juta ton. Praktis produksi beras turut berkurang 2,6 juta ton. Produksi beras 2019 hanya 31,3 juta ton padahal tahun sebelumnya mencapai 33,9 juta ton.

Petani di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Edi Sugianto.

Menurut staf pengajar Departemen Agronomi dan Hortikultura Institut Pertanian Bogor, Dr. Ir. Sugiyanta, M.Si., bila produktivitas sawah di Jawa 5,89 ton per hektare, potensi kehilangan padi dapat mencapai 49.000 ton per tahun. Sugiyanta menyarankan intensifikasi yang terkawal dan dan menyeluruh terutama di seluruh sawah di Pulau Jawa dapat menyelamatkan kehilangan produksi itu.

Dosis secukupnya

Menurut Sugiyanta intensifikasi itu meliputi penggunaan varietas unggul dengan potensi produktivitas lebih dari 10 ton per hektare dan benih label biru atau ungu bersertifikat. Selain itu, perbaikan lahan dengan meningkatkan bahan organik serta pemupukan dan pengairan yang presisi turut menunjang perbaikan. Pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) terpadu tak kalah penting.

Penerapan praktik pertanian yang baik (good agricultural practices, GAP) lain juga perlu diperhatikan seperti umur bibit, jarak dan sistem tanam. Aplikasi pupuk hayati dan biostimulan menjadi komponen penting. Petani di Desa Balongcabe, Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Edi Sugianto, berhasil mengombinasikan pupuk organik, pupuk hayati, dan pupuk anorganik untuk meningkatkan produksi.

Pupuk organik untuk pemupukan dasar.

Edi memperoleh 3 ton gabah kering panen (GKP) dari lahan 2.500 m². Artinya potensi hasil padi hibrida Edi dapat mencapai 12 ton per hektare. Padahal, petani di sekitarnya hanya mampu 8 ton per hektare. Edi yang bercocok tanam sejak 1998 itu memadukan pupuk organik Petroganik dan pupuk hayati Petro Biofertil. Keduanya bersinergi menyediakan tempat tumbuh yang ideal bagi tanaman.

Pemupukan susulan dengan pupuk anorganik tunggal seperti Urea, SP-36, KCl, dan ZA. Dosis dan frekuensi ia sesuaikan kebutuhan tanaman. Pemupukan tinggi nitrogen diberikan pada 10 hari setelah tanam (hst). Pada umur 20 hst, Edi mengurangi kadar nitrogen sebab Biofertil dan bakteri dalam tanah juga menghasilkan nitrogen.

Pupuk hayati berperan sebagai pembenah tanah.

Periset di Balai Penelitian Tanah, Dr. Ir. Diah Setyorini, M.Sc., mengatakan, pupuk organik berperan meningkatkan kesuburan dengan memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Selain itu, pupuk organik juga menjadi sumber hara tanaman meski kandungannya kecil. Oleh karena itu, tetap diperlukan tambahan unsur hara sesuai fase pertumbuhan tanaman.

Awal musim

Dosis nitrogen berlebihan dapat meningkatkan persentase gabah hampa.

Sejumlah peneliti melakukan uji tanam berbagai variasi dosis pupuk anorganik untuk mencukupi hara yang diperlukan tanaman. Yohanna Ambarita, Didik Hariyono, dan Nurul Aini membuktikan pentingnya unsur nitrogen pada awal pertumbuhan padi. Jika nitrogen yang tercukupi, fotosintesis berjalan optimal sehingga produksi biomassa dapat meningkat.

Menurut peneliti dari jurusan Budidaya Pertanian, Universitas Brawijaya, itu pupuk majemuk NPK 125 kg dan pupuk tunggal Urea 75 kg per hektare merupakan dosis rekomendasi. Dosis itu berdasarkan pertimbangan efisiensi biaya. Lebih dari takaran itu, tanaman tidak dapat memanfaatkannya dengan sempurna. Dosis berlebihan justru meningkatkan persentase gabah hampa 15,7—19,2%.

Yohanna dan rekan-rekan menjelaskan pemberian nitrogen berlebihan dapat menghambat penyerapan unsur lain seperti fosfat dan kalium. Defisiensi fosfat dapat meningkatkan persentase gabah hampa sehingga bobot dan kualitas gabah pun menurun. Selain itu, kekurangan fosfat juga menghambat laju pemasakan dan menurunkan respons tanaman terhadap pemupukan.

Peneliti lain dari Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi, Badan Tenaga Nuklir Nasional, Taufiq Bachtiar, Setiyo Waluyo, dan Sri Harti Syaukat, menunjukkan kombinasi pupuk kandang dan pupuk tunggal fosfat dapat meningkatkan komponen hasil padi. Pemberian pupuk kandang 5 ton per hektare dan SP-36 sebesar 50% atau 100% terbukti menghasilkan bobot kering gabah (BKG) lebih tinggi yakni 583—648 gram per tanaman.

Bobot kering tanaman (BKT) mencapai 951—1.048 gram per tanaman. Aplikasi pupuk kandang saja menghasilkan BKG 344 gram per tanaman dan BKT 715 gram per tanaman. Taufiq dan rekan-rekan menjelaskan pemberian pupuk kandang 20 ton per hektare sekaligus di awal musim mampu meningkatkan respon tanaman terhadap pemupukan SP-36.
Itu dapat mendukung pertumbuhan tanaman dan meningkatkan hasil pada musim berikutnya. Menurut Sugiyanta serangkaian komponen intensifikasi itu dapat menaikkan produksi sekitar 500 ribu ton hingga satu juta ton per musim tanam dilakukan dengan sungguh-sungguh. Syaratnya, alih fungsi lahan sawah harus segera dihentikan. (Sinta Herian Pawestri/Peliput: Riefza Vebriansyah)

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software