Panen Ochee di Tanah Berpasir

Filed in Buah, Majalah by on 06/02/2020

Ukuran buah optimal, rata-rata berbobot lebih dari 2 kg.

 

Durian duri hitam alias ochee mampu berbuah meski tumbuh di dataran rendah dengan tanah cenderung lempung berpasir.

Setelah menunggu 6 tahun, impian Nauval Firdaus mencicipi durian duri hitam alias ochee dari kebun sendiri akhirnya terwujud. Pekebun di Desa Pulorejo, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, itu memanen 11 buah ochee dari satu pohon berumur 6 tahun. “Sebetulnya itu buah dari bunga kedua. Pada musim sebelumnya bunga gagal menjadi buah karena semua rontok,” tutur Nauval.

<script async src=”https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js”></script>
<ins class=”adsbygoogle”
style=”display:block”
data-ad-format=”fluid”
data-ad-layout-key=”-er+o+l-go+rw”
data-ad-client=”ca-pub-4696513935049319″
data-ad-slot=”3417295201″></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>

Pada Desember 2019 Nauval memanen 11 ochee. Meski buah perdana kualitas daging buah tergolong bagus dan mendekati karakter ochee di Malaysia. Warna daging buah jingga mentereng dengan kerutan pertanda tekstur daging buah lengket dan creamy. “Rasa masih dominan manis, tapi ada rasa pahit di akhir,” ujarnya.

Dataran rendah

Hasil panen ochee dari kebun Nauval Firdaus mendekati karakter dari negara asalnya, Malaysia.

Nauval bahagia impian mencicip ochee dari kebun sendiri di dataran rendah akhirnya terwujud. Padahal, kebun Nauval berlokasi berketinggian hanya 45 meter di atas permukaan laut (m dpl). Di negara asalnya ochee sebagian besar tumbuh di ketinggian lebih dari 200 m dpl. Apa kunci Nauval membuahkan ochee di lahan dataran rendah? Saat fase pertumbuhan tanaman (vegetatif) Nauval memberikan pupuk berkadar nitrogen (N) tinggi dan fosfor (P) rendah.

 

Ia menaburkan pupuk itu di area perakaran selebar tajuk. Oleh karena itu, kebutuhan pupuk tergantung lebar tajuk. Jika tajuk lebih lebar maka kebutuhan pupuk menjadi lebih banyak. Ia juga memberikan pupuk dengan cara menyemprotkan ke seluruh tanaman. Memasuki fase berbunga dan berbuah (generatif) ia memberikan pupuk yang mengandung fosfor (P), kalsium (Ca), dan kalium (K) tinggi.

Cara pemupukan sama seperti pada fase vegetatif. Perawatan seperti itu ternyata mampu membuahkan hasil, ia panen ochee dari sebuah pohon. Sebetulnya Nauval menanam 5 bibit duri hitam masing-masing setinggi 1 m pada 2013. Namun, hanya satu pohon yang selamat dan mampu bertahan hidup dan berbuah. Pada 2016 ia kembali menanam 15 pohon ochee. Ia mengakui kondisi tanah di kebunnya memang kurang ideal untuk budidaya durian. Ada dua persoalan pokok budidaya durian ochee di kebun Nauval. Pertama, lokasi kebun di dataran rendah. Kedua, jenis tanah yang lempung berpasir sehingga kurang ideal untuk budidaya durian.

Menurut dosen Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Kota Malang, Jawa Timur, Dr. Ir. Budi Prasetya, M.P., kondisi tanah lempung berpasir memiliki kemantapan agregat yang tidak stabil. Ketika tanah itu dipadatkan, tanah lempung berpasir mampu menjaga kepadatan, tapi mudah pecah. Kelemahan tanah seperti itu sulit menahan air dan membuat drainase berlebihan. Akibatnya, ketersediaan air dan pupuk yang dapat digunakan oleh tanaman sangat rendah.

Perbaikan tanah

Budi Prasetya menuturkan, sebaiknya pekebun memperbaiki dulu kondisi tanah seperti itu dengan cara meningkatkan kemantapan agregat tanah. Tujuannya agar kemampuan tanah memegang air dan nutrisi meningkat. Caranya dengan memberikan bahan organik hasil penguraian biomassa, miselium cendawan, atau eksopolisakarida (EPS) asal bakteri. Eksopolisakarida adalah semua bentuk polisakarida bakteri yang ditemukan di luar dinding sel dan merupakan salah satu produk bioaktif yang dihasilkan oleh mikroorganisme.

Pohon induk ochee yang disertifikasi berkode D200 tumbuh di lahan berketinggian 200 m dpl.

Salah satu mikroorganisme yang menghasilkan EPS adalah bakteri asam laktat. Budi bersama tim meneliti pemanfaatan bakteri asam laktat untuk memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah lempung berpasir. Dalam penelitian itu Budi dan tim menggunakan bakteri Lactobacillus fermentum. Ia mengisolasi bakteri gram positif itu dari terasi, lalu memurnikannya.

Selanjutnya Budi dan tim menguji efek penambahan bakteri terhadap agregat tanah. Kapasitas lapang tanah sebelum perlakuan 450 ml/kg tanah. Selanjutnya Budi membagi kelompok uji menjadi 4 perlakuan. Kelompok I menjadi kontrol, yakni hanya ditambahkan 450 ml akuades. Adapun pada kelompok II Budi menambahkan 100 ml molase yang diencerkan dengan 350 ml akuades dan diberi bakteri sebanyak 1,67 x 104.

Pada kelompok III Budi menambahkan 200 ml molase yang dilarutkan dalam 250 ml akuades dan penambahan 2,13 x 105 bakteri. Sementara itu pada kelompok IV periset memberi perlakuan berupa 400 ml molase yang diencerkan dengan 50 ml akuades dengan jumlah bakteri 3,54 x 106. Hasil penelitian menunjukkan, pemberian bakteri Lactobacillus fermentum berpengaruh nyata terhadap peningkatan agregat tanah lempung berpasir.

Tanah pada kelompok kontrol memiliki stablitas agregat 0,48 mm (kurang mantap). Stabilitas agregat tanah setiap kelompok perlakuan meningkat seiring lamanya masa inkubasi sampai 30 hari. Kelompok II, III, dan IV masing-masing mengalami peningkatan menjadi 1,27 mm (sangat stabil), 1,43 mm (sangat mantap), dan 2,05 mm (sangat mantap sekali). Lactobacillus fermentum juga berpengaruh terhadap peningkatan bahan organik, fosfor (P) tersedia, dan kalium (K) tersedia. (Imam Wiguna)

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software