Panen Kroto di Rumah

Filed in Topik by on 04/10/2013
Wara Asfiya, peneliti serangga di Pusat Penelitian Biologi LIPI

Wara Asfiya, peneliti serangga di Pusat Penelitian Biologi LIPI

Produksi kroto tanpa mengambil dari alam.

Ruang itu tak seberapa luas, hanya 4 m x 3 m. Di setiap tepi dinding bercat putih, Suwandi Laksana, meletakkan sebuah rak bertingkat tiga untuk menampung puluhan stoples transparan. Stoples-stoples itu rumah bagi ratusan semut rangrang Oecophylla smaragdina. Sejak 2007 Suwandi memang membudidayakan semut rangrang agar bisa menuai kroto atau telurnya. Pria 37 tahun itu mengendus peluang besar bisnis kroto setelah kerap bertandang ke pasar burung. Di sana ia bertemu dengan para pemburu kroto alam.

Mereka rata-rata berpengalaman 15—20 tahun mencari kroto di alam. Harap mafhum selama ini memang semut belum dibudidayakan. Yang menggiurkan Suwandi harga jual kroto amat tinggi, yakni Rp50.000 per kg pada 2007. “Jika berhasil membudidayakan kroto pasti sangat bermanfaat bagi orang lain,” kata peternak di Desa Trimulyo, Kecamatan Sogan, Kulonprogo, Yogyakarta. Suwandi mencari pohon melinjo setinggi 1,5 meter. Ia menanam 4 pohon Gnetum gnemon itu di pot, satu pot satu tanaman. Ia lalu mendekatkan pohon itu sehingga tajuk bersinggungan.

Budidaya kroto dengan media stoples cocok untuk pemula

Budidaya kroto dengan media stoples cocok untuk pemula

Beralih stoples

Peneliti serangga dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Wara Asfiya menuturkan semut rangrang menyukai pohon berdaun lebar, lemas dan lentur seperti daun melinjo, mangga, nangka, dan rambutan. “Daun lebar dan lemas mempermudah semut pekerja membuat sarang. Daun yang lentur juga membuat sarang susah ditembus predator. Sehingga ratu aman,” kata master Zoologi alumnus Western University, Australia itu.

Setelah pohon tumbuh, Wawan alias Suwandi mencari bibit semut rangrang. Di mata tetangganya upaya Wawan membudidayakan semut aneh. “Saya dia bilang orang gila,” ujar Wawan mengenang. Namun, ia bergeming. Menurut pengamatan Suwandi semut-semut itu berkembang biak di pohon melinjo, meski ada juga yang kabur. Selama percobaan budidaya  itu ia belum  pernah panen. Setahun berselang ia memindahkan lokasi budidaya di ruangan 4 m x 3 m. Di situlah ia beternak semut rangrang penghasil kroto.

Suwandi Laksana dengan rak krotonya

Suwandi Laksana dengan rak krotonya

Kini Wawan menuai 5—10 kg kroto per hari. Seorang pengepul mengambil hasil panen itu dan membeli Rp90.000 per kg. Padahal permintaan kroto yang datang padanya mencapai 150 kg per hari. Wawan memanen 0,5 ons dari sebuah stoples berkapasitas 1,5 liter per bulan.  Wawan mengambil semua kroto di stoples itu dan menyisakan semua telur berbentuk larva yang masih menempel. Tujuannya agar produksi kroto berkesinambungan. Kroto-kroto yang tersisa di stoples itu kelak menetas menjadi larva dan berkembang menjadi semut dewasa. Wawan baru akan panen isi stoples yang sama 30 hari kemudian.

