Panen Melonjak 60%

Filed in Sayuran by on 01/02/2013 0 Comments
Hariyanto memanfaatkan suplemen untuk tanaman jagung sejak 2011

Hariyanto memanfaatkan suplemen untuk tanaman jagung sejak 2011

Hariyanto menuai 11,2 ton jagung kering pipil per hektar. Produksi meningkat 60%.

“Dari semula 7 ton menjadi 11,2 ton per hektar,” kata Hariyanto semringah. Pekebun di Desa Sekaran, Kecamatan Kayan Kidul, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur, itu mengisahkan panen jagung di ladangnya meningkat 60%. Panen terakhir pada November 2012, pekebun yang mengelola 3 ha lahan itu menuai 11,2 ton jagung pipilan per ha. Saat itu Haryanto menjual Zea mays  Rp2.700 per kg sehingga ia memperoleh omzet Rp30,2-juta per hektar. Menurut Haryanto biaya produksi Rp5,6-juta per hektar.

Padahal, pada saat bersamaan, para pekebun jagung lain di desanya hanya bisa gigit jari. Musababnya, cendawan Peronosclerospora maydis meluluhlantakkan tanaman anggota famili Poaceae itu. “Serangan bervariasi, mulai dari 40% hingga 100%,” ujar Hariyanto. Gejalanya berupa garis-garis sejajar tulang daun di permukaan daun berwarna putih sampai kuning. Garis putih sampai kuning itu memenuhi daun dan merusak klorofil sehingga jagung gagal berfotosintesis. Hariyanto menuturkan serangan bulai muncul pada jagung umur 21 hari setelah tanam.

Raman Ramachandran PhD, senior vicepresident crop protection Asia Pasific BASF,mengungkapkan pada 2050, perlu peningkatanproduksi pangan 70% dibandingkan pada 2007

Raman Ramachandran PhD, senior vice
president crop protection Asia Pasific BASF,
mengungkapkan pada 2050, perlu peningkatan
produksi pangan 70% dibandingkan pada 2007

Penambahan asam amino membuat tongkol jagung lebih panjang 2,5 cm (kanan) dibandingkan normal

Penambahan asam amino membuat tongkol jagung lebih panjang 2,5 cm (kanan) dibandingkan normal

Suplemen

Sejatinya jagung di ladang Hariyanto juga tak luput dari serangan bulai, tetapi hanya 5% sehingga produktivitas tinggi. Begitu juga kondisi tanaman di lahan Agus Joko Lelono di Desa Trayang, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur. Penyakit bulai memang tak menyerang jagung milik Agus. Sejak 2 tahun silam produktivitas jagungnya meningkat 20%, semula 4 ton menjadi 4,8 ton dari lahan 5.600 m2.

Produksi jagung di lahan Hariyanto dan Agus meningkat karena mereka menambahkan suplemen tanaman yang mengandung senyawa aktif piraklostrobin. Hariyanto 2 kali menyemprotkan suplemen itu saat jagung berumur 9 hari dan 30 hari setelah tanam. Sementara frekuensi penyemprotan di ladang Agus 3 kali, saat jagung berumur 9 hari, 20 hari, dan 35 hari setelah tanam. Pekebun jagung sejak 2000 itu mengungkapkan penyemprotan suplemen ke seluruh tanaman pada pukul 08.00 atau 2 jam sebelum hujan.

Agus mengencerkan 10 ml suplemen  dalam 14 liter air bersih untuk jagung berumur 9 hari. Sementara untuk tanaman  berumur 20 hari dan 35 hari, ia mengencerkan 15 ml suplemen dalam 14 l air. Menurut Hariyanto, kebutuhan suplemen untuk lahan 1 ha mencapai 4-5 botol suplemen. Harga sebotol suplemen bervolume 100 ml  hanya Rp60.000. Dengan demikian, Hariyanto hanya menambah biaya produksi Rp300.000 per ha.

