Panen kentang :Melonjak karena Mulsa Perak

Filed in Inspirasi, Majalah by on 15/07/2020

Mulsa plastik menjaga kelembapan tanah di sekitar tanaman kentang.

Penggunaan mulsa plastik meningkatkan panen kentang hingga 2 ton per hektare.

Muhammad Chudori memanen 60 ton kentang dari lahan dua hektare pada akhir Mei 2020. Produksi kentang medians melonjak karena petani di Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, itu menggunakan mulsa plastik hitam perak (MPHP). Chudori membandingkan produksi tanpa mulsa biasanya hanya 28 ton per hektare. Medians tergolong genjah dengan umur panen 100 hari setelah tanam.

Petani di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Iman Maulana, memanen 28 ton umbi kentang dari lahan sehektare. Ia membudidayakan kentang granola dengan populasi 36.000 tanaman per hektare. “Bila topografi lahan tidak banyak teras, populasi bisa 40.000 tanaman per hektare. Hasilnya juga turut naik,” kata Iman. Pemilik Green Leaf Farm itu menggunakan mulsa untuk produksi bibit kentang.

Petani kentang di Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Muhammad Chudori.

Lembap

Menurut Chudori mulsa plastik menjaga kelembapan tanah. Tanaman anggota famili Solanaceae itu tidak perlu banyak air tapi menghendaki media tanam senantiasa lembap. Mulsa mencegah penguapan air tanah saat kemarau dan menahan tanah dari derasnya aliran hujan. Selain itu Chudori juga menghemat biaya perawatan untuk penyiangan gulma.

Iman mengungkapkan hal serupa. Saat intensitas hujan tinggi, mulsa mengurangi kadar air pada bedengan. Selain itu, hama aphids yang lazimnya bersarang di bagian bawah daun berkurang. Menurut Imam pemakaian mulsa plastik mengurangi infeksi cendawan.

Mulsa plastik juga memengaruhi pertumbuhan tanaman sebagaimana riset Dedeh Hadiyanti dan rekan-rekan. Para peneliti di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatra Selatan itu membuktikan, mulsa menentukan tinggi tanaman, jumlah umbi, dan bobot umbi per tanaman.

<script async src=”https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js”></script>
<ins class=”adsbygoogle”
style=”display:block; text-align:center;”
data-ad-layout=”in-article”
data-ad-format=”fluid”
data-ad-client=”ca-pub-4696513935049319″
data-ad-slot=”5685217890″></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>

Lokasi riset di Kelurahan Agunglawangan, Kecamatan Dempo Utara, Kota Pagaralam, Sumatera Selatan. Tinggi tanaman kentang pada umur 60 hari yang dibudidakan dengan mulsa 63,57 cm. Terdapat rerata 8,22 umbi per tanaman dengan potensi produksi per hektare 27,7 ton. Pada umur yang sama, tinggi tanaman tanpa mulsa 59,23 cm dan jumlah menghasilkan 6,37 umbi pertanman. Potensi produksi 23,6 ton per hektare.

Periset kentang di Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa), Ir. Eri Sofiari, Ph.D.

Menurut data Balitsa, rerata hasil granola 26,5 ton per hektare. Periset menghitung benefit cost ratio (BC ratio) budidaya dengan mulsa lebih besar (1,27) daripada tanpa mulsa (1,03). Nilai BC ratio lebih dari 1 menandakan budidaya menguntungkan secara ekonomi. Menurut riset itu petani mengeluarkan biaya mulsa Rp5,91 juta sedangkan biaya penyiangan dan pembumbunan sebesar Rp2,4 juta per hektare.

Lebih besar

Sementara itu pendapatan bersih budidaya dengan mulsa mencapai Rp93 juta sedangkan tanpa mulsa hanya Rp72 juta. Dedeh menyatakan, mulsa menjaga suhu tanah lebih stabil dan mempertahankan kelembapan di sekitar perakaran. Pada siang hari, mulsa menurunkan suhu tanah hingga 3—6ºC. Suhu rendah mengurangi laju respirasi akar sehingga terdapat lebih banyak penimbunan cadangan bahan makanan pada umbi.

Mulsa juga memperbaiki tata udara tanah dan meningkatkan pori-pori makro tanah. Itu menyebabkan mikrob dapat beraktivitas lebih baik. Budidaya kentang identik dengan pembumbunan pada umur 45 hari setelah tanam. Pembumbunan penting lantaran umbi baru muncul pada bagian atas dan tidak tahan panas matahari. Kebanyakan petani kentang jarang menggunakan mulsa lantaran sulit membumbun.

Petani membuka mulsa di separuh bagian lalu menaikkan tanah. Chudori memilih tidak membumbun. Ia menyiasati dengan lubang tanam agak dalam sekitar 15 cm. Itu untuk memberi ruang tumbuh bagi umbi baru. Setelah panen, ia membiarkan mulsa terpasang di lahan untuk budidaya kol.

Produksi kentang medians yang dibudidayakan dengan mulasa meningkat menjadi 30 ton per hektare.

Petani lain di Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut, selalu menggunakan mulsa saat tumpang sari kentang dengan cabai atau tomat. Menurut rilis BPTP Sumatra Barat, budidaya kentang dengan mulsa plastik memiliki beberapa keunggulan antara lain mempertahankan struktur tanah tetap gembur serta mengurangi kehilangan hara akibat penguapan dan pencucian. Tanaman terhindar dari serangan hama thrips dan tungau serta menunda terjangkit virus.

BPTP Sumbar merilis pedoman budidaya kentang dengan mulsa plastik meliputi persiapan lahan, penanaman, dan pemeliharaan. Tinggi bedengan sekitar 30 cm pada musim kemarau dan 40 cm pada musim hujan. Jarak antarbedengan 40—50 cm. Lubang tanam 5—10 cm dengan jarak tanam 30 cm x 70—80 cm. Bibit ditutup dengan tanah setebal 5 cm. Setelah tinggi tanaman 4—10 cm, tambahkan tanah pada lubang tanam hingga tingginya rata dengan permukaan mulsa.

Petani perlu pembumbunan dan penyiangan jika tanpa mulsa.

BPTP menyarankan petani tetap menyiangi gulma di sekitar lubang tanam pada umur 28 dan 42 hari setelah tanam. Selain itu, pemberian pupuk NPK (16:16:16) bersamaan dengan penyiangan dengan dosis 50 kg per hektare. Menurut peneliti Balitsa, Ir. Eri Sofiari, Ph.D., fungsi utama mulsa menekan gulma sehingga tidak terjadi persaingan hara.

Mayoritas petani masih tanam tanpa mulsa. Hingga kini belum ada riset penggunaan mulsa dapat mencegah penyakit langganan Solanum tuberosum akibat infeksi cendawan Ralstonia solani atau Fusarium spp. Chudori mengingatkan potensi berkembangnya nematoda bila menggunakan mulsa terutama untuk produksi umbi bibit. (Sinta Herian Pawestri)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software