Panen Kompos Juga Sayuran

Filed in Majalah, Topik by on 01/12/2016

Alat pengompos sekaligus pot vertikultur untuk budidaya sayuran.

Satu tong kapasitas 150 liter dapat menampung 70 lubang tanam.

Satu tong kapasitas 150 liter dapat menampung 70 lubang tanam.

Tong pengompos atau komposter bantuan pemerintah untuk rumah tangga itu menganggur. “Banyak tong yang tidak digunakan sehingga tergeletak begitu saja,” ujar Mohamad Solikin SP. Kondisi itu meresahkan Solikin. Ia mengubah keresahannya dengan melubangi dinding tong untuk membuat lubang tanam. Namun, baru saja melubangi tong itu, cemoohan tetangga berdatangan.

“Tong bagus-bagus kok dilubangi,” ujarnya menirukan cemoohan mereka itu. Solikin tak patah arang. Ia terus melubangi seluruh dinding tong itu. Ayah dua anak itu membuat 70 lubang di dinding sebuah tong berkapasitas 150 liter. “Jarak antarlubang tanam ke samping 20 cm, sementara jarak lubang dengan lubang di bawahnya 10 cm,” ujar lelaki kelahiran 22 Mei 1971 itu.

Perawatan mudah
Solikin lalu memasukkan media tanam berupa campuran pasir dengan kompos perbandingan 1 : 1. Di dalam tong itu pula, Solikin meletakkan satu tong lagi yang kapasitasnya lebih kecil, yaitu 75 liter. Tong kecil itu sebagai bioreaktor atau pengolah limbah rumah tangga menjadi pupuk organik. Ia memasukkan limbah rumah tangga ke dalam tong kecil itu.

Selanjutnya panen limbah yang sudah terurai lewat bagian bawah tong, lalu masukkan ke media tanam sebagai pupuk organik. Namun, sebelum memasukkan limbah rumah tangga ke dalam tabung bioreaktor, masukkan dahulu kompos yang dijual di pasaran hingga ketebalan 5 cm. Setelah itu baru masukkan limbah rumah tangga, seperti nasi, tulang ikan, dan kepala ikan hingga ketebalan kira-kira sejengkal.

Mohamad Solikin SP menggunakan limbah rumah tangga untuk pupuk organik beragam sayuran.

Mohamad Solikin SP menggunakan limbah rumah tangga untuk pupuk organik beragam sayuran.

“Langkah terakhir taburi sampah organik itu dengan segenggam dekomposer bubuk,” ujar alumnus Jurusan Agronomi, Universitas Widya Gama, Malang itu. Setelah 3 hari, pupuk organik sudah bisa digunakan. “Tapi di dalam pupuk itu tidak boleh ada larva,” ujarnya. Saat pertama kali mencoba, Solikin menanami lubang di dinding tong itu dengan sawi. Perawatannya sederhana.

Ia hanya menyiram sehari dua kali pada pagi dan sore ketika musim kemarau. Selain itu ia juga tidak memberikan pupuk kimia dan pestisida. Tanaman itu ternyata tumbuh subur sehingga mengundang decak kagum warga yang melintasi rumah Solikin. Sebulan kemudian ia memanennya. “Saya ingin membuktikan kepada orang-orang bahwa apa yang saya lakukan bisa bermanfaat bagi saya sendiri dan masyarakat pada umumnya,” ujar Solikin.

Vertikultur
Sejak saat itu Solikin aktif berbagi pengetahuan tentang teknik penanaman itu kepada warga. “Dengan begitu diharapkan dapat mengurangi beban sampah di tempat pembuangan akhir (TPA),” ujarnya. Menurut Solikin cukup dengan satu tong vertikultur berkapasitas 150 liter, sampah organik dari 3—5 keluarga termanfaatkan. Menurut pakar pupuk organik dari Institut Pertanian Bogor, Prof Dr Iswandi Anas, beragam limbah rumah tangga memang dapat digunakan sebagai bahan pupuk organik.

“Tulang ikan mengandung fosfor tinggi. Sisa-sisa bagian ikan selain tulang juga mengandung nitrogen. Sementara untuk nasi, mengandung karbohidrat dan itu sebagai sumber makanan dari mikrob yang berkembang di dalamnya,” ujar Iswandi. Apalagi setelah diberi dekomposer. Mikrob-mikrob yang terdapat di dalam pupuk organik itu sangat membantu pertumbuhan tanaman.

