Panen Jernang di Pekarangan

Filed in Perkebunan by on 31/12/2010 0 Comments

Menebang jernang menjadi jalan pintas memperoleh laba besar. Jernang tumbuh merambat hingga ketinggian 25 meter. Untuk mendapatkan buah di pucuk, memang bukan hal mudah. Oleh karena itu, ‘Jernang terancam punah,’ kata Drs Yana Sumarna MSi, periset di Pusat Penelitian Hutan dan Konservasi Alam, Bogor, Jawa Barat. Saat ini saja pasokan getah jernang kian seret. Menurut koordinator program Yayasan Gita Buana, Ir Lambok Panjaitan, untuk mendapatkan 1 – 2 kg getah perlu waktu 2 pekan. Bandingkan dengan 10 – 15 tahun silam, pencari jernang hanya perlu 1 pekan di hutan untuk memperoleh 7 – 10 kg getah kering.

Selain itu laju penggundulan dan alih fungsi hutan juga mengancam keberadaan kerabat salak itu. Data Departemen Kehutanan pada 2008 menunjukkan, deforestasi mencapai 117-juta ha per tahun. Di sisi lain, permintaan ekspor jernang sangat tinggi. ‘Ekstrak getah kering diekspor untuk bahan baku herbal,’ kata direktur eksekutif Yayasan Gita Buana, lembaga swadaya masyarakat bidang pelestarian lingkungan di Jambi, Abdul Hadison. Jalan keluar terbaik adalah budidaya agar ketersediaan dan kontinuitas pasokan jernang terjaga.

Terbakar

Masyarakat Desa Sepintun dan Lambansigatal, Kecamatan Pauh, Kabupaten Sarolangun, Jambi, mulai membudidaya jernang pada 2006. Bupati Sarolangun saat itu, H Hasan Basri Agus, meresmikan penanaman 3.200 bibit. Populasi hanya 300 – 400 tanaman per ha. Penanaman perdana seluas 10 ha. Sayang, lantaran kualitas biji tidak seragam – sebagian tua, lainnya muda – menyebabkan hanya separuh yang tumbuh. Meski demikian, penanaman oleh Hasan menjadi bola salju yang terus bergulir. Dalam hitungan bulan, lebih dari 100 kepala keluarga di Lambansigatal beramai-ramai menanam jernang di pekarangan masing-masing.

‘Saat ini luas total lebih dari 50 ha,’ kata Hadison. Jika tidak ada aral melintang, Hadison memprediksi akhir 2010 tanaman-tanaman muda berumur 3 tahun itu belajar berbuah. ‘Pertengahan 2011 masyarakat bisa memanen getah dari pekarangan sendiri,’ kata Hadison. Setahun sebelumnya, di Desa Pulauaro, Kecamatan Tabirulu, Kabupaten Merangin, Jambi – terpisah hampir 100 km – Usman Mansur menanam 1.000 biji jernang yang ia peroleh dari masyarakat Suku Anak Dalam. Lagi-lagi karena kualitas biji beragam, hanya 500 berhasil tumbuh di lahan 4 ha di belakang rumahnya.

Namun, pada 2009 peladang berpindah bermaksud membersihkan lahan dengan cara membakar semak-semak. Api itu menjalar ke lahan Usman dan meludeskan hampir 400 tanaman jernang setinggi 3 meter. Saat Trubus bertandang ke sana pada Oktober 2010, sekitar 100 tanaman tersisa di sela pohon karet dan gaharu mulai berbuah. Usman membudidayakan jernang Daemonorops draco. K Heyne dalam Tumbuhan Berguna Indonesia menyebutkan ada 30 anggota marga Daemonorops. Namun, hanya D. didymophyllus dan D. draco yang layak budidaya karena kedua spesies itu genjah dan berproduksi tinggi. Jernang bernilai karena getah yang melapisi kulit buah setengah tua.

