Panen Jangkiriah 10 Ton per Hektare

Filed in Majalah, Sayuran by on 13/02/2020

Bawang putih lokal kerinci, jangkiriah adro.

 

Bawang putih baru jangkiriah adro tahan serangan hama dan penyakit. Potensi produksi 10 ton per hektare.

Ini sederet kelebihan bawang putih jangkiriah adro: daunnya lebih kokoh, umbi lebih besar, dan lebih resisten terhadap serangan cendawan penyebab mati pucuk daun dan busuk umbi. Umbi berbentuk bulat telur rata-rata berdiameter 4,5—5,3 cm dan tinggi 3,2—4,5 cm. Ukuran umbi nyaris setara bawang putih asal Tiongkok dan Thailand yang berdiameter 5,5 cm. Umbi putih keunguan terdiri atas 9—13 siung.

Kebun jangkiriah adro milik Kuswadi.

Ukuran umbi jangkiriah yang besar membuat pengupasannya mudah. Selain itu, “Makin banyak jangkiriah adro yang digunakan, masakan makin harum dan gurih. Beda dengan bawang putih impor yang makin banyak ditambahkan malah makin langu dan agak pahit,” kata Apriyanti di Desa Kersiktuo, Kecamatan Kayuaro, Jambi. Rasa bawang putih itu juga kuat. Aroma dan rasa lebih kental serta sensasi pedas.

Serupa tawangmangu

Pantas banyak petani seperti Kuswandi yang membudidayakan bawang jangkiriah adro. Petani di Desa Sakoduo, Kecamatan Kayuaro Barat, Provinsi Jambi, itu membutuhkan 800—1.000 kg umbi per hektare. Populasi per hektare 165.000 tanaman. Tinggi tanaman jangkiriah adro 30—50 cm, diameter batang semu 2,5—3 cm, panjang daun 46—65 cm, lebar daun 2,8—4 cm, dan jumlah daun 6—8 daun per tanaman.

Menurut Kuswandi perawatan bawang jangkiriah adro sama dengan varietas lain. Namun, bawang khas Kerinci itu lebih tahan serangan hama dan penyakit seperti busuk umbi dan ulat daun. Petani sejak 1998 itu memanen jangkiriah adro 120—160 hari setelah tanam. Ia menuai 6,7 ton per hektare. “Potensi hasil jangkiriah adro 9—10 ton per ha ketika musim hujan. Jika perawatan optimal dan panen tidak sedang musim hujan, pasti bisa melampaui itu,” kata Kuswandi.

Para petani di Desa Kersiktuo, Kayuaro, Jambi, menanam benih jangkiriah adro.

Apriyanti juga menanam 40 kg benih bawang putih jangkariah adro di lahan 1 bal setara 1.200 m². Perempuan 33 tahun itu menuai 740 kg. “Jika produktivitasnya optimal, hasil panen dapat mencapai 800 kg,” ujar Apriyanti. Bawang baru itu merupakan hasil eksplorasi Dr. Desi Hernita, peneliti ahli madya Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jambi pada 2017. Masyarakat menyebutnya bawang putih lokal.

Kuswadi senang menanam jangkiriah adro lantaran lebih tahan penyakit.

Menurut Desi jangkiriah adro dibawa oleh para karyawan PT Perkebunan Nusantara 6 dari Pulau Jawa pada 1928. Lokasi perusahaan produsen teh itu di Kayuaro, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Doktor Agronomi dan Hortikultura alumnus Institut Pertanian Bogor itu menuturkan, karakter fisik jangkiriah adro mirip bawang putih tawangmangu dari Jawa Tengah. Namun, adaptasi selama 91 tahun di alam yang berbeda memungkinkan jangkariah menjadi spesies tersendiri khas Pegunungan Kerinci.

Desi menguji Deoxyribo Nucleic Acid  (DNA) untuk membandingkan antara jangkariah adro dan bawang tawangmangu. Hasil uji menunjukkkan, kedua jenis bawang putih itu ternyata berbeda. Desi dan tim dari BPTP Jambi mengumpulkan benih jangkiriah adro dari petani yang masih menanam bawang lokal itu. Para periset menyeleksi tanaman sehat untuk propagasi atau perbanyakan tanaman.

Menyebar

Apriyanti dan KWT Rahma Putri mengolah bubuk jangkiriah adro sebagai perisa keripik singkong.

Para periset menyebarkan hasil akhir tanaman propagasi kepada para petani di tiga kecamatan, yakni Kayuaro, Kayuaro Barat, dan Gunungtujuh. Total luas penanaman di tiga kecamatan di ketinggian sekitar 1.400 meter di atas permukaan laut itu kini mencapai 10 hektare. Menurut Desi daun jangkiriah adro lebih kokoh dibandingkan dengan varietas lain seperti tawangmangu baru, sangga sembalun, dan lumbu hijau. Nama jangkiriah adro pemberian Bupati Kerinci, Dr. Adi Rozal. M.Si, ketika pendaftaran bawang putih itu menjadi varietas lokal. “Mungkin nama jangkiriah adro bermakna peninggalan nenek moyang,” ujar Apriyanti.

Kondisi pasar saat ini sedang berpihak pada para petani bawang putih lokal, termasuk petani bawang jangkiriah. Musababnya, impor bawang putih, khususnya dari negara Tiongkok, dihentikan lantaran merebaknya virus korona. “Sekarang harga bawang impor bisa Rp50.000 per kg, sedangkan harga jangkiriah adro Rp25.000 per kg,” beber Desi. Selama ini, jangkiriah adro mengisi pasar Kerinci dan Pekanbaru, Provinsi Riau.

Apriyanti dan petani-petani Desa Kersiktuo yang tergabung dalam kelompok pengolahan Kelompok Wanita Tani (KWT) Rahma Putri berinisiatif mengolah jangkiriah adro agar memaksimalkan pemanfaatan hasil panen. “Jangkiriah adro diolah sebagai bubuk bawang putih. Bubuk bawang putih lalu digunakan untuk taburan bumbu pada makanan olahan seperti keripik kentang dan talas khas Kerinci,” kata Apriyanti.

Selain jangkauan pasar makin luas yaitu kepada para pengolah produk makanan olahan, bubuk bawang putih lebih awet disimpan. “Sampai saat ini penjualan keripik kentang atau talas berbumbu jangkiriah adro sebatas ke warung-warung, dan sekali-kali dibawa dinas ke pameran di berbagai daerah seperti ke Palembang dan Jakarta. Dipasarkan sebagai oleh-oleh khas Kerinci,” jelas wanita kelahiran Kerinci itu. (Tamara Yunike)

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software