Satu tong komposter vertikultur dapat menampung sampah organik dari 3 keluarga.

Satu tong komposter vertikultur dapat menampung sampah organik dari 3 keluarga.

Iswandi mengatakan, “Mikrob-mikrob itu sangat banyak manfaatnya. Salah satunya meningkatkan unsur hara di dalam pupuk organik.” Contohnya mikrob Azotobacter sp dan Azospirilum sp yang mampu menambat nitrogen dari udara dan mengubahnya menjadi amonium dan nitrat. Iswandi menuturkan mikrob juga berperan meningkatkan dan menghasilkan senyawa-senyawa yang bisa merangsang perkembangan dari akar, yaitu hormon perangsang akar.

“Hormon itu diperlukan untuk merangsang pertumbuhan tanaman. Akar lebih banyak dan lebih aktif bekerja sehingga penyerapan unsur hara lebih efektif,” ujar pengampu mata kuliah Pupuk Biologi itu. Kelebihan pupuk organik dibanding pupuk kimia adalah manfaatnya yang komplek. Pupuk organik bisa memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Sementara pupuk kimia hanya kimia tanah.

Selain itu, pupuk organik juga mengandung banyak unsur yang dibutuhkan tanaman, sementara pupuk kimia hanya spesifik. “Oleh sebab itu pupuk organik semestinya berperan sebagai pupuk utama, sedangkan pupuk kimia adalah pendamping,” ujarnya. Sejak berhasil membuat komposter vertikultur itu, Solikin lalu menawarkan karyanya ke beberapa pihak, seperti yayasan, untuk memberikan tong itu sebagai bagian dari program pemberdayaan masyarakat.

Hasilnya 70 tong komposter dan vertikultur itu tersebar di tiga kelompok pencinta lingkungan hidup, salah satunya warga Desa Gending, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. “Warga sangat antusias menyambut bantuan itu,” ujar Solikin. Indah Wahyuni dan Iin Hidayati, keduanya warga Rukun Tetangga (RT) 3, Rukun Warga (RW) 2, Desa Gending merasakan manfaatnya.

Indah Wahyuni (kanan) dan Iin Hidayati (kiri) senang dengan adanya bantuan tong komposter vertikultur buatan Mohamad Solikin SP.

Indah Wahyuni (kanan) dan Iin Hidayati (kiri) senang dengan adanya bantuan tong komposter vertikultur buatan Mohamad Solikin SP.

Menurut Indah Wahyuni, “Sebanyak 80% sampah dari warga termanfaatkan. Sampah anorganik kami kumpulkan di bank sampah, lalu kami buat kerajinan tangan. Sedangkan sampah organik masuk ke komposter vertikultur.” Warga juga menjual sayuran hasil vertikultur. “Hasil panennya kami jual dengan harga Rp5.000 per ikat isi 2—3 tanaman. Harganya lebih mahal dibanding sawi di pasar, tetapi rasanya lebih renyah dan pastinya sehat karena organik,” ujar perempuan kelahiran Jombang 17 Juni 1975 itu.

Sayur hasil komposter vertikultur di rumah Indah habis terjual di tempat. “Saya cukup mengabarkan lewat jejaring sosial dan langsung banyak yang pesan,” ujarnya. Menurut Indah Wahyuni satu tong kompster vertikultur dapat menghasilkan Rp30.000—Rp50.000. Bagi Iin Hidayati, sayuran sawi ia buat masakan oseng-oseng dan bahan tambahan mi instan. “Sawi juga enak di jus dengan tambahan tapai singkong dan susu. Rasanya seperti jus alpukat,” ujar Iin.

Kombinasi pupuk organik dengan budidaya sayuran sistem vertikultur menurut Prof Iswandi sangat banyak manfaatnya. “Akan mengurangi limbah dari rumah tangga dan sarana rekreasi karena sayuran yang tumbuh akan mempercantik halaman rumah dan mengurangi stres. Selain itu akan ada kebanggaan sendiri karena bisa memproduksi pupuk dan sayuran secara mandiri,” ujarnya. Komposter dan vertikultur karya Muhamad Solikin itu berhasil mengubah cemoohan menjadi sanjungan. (Bondan Setyawan)

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software