‘Di Jawa tidak ada jernang: Daemonorops draco atau D. didymophilla, yang ada D. rubra yang getahnya tidak berkhasiat obat,’ kata Drs Yana Sumarna MSi. Selain spesies, calon pekebun juga mesti memastikan bahwa jernang yang ditanam merupakan tanaman betina. Seperti tanaman monokotil lain, jernang tumbuhan berumah 2. Artinya, bunga jantan dan betina terpisah di tanaman berbeda dan berasal dari biji berbeda pula. Hanya tanaman betina yang berbuah. Makanya, celaka tiga belas bagi pekebun yang menanam puluhan biji, tapi setelah tumbuh, ternyata semuanya pohon jantan. Begitulah pengalaman warga Desa Sepintun yang menanam dan merawat 25 rumpun jernang, yang ternyata seluruhnya jantan.

Benih matang

Menurut Usman, membedakan buah jantan dan betina relatif mudah jika buah masih di tandan. Dompolan paling atas dan bawah pasti buah jantan, lainnya betina. Namun, hampir mustahil membedakan jenis kelamin buah kalau memperoleh buah dari hutan yang kondisinya tercampur-baur dalam karung. Sebenarnya, pekebun tetap memerlukan tanaman jantan untuk penyerbukan. Tanpa jantan, tanaman betina tidak bakal berbuah.

Untuk itu Usman menyarankan perbandingan pohon jantan dan betina 1:6, paling banyak 1:10. Pekebun dapat menanam pohon jantan di tepi alias permulaan dan ujung barisan agar mampu menyerbuki semua pohon betina secara merata. Pekebun di Jambi memanfaatkan karet, gaharu, atau tanaman keras lain sebagai penegak. Dengan demikian mengurangi biaya pengadaan turus atau tiang rambatan. Oleh karena itu jarak tanam jernang mengikuti jarak tanaman utamanya. Jarak antara jernang dan pohon penegak 1 – 1,5 m. ‘Jernang mulai bersandar setelah setinggi 2 m lebih,’ kata Usman.

Agar kelulusan hidup meningkat, semaikan biji dari buah yang matang sempurna – berumur 11 bulan sejak bunga. Benamkan biji di persemaian berupa media pasir kasar, tutup serasah, lalu simpan di tempat teduh. Agar cepat bertunas, jangan membenamkan biji terlalu dalam, cukup ratakan media pasir di atas permukaan benih. Saat kemarau, Usman menganjurkan penyiraman benih di persemaian setiap hari. Dua hingga empat pekan kemudian muncul tunas mirip taji ayam. Itu waktu tepat untuk memindahkan bibit ke polibag.

Selang 5 – 8 bulan ketika tinggi bibit 30 – 50 cm, pekebun memindah tanaman anggota famili Arecaceae itu ke lahan. Hindari menanam terlalu dalam agar jernang cepat berbuah. ‘Pangkal batang harus di atas tanah,’ kata Usman. Benamkan segenggam (10 – 15 g) pupuk Urea saat menanam. Selanjutnya tambahkan 1 sak (10 – 15 kg) pupuk organik setiap tahun. Tahun ke-3, tanaman belajar berbuah dan berproduksi penuh tahun berikutnya. Pekebun menuai 4 – 6 tandan buah per tanaman berumur 3 tahun. Produksi bakal terus meningkat seiring pertambahan umur tanaman. Pada umur 6 tahun, misalnya, produksi mencapai 8 – 12 tandan buah dan meningkat menjadi 16 – 20 tandan pada umur 10 tahun.

Produksi tanaman stabil pada umur

10 – 15 tahun. Jernang mampu bertahan hingga umur 30 – 50 tahun, tergantung perawatan. Pekebun memperoleh 2 – 2,4 g getah dari setiap kg buah jernang rambai D. draco. Dengan begitu, perambah tak perlu lagi masuk hutan dan meninggalkan keluarga. Tanaman penghasil getah termahal itu tumbuh baik di habitat asli hutan Sumatera dan Kalimantan. Menurut Yana, penanaman jernang di Pulau Jawa tidak cocok. Sebab, ‘Curah hujan di atas 2.000 mm per tahun menghambat pembungaan,’ kata kelahiran Ciamis 62 tahun silam itu. Kerabat rotan itu tetap dapat tumbuh di Jawa, tetapi sulit berbunga dan berbuah. Tanaman jernang hanya memerlukan curah hujan 1.000 – 1.500 mm per tahun. (Argohartono Arie Raharjo)

 

Powered by WishList Member - Membership Software