Panen Getah di Ladang Gambir

Filed in Perkebunan by on 31/12/2010 0 Comments

Embun masih menempel di permukaan dedaunan, ketika pagi pada pertengahan September 2010 itu Basyir dan kedua rekannya, Jefri dan Hepni, menuruni anak tangga. Pagi itu mereka masing-masing menggendong ambuang atau keranjang bambu untuk menampung hasil panen. “Musim panen gambir telah tiba. Satu ambuang dapat diisi 50 kg daun dan ranting gambir,” kata Basyir.

Dengan ani-ani mereka memotong daun-daun gambir tua yang hijau gelap. Setelah keranjang penuh terisi daun dan ranting gambir, Basyir lalu mengampo alias mengolah daun tanaman anggota famili Rubiaceae itu. “Mengampo gambir berlangsung selama sepekan sehingga harus menginap di ladang,” kata pekebun gambir di Desa Simpangkapuk, Kecamatan Mungka, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, itu.

Oleh karena itu mereka mendirikan bangunan sederhana berukuran 3 m x 4 m terdiri atas 2 lantai. Di lantai atas mereka beristirahat; di bawah, mengolah daun gambir. Musim mengampo 2 kali setahun, yakni pada September dan Maret. Basyir menumpuk daun kerabat kopi itu dalam ambuang dan merebusnya di atas tungku hingga mendidih. Daun direbus selama 1—1,5 jam. Setiap 30 menit ia membalik ambuang supaya seluruh daun terebus sempurna.

Pres

Selanjutnya Basyir menumpuk dan mengikat daun-daun hasil rebusan itu dengan tali sehingga berbentuk buntalan. Ia lalu meletakkan buntalan berisi daun gambir matang itu di lantai kayu selebar 2 m. Dua tiang kayu balok sebesar paha orang dewasa menopang lantai kayu. Di atas buntalan itu ia kemudian menaruh pengepres bertekanan 30 ton. Dengan pengepres itulah Basyir mengampo daun gambir.

Hasilnya berupa getah yang menetes ke dalam ember di bawah lantai. Pekebun lain biasanya juga memanfatkan jepitan kayu berbentuk huruf V sebagai alat pengampo. Dua kayu gelondongan setinggi 3,5 meter menyangga penjepit itu. Produsen meletakkan daun-daun gambir di ruang penjepit. Penjepit mengatup rapat karena di bagian kiri dan kanan terdapat beberapa pasak sehingga daun tertekan dan meneteskan getah.

“Biasanya mengampo dengan jepitan kayu memerlukan 8 pasak. Pasak itu dipukul dengan palu berbobot 20—25 kg,” kata Uskardi, pekebun gambir di Payakumbuh, Sumatera Barat. Teknik penjepit kayu sangat menguras tenaga. Sebab, setiap 10 menit produsen gambir harus memukul pasak dengan palu yang sangat berat supaya tekanan penjepit tetap kuat. Basyir kemudian memindahkan getah hasil mengampo ke paraku atau wadah pengendapan yang terbuat dari kayu menyerupai perahu.

Hasil pengendapan selama 12 jam, getah gambir berubah menjadi pasta encer. Basyir meniriskan pasta encer yang terbungkus dalam kain blacu. Ia mengepres bungkusan itu dengan penjepit kayu berbentuk huruf V yang miring 900. Sebuah tali mengikat bagian ujung kayu untuk menekan bungkusan sehingga air menetes. Setiap 20 menit, Basyir mengencangkan ikatan agar tekanan tetap kuat. “Pengepresan itu bertujuan mengurangi kadar air sehingga pasta menjadi lebih padat,” kata Basyir.

Multimanfaat

Penirisan berlangsung hingga 20 jam dan berakhir bila pasta gambir tidak mudah pecah saat dicetak. Basyir mencetak gambir menggunakan bambu berdiameter 2—3 cm. Hasil cetakan berbentuk silinder mirip kue putu. Produsen gambir sejak 1985 itu lalu menata hasil cetakan di atas rak bambu dan menjemur di bawah terik matahari. Durasi penjemuran selama 2—3 hari hingga gambir berwarna cokelat kehitaman.

Namun, ketika mendung atau hujan, Basyir mengeringkan gambir di atas tungku. Dari pengolahan 50 kg daun dan ranting gambir, Basyir memperoleh 4 kg gambir kering siap jual. Ia membawa gambir kering itu ke rumah dan menjual ke pengepul Rp25.000 per kg.

Gambir yang kaya senyawa aktif itu multimanfaat. Gambirin dan katekin misalnya masing-masing berfungsi sebagai pelembap kulit dan antioksidan. Beragam industri seperti cat, kosmetik, farmasi, minuman, dan pangan membutuhkan gambir berkualitas tinggi. (Ari Chaidir)

 

Powered by WishList Member - Membership Software