Panen Kakao di Kebun Mini

Filed in Laporan khusus by on 01/10/2011

 

Harga biji fermentasi lebih tinggi Rp3.000—Rp10.000 per kg daripada biji segarYoseph Kurniawan, memfermentasi biji kakaoSebelum 2009 hanya 5—6 industri kakao yang bertahan, sisanya gulung tikar karena kesulitan bahan bakuWidiasih merawat seperlunya tanaman anggota famili Sterculiacea berumur 10 tahun itu. Dua kali dalam setahun ia memberikan tanaman asli Amerika Selatan itu pupuk kandang, masing-masing 2-3 kg per pohon. Widiasih juga menyemprotkan pupuk organik setiap 2-3 bulan. “Biaya perawatannya hanya Rp300.000-400.000 setahun,” ujar perempuan 60 tahun itu yang menjual biji kakao basah Rp10.000 per kg kepada pengepul.

Andai Widiasih memfermentasi biji-biji kakao itu terlebih dahulu, nenek 3 cucu itu bakal menuai omzet 2-2,5 kali lebih besar daripada menjual biji kakao segar. Harap mafhum, harga jual biji fermentasi di tingkat pekebun mencapai Rp20.000-Rp23.000 per kg bergantung kualitas. Namun, Widiasih tak melakukannya karena tidak mau repot.

Lahan kecil

Berbeda dengan Yoseph Kurniawan di Desa Kalijaya, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, yang menanam 500 tanaman di lahan 1 ha. Yoseph rutin memetik 300 kg biji kakao per bulan dan segera memfermentasi di dalam peti kayu berukuran 60 cm x 60 cm x 60 cm selama 5-6 hari. Hasil fermentasi sekitar 100 kg kakao kering berkadar air 7-8%. Fermentasi itu membuat aroma wangi biji kakao keluar sehingga harga jual pun lebih tinggi. “Saya menjual dengan harga Rp22.000/kg kepada penampung,” kata ayah 2 putra itu.

Menurut Sindra Wijaya SE, Direktur Eksekutif PT Bumi Tangerang Mesindotama, produsen olahan kakao di Tangerang, Provinsi Banten, petani diuntungkan bila menjual biji fermentasi. “Harganya bisa berselisih sekitar Rp3.000/kg dengan biji segar,” katanya. Sayang, fermentasi sejauh ini belum menjadi pilihan menarik karena keuntungannya kecil dibandingkan waktu proses fermentasi yang lama.

Penelusuran Trubus di Lampung dan Jawa Barat, memperlihatkan banyak pekebun mengusahakan tanaman kakao di lahan kecil. Disebut skala kecil karena rata-rata pekebun mengelola lahan 0,5-2 ha. “Skala besar bila lahan yang dikelola di atas 100 ha seperti dilakukan oleh perusahaan. Untuk petani, kebun seluas 10 ha sudah masuk kategori kebun besar,” kata Dr Agung Wahyu Susilo, periset di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia.

Menurut Pujo Krustono SP, kepala UPPT Pembinaan dan Perlindungan Tanaman Perkebunan Lampung Selatan, di Lampung Selatan pengelolaan lahan di atas 20-30 ha dilakukan oleh kelompok tani yang beranggotakan 30-40 orang. “Dengan berkelompok biaya tenaga kerja murah dan mempermudah pengawasan,” kata Pujo yang membina beberapa kelompok tani kakao itu.

Agung mengungkapkan pengusahaan kakao di kebun 1 ha sudah ekonomis. Ia menggambarkan dari 1 ha dengan populasi 800-1.000 tanaman, pekebun memperoleh 1 ton biji kering setiap tahun. Bila harga jual Rp20.000 per kg, maka omzet pekebun Rp20-juta. “Setelah dipotong ongkos perawatan sekitar Rp5-juta, pekebun masih memperoleh laba Rp15-juta,” katanya. Bila angka itu dibagi 12 bulan, pekebun meraup pendapatan bersih Rp1,25-juta per bulan. “Keuntungan itu masih di atas rata-rata UMR (Upah Minimum Regional, red),” kata Agung yang menyebutkan perawatan kebun kecil lebih mudah dan murah karena bisa dilakukan sendiri itu.

2-juta ton

Perkembangan kakao di tanahair memang tengah menggeliat. Menurut Ir Gamal Nasir MS, Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian RI, itu tak lepas dari meningkatnya konsumsi kakao untuk kebutuhan makanan hingga kosmetik. International Cocoa Organization (ICCO) pada 2011 memperkirakan konsumsi kakao dunia mencapai 4,1-juta ton dan naik 5,8% setiap tahun. Produksi kakao nasional pada 2009 mencapai 809.583 ton-terbesar ketiga setelah Pantaigading dan Ghana. “Saat ini dengan program Gerakan Nasional Penanaman Kakao diharapkan pada 2025 produksi nasional mencapai 2-juta ton per tahun,” ujar Gamal.