Ia juga menjual koloni semut dalam stoples. Jumlah penjualan mencapai  500—1.000 stoples setiap bulan dengan harga Rp100.000 per stoples. Pembeli berasal hampir seluruh wilayah di Indonesia. Setahun belakangan banyak peternak yang membudidayakan semut. Selain Wawan, ada Bayou Prayoga di Denpasar, Provinsi Bali, dan Tugiran (Bogor, Jawa Barat) yang membudidayakan serangga  sosial itu. Bayou memanfaatkan ruangan 3 m x 2 m yang diisi rak 4 tingkat berukuran 2 m x 0,5 m x 1,5 m. Menurut Bayou setiap rak menampung 800 g sarang semut berupa daun. Dari setiap rak dapat menghasilkan 10 kg kroto segar yang dipanen setiap 60 hari.

Bibit

Bayou mencari bibit dari pohon mangga atau rambutan. Ia memasukkan bibit ke dalam stoples berukuran 1 liter. Setiap stoples berisi ratusan semut itu lantas tertata di rak. Jarak antarstoples 5—10 cm. Setiap rak dapat memuat 10—12 stoples. “Jarak minimal lantai dengan susunan terbawah tidak boleh kurang dari 30 cm agar semut tidak turun ke lantai,” kata alumnus Institut Pertanian Bogor itu. Menurut Bayou untuk pemula stoples lebih cocok karena kehidupan rangrang dapat dilihat.

Produktivitas budidaya kroto di dalam pipa PVC lebih tinggi dibanding menggunakan stoples tetapi sulit dikontrol

Produktivitas budidaya kroto di dalam pipa PVC lebih tinggi dibanding menggunakan stoples tetapi sulit dikontrol

Pemeliharaan semut meliputi pemberian pakan dan pengontrolan tempat budidaya. Untuk pakan, Bayou membagi menjadi dua, yaitu pakan basah berupa air gula dan pakan kering berupa jangkrik dan ulat hongkong. Wawan memberikan 40 ulat hongkong per stoples setiap bulan. Sementara pakan cair berupa larutan gula pasir. Wawan mengencerkan gula cair  dan menempatkannya di atas tatakan. Ia menghabiskan 5 kg sebulan untuk pakan semut di 500  stoples..

Adapun untuk pengontrolan stoples meliputi pengaturan suhu ruang dan pengendalian hama seperti semut hitam, kecoak, dan cecak. “Pengontrolan dilakukan setiap hari,” kata Bayou. Setelah 60 hari, kroto dipanen dengan cara memisahkan koloni semut dan kroto menggunakan ayakan. Berikutnya semut rangarang dapat dimasukkan ke stoples lagi. Dari setiap stoples berkapasitas 1 liter Bayou menuai 300—600 g kroto. Para pembudidaya kroto di berbagai daerah itu mengatakan bahwa mereka membudidayakan semut tanpa ratu. Artinya tidak di setiap koloni (stoples ada ratu).

Upaya para peternak membudidayakan semut sebuah langkah maju. Sebab, menurut Wara sampai saat ini belum ada penelitian yang mengungkapkan bahwa semut rangrang bisa dibudidayakan. “Mungkin bisa tapi dengan catatan perlu ada ratu pada setiap koloni supaya semut pekerja tidak pergi,” tutur  Wara.  Menurut Anton dari Raja Kroto di Yogyakarta, peternak kroto mesti memastikan dalam koloni berisi ratu. “Itu karena ratu yang menghasilkan telur,” ujarnya. Tanpa itu mustahil koloni semut menghasilkan kroto meskipun semut pekerja adalah betina.

“Saat ratu tidak ada di koloni, semut pekerja akan kabur,” tambahnya. Ujang Toha di Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat,  menyebutkan ia berhenti beternak semut lantaran setahun membudidaya gagal menghasilkan kroto. Pada awalnya Ujang membudidayakan bibit dan menjualnya tetapi tidak mampu memproduksi kroto. “Kata konsumen karena tidak ada ratunya,” katanya. (Bondan Setyawan/Peliput: Riefza Vebriansyah dan Rizky Fadhilah)

Tags:

 

Powered by WishList Member - Membership Software