Adapun pemberian pupuk sama seperti pada budidaya sebelumnya. Agus yang menanam jagung berjarak tanam 75 cm x 20 cm hanya 3 kali memupuk. Pemupukan pertama berupa NPK seimbang (15:15:15) saat tanaman berumur 11 hari. “Untuk 16.000 tanaman jagung (di lahan 2.800 m2, red) biasanya menghabiskan 100 kg NPK,” katanya. Setiap tanaman memperoleh 6,25 g pupuk NPK. Pemupukan kedua saat jagung berumur 23-25 hari. Agus memberikan NPK dan Urea masing-masing sebanyak 3,1 g per tanaman. Sementara pemupukan ke-3, ketika tanaman berumur 38 hari, ia memberikan 6,25 g Urea per tanaman.

Dampak Suplemen

Dampak Suplemen

Selain penyemprotan suplemen dan pemupukan, Agus dan Hariyanto juga memberikan perlakukan pada benih jagung sebelum tanam. Mereka mencampur benih jagung dengan fungisida yang mengandung senyawa aktif dimethomorph dan insektisida yang mengandung zat perangsang tumbuh. Ia mencampur 1 kg benih dengan 5 ml fungisida dan 10 ml insektisida. Mula-mula Agus mencampur benih dengan fungisida dan insektisida secara merata. Kemudian ia mendiamkan benih sekitar 5 menit hingga kering lalu langsung menanam di lahan. “Benih tumbuh 2-3 hari lebih cepat dibandingkan yang tanpa perlakuan,” katanya.

Tongkol panjang

Menurut Hariyanto, tanaman lebih sehat sehingga relatif tahan serangan bulai. Terbukti jagungnya hanya 5% yang terserang bulai pada saat tanaman berumur 79 hari. “Lima persen jagung yang terserang bulai masih bisa berbuah. Meski ukuran buah lebih kecil, yaitu 60%, tapi masih bisa dijual,” kata Hariyanto. Bandingkan dengan 2 tahun silam sebelum memanfaatkan suplemen, hampir 100% jagungnya terserang bulai.

Ketika itu untuk mengatasi bulai, ia menyemprotkan berbagai fungisida. Sayang, masalah tak teratasi secara tuntas. “Tanaman tetap terserang bulai hingga 40%,” kata pekebun yang juga membudidayakan tomat, cabai, dan buncis itu. Beruntung, pada 2011 Hariyanto memanfaatkan suplemen yang membuat tanamannya lebih sehat sehingga tahan serangan bulai.

Yang menggembirakan lagi, produktivitas jagungnya pun meningkat 60%. Setelah memanfaatkan suplemen, tanaman jagung Agus dan Hariyanto tumbuh subur. “Tongkol jagung lebih panjang 2,5 cm dan bijinya terlihat lebih gemuk,” ujar Agus. Kelebihan lain, daun jagung masih berwarna hijau menjelang panen sehingga bagus untuk pakan ternak, lazimnya berubah menjadi cokelat.

Ketahanan pangan

Menurut Senior Vice President Crop Protection Asia Pasific BASF, Raman Ramachandran PhD, produksi jagung di Indonesia sangat rendah, 2 ton per ha. Bandingkan dengan produksi jagung di Amerika Serikat mencapai 10 ton per ha. Menurut Raman untuk mengatasi masalah itu dengan mentransfer teknik budidaya dari negara berproduktivitas tinggi. Selain itu perlu cara peningkatan produktivitas sekaligus sebagai solusi lahan pertanian yang semakin terbatas.

Penggunaan suplemen pada tanaman jagung salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas. “Manfaat produk (suplemen, red) itu membuat tanaman sehat sehingga hasil dan kualitas tanaman pangan meningkat,” kata Edson Begliomini, head of regional R&D crop protection Asia Pasifik BASF di acara Top Ciencia di Bali pada Desember 2012. Suplemen itu merupakan hasil riset BASF untuk menjaga ketahanan pangan. Harap mafhum populasi manusia pada 2050 mencapai 9,3-miliar dan 52% berada di Asia Pasifik. Untuk kebutuhan pangan masyarakat itu, perlu peningkatan produksi pangan 70% dibandingkan pada 2007.