Kondisi itu mendongkrak harga kakao kering hingga kini berkisar Rp20.000-Rp23.000 per kg. Padahal, pada 2007 harga jual kakao kering hanya Rp15.000 per kg. Permintaan kakao di dalam negeri pun terus meningkat karena industri pengolah kakao kembali bermunculan. Kondisi itu berbeda dibandingkan sebelum 2009. Ketika itu banyak industri gulung tikar lantaran kesulitan bahan baku akibat kalah bersaing berebut biji kakao yang banyak diekspor.

Akibatnya, menurut Sindra Wijaya hanya 5-6 industri pengolah yang bertahan. Padahal sampai 2000 menurut data Asosiasi Industri Kakao Indonesia (AIKI) tercatat 40 industri pengolahan. “Tapi begitu pemerintah memberlakukan bea keluar ekspor biji kakao, industri pengolahan yang semula mati itu mulai bangkit,” kata Sindra. Bea keluar ekspor biji kakao itu mulai efektif per 1 April 2010.

Seiring bangkitnya industri olahan itu banyak pekebun menangguk untung. Contoh Untung Junaidi di Kecamatan Katibung, Lampung Selatan. “Harganya lumayan, saat ini Rp22.300 per kg,” kata Untung. Pekebun lain di Katibung seperti Daryanto, Gunawan, Sanusi, dan Haidir menyampaikan hal serupa. “Bertanam kakao menguntungkan karena panen bisa sering. Ibaratnya uang terus mengalir,” kata Gunawan yang mengelola lahan 1 ha itu.

Varietas unggul

Demam kakao juga tampak di sentra lama kakao seperti di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah. Para pekebun meremajakan tanaman-tanaman tua berumur di atas 20 tahun dengan teknik sambung samping dan sambung pucuk (baca: Pucuk Tersambung, Panen Melambung hal 66-67) untuk menyegarkan produktivitas. Harap mafhum produktivitas per ha kakao di tanahair selama ini rendah sekitar 500-600 kg/ha dari semestinya 1-1,5 ton/ha

Selain sambung pucuk, cara lain peningkatan produksi dengan memanfaatkan varietas unggul seperti sulawesi-1 dan sulawesi-2. “Kami mengganti semua pohon lama dengan varietas baru tahun ini,” kata Yoseph. Desa Kalijaya tetap Yoseph tinggal mendapat bantuan bibit kakao embrio somatik untuk penanaman di lahan 60 ha. Dengan klon baru itu diharapkan produksi meningkat dan serangan hama penggerek buah serta busuk buah akibat cendawan Phytophthora palmivora yang menjadi momok pekebun bisa ditekan. Harap mafhum kerugian akibat serangan hama dan penyakit itu bisa mencapai 80%. Setelah peremajaan ia berharap menuai kakao lebih banyak di lahan mininya. (Dian Adijaya S/Peliput: Faiz Yajri dan Susirani Kusumaputri)

 

Nomor Satu di Asia

Wakil Menteri Perdagangan RI Mahendra Siregar sangat antusias jika berbicara mengenai kakao. “Saya ingin industri kakao di Indonesia lebih maju,” ujarnya saat ditemui wartawan Trubus Dian Adijaya S dan Faiz Yajri. Sebab itu tatkala diundang oleh European Cocoa Association (ECA), menjadi salah satu pembicara di konferensi kakao internasional pada September 2010 di Amsterdam, Belanda, master bidang ekonomi lulusan Monash University, Australia, itu gencar mempromosikan kakao Indonesia.

Menurut Mahendra, Indonesia berpeluang menjadi produsen kakao nomor satu di Asia. Hal itu tak lepas dari ketersediaan lahan luas menjamin pasokan bahan baku. Alasan lain penerapan bea keluar biji kakao yang membuat investor asing tertarik masuk. “Dahulu beberapa pihak menolak penerapan aturan bea keluar biji kakao (berlaku per 1 April 2010, red) itu karena dianggap akan menyengsarakan petani. Belakangan mereka yang menolak itu meminta jaminan kalau bea keluar tetap diberlakukan saat berinvestasi,” ujarnya.

Mahendra berharap industri pengolahan kakao di Indonesia tumbuh subur. “Bagian hulu dan hilir harus sejalan dan ini memerlukan kerja sama baik dari lembaga penelitian dan kementerian terkait seperti kementerian pertanian,” katanya. Apalagi dari sisi pasar sebetulnya tak ada yang perlu ditakutkan. Dengan populasi hampir separuh dari penduduk dunia sebanyak 7-miliar orang pada abad ke-21, benua Asia pasar potensial. “Apalagi bila mengonsumsi cokelat sudah menjadi gaya hidup,” kata mantan direktur Indonesia Eximbank itu.***

 

Powered by WishList Member - Membership Software