Itulah sebabnya BASF mengalokasikan dana 10% dari penjualan produknya untuk riset dan pengembangan tanaman pangan. Pada 2011 BASF mengeluarkan dana 412-juta euro atau Rp4,8-triliun untuk biaya riset dan pengembangan perlindungan tanaman. Bukti konkret dari riset itu adalah suplemen yang digunakan Haryanto dan Agus. Produksi jagung di ladang mereka meningkat 60% dan resisten terhadap gempuran penyakit. Dua masalah teratasi dengan satu solusi. (Rosy Nur Apriyanti)

Fungisida Sekaligus Hara

Pakar Ekologi Universitas Brawijaya, Karuniawan Puji Wicaksono PhD, mengungkapkan suplemen tanaman yang mengandung senyawa aktif piraklostrobin itu memiliki gugus klorin dan amino. “Jadi dia (suplemen, red) bisa berfungsi sebagai fungisida bila dosis tinggi, tapi bila dosis rendah lebih berfungsi untuk menyehatkan tanaman,” kata master Ilmu Tanaman alumnus Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, itu. Menurut Wicaksono pada dosis tinggi klorin menjadi racun kontak bagi cendawan sehingga berperan sebagai fungisida.

Selain fungisida, piraklostrobin juga bermanfaat sebagai nutrisi bagi tanaman karena mengandung amino sehingga berperan sebagai  pengatur tumbuh tanaman. Menurut Ir Yos Sutiyoso, ahli pupuk di Jakarta, amino mengandung unsur N (nitrogen) yang berperan dalam pembentukan sel-sel tanaman yang menjadi jaringan dan selanjutnya organ, seperti bunga, daun, dan akar. “Dengan penambahan amino ke tanaman, jumlah protein meningkat sehingga sel yang terbentuk juga semakin banyak dan berdampak pada organ tanaman. Contohnya daun tanaman jadi lebih besar,” katanya.

Ketika daun lebih besar, maka lebih banyak menampung sinar matahari sehingga hasil fotosintesis, glukosa, semakin banyak. Hasilnya, produktivitas tanaman pun meningkat. Alumnus Institut Pertanian Bogor itu menuturkan tanaman juga memanfaatkan glukosa dalam proses respirasi untuk menghasilkan energi. Energi itulah yang dimanfaatkan tanaman untuk menyerap nutrisi dari tanah dan tumbuh serta berkembang. “Karena tanaman memiliki energi yang besar, maka tanaman mampu menyerap kalsium dan fosfor  yang berat dari dalam tanah.

Kalsium dan fosfor membantu memperkuat dinding sel sehingga tidak mudah ditembus oleh miselia cendawan. Dengan demikian wajar bila jagung Hariyanto tahan serangan cendawan Peronosclerospora maydis, penyebab penyakit bulai. Yos menyarankan pemberian amino yang mengandung unsur N jangan berlebihan. “Kelebihan unsur nitrogen membuat tanaman tumbuh subur, tapi tidak menghasilkan bunga atau buah,” kata Yos. (Rosy Nur Apriyanti)

Keterangan Foto :

  1. Produksi jagung melonjak menjadi 11,2 ton/ha berkat asupan suplemen
  2. Raman Ramachandran PhD, senior vice president crop protection Asia Pasific BASF, mengungkapkan pada 2050, perlu peningkatan produksi pangan 70% dibandingkan pada 2007
  3. Penambahan asam amino membuat tongkol jagung lebih panjang 2,5 cm (kanan) dibandingkan normal
  4. Karuniawan Puji Wicaksono PhD, mengungkapkan piraklostrobin memiliki gugus klorin dan amino sehingga bisa berperan ganda, sebagai fungisida dan pengatur tumbuh tanaman
  5. Pemberian suplemen membuat tanaman jagung sehat sehingga tahan serangan penyakit bulai.
  6. Hariyanto memanfaatkan suplemen untuk tanaman jagung sejak 2011
 

Powered by WishList Member - Membership Software