Panen Buah Tepat Waktu

Filed in Buah, Majalah by on 06/06/2020

Aplikasi faster frover dikebun jambu biji.

Alat pelekat pembungkus buah yang praktis.

Muhammad Rikza Maulana masygul mendengar keluhan petani jambu biji di Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur. Menurut mahasiswa Jurusan Fisika, Universitas Brawijaya, itu proses yang lama saat petani mengikat ujung plastik di tangkai buah. Seorang pekerja hanya sanggup membungkus 1.200 buah per hari.

Tim faster frover dari kiri: Satrio Wiradinata Riady Boer, Muhammad Rikza Maulana, Adin Okta Triqadafi, kiri bawah Firdausi dan Fikriya Novita Sari.

Pekerja menggunakan cara pengokot atau stapler untuk mengikat ujung plastik pembungkus buah. Petugas itu bekerja dari pukul 06.00—08.00. Rikza da rekan—Adin Okta Triqadafi, Satrio Wiradinata Riady Boer, Fikriya Novita Sari, dan Firdausi—membuat alat untuk mengatasi masalah itu Zubaidah Ningsih AS, S.Si., M.Phil, membimbing mereka.

Laba meningkat

Alat baru ciptaaan mereka bernama faster frover—singkatan dari fast wrapper and positioning marker fruit cover. Alat itu berupa kompone-komponen listrik dalam kotak bening yang yang mengalirkan energi panas melalui kabel. Pada ujung kabel itu terdapat alat pemanas plastik. Gambaran sederhananya, saat petani menjepit ujung plastik pembungkus dengan ujung kabel faster frover, maka plastik itu saling melekat seperti bungkus kerupuk.

Muhammad Rikza Maulana menuturkan, “Listrik itu mengalirkan energi panas yang berfungsi untuk melekatkan ujung plastik. Maka, petani tak perlu mengikat, cukup menempelkan faster frover yang ada di jari mereka.” Penggunaan alat baru itu terbukti meningkatkan kinerja. Seorang pekerja mampu membungkus 3.840 buah, sementara yang pakai pengokot hanya 3.372 buah per hari. Artinya ada peningkatan 468 buah per hari.

Rikza mengatakan, “Hasil hitungan kami, dengan menggunakan alat baru, potensi keuntungan petani setiap 14 bulan dalam tiga kali masa panen meningkat Rp14.300.000.” Fungsi faster frover selanjutnya membantu petani memantau waktu panen yang tepat. Hal itu membuat petani tak perlu bersusah-payah mengecek satu per satu kematangan buah. Rikza dan rekan memasang teknologi global positioning system GPS pada faster frover.

“Ketika petani menggunakan faster frover, GPS mendeteksi sekaligus menyimpan data titik lokasi jambu yang dibungkus. Waktu panen didasarkan umur buah 4 pekan saat dibungkus. Data itu kemudian tersimpan dalam secure digital card (SD card) yang bisa dilihat lewat telepon genggam,” ujar Adin Okta Triqadafi, anggota tim periset. Saat data dilihat, maka muncul titik-titik di layar dengan beragam warna.

Faster frover kaya fitur yang membantu petani buah.

Jika warna merah, berarti jambu biji sudah dibungkus, jingga berarti masa tunggu panen sekitar tujuh hari, hijau berarti masa panen yang berlangsung selama tiga hari, biru batas akhir masa panen sekitar dua hari, dan hitam yang berarti telah lewat dari masa perencanaan panen. “Artinya tiap titik pada faster frover meyimpan informasi berupa pengguna, tanggal pembungkusan, masa panen, dan tanggal panen,” ujar Rikza.

Faster frover dengan model.

<script async src=”https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js”></script>
<ins class=”adsbygoogle”
style=”display:block; text-align:center;”
data-ad-layout=”in-article”
data-ad-format=”fluid”
data-ad-client=”ca-pub-4696513935049319″
data-ad-slot=”5685217890″></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>

Pembaharuan

Menurut peneliti buah dari Balai Penelitian Tanaman Buah (Balitbu), Solok, Sumatera Barat, Farihul Ihsan, S.P. ide membuat faster frover sudah tepat. “Petani jambu biji di Indonesia kebanyakan petani dengan luas kebun yang sempit atau pekarangan. Pengendalian lalat buah yang efektif adalah dengan pembungkusan buah,” ujar anggota tim peneliti mangga unggul denarum agrihorti itu.

Farihul menuturkan, fitur pengumpulan data secara digital juga sangat membantu petani dibandingkan dengan secara manual yang kerap menambah biaya pekerja. Menurut Farihul Ihsan penentuan waktu panen alat faster frover didasarkan umur buah 4 pekan saat pembungkusan belum sepenuhnya tepat. “Bagaimana jika saat pembungkusan umur buah lebih dari 4 pekan? Itu menyebabkan kesalahan jadwal panen. Yang baik adalah penentuan jadwal panen dilakukan saat bunga mekar.

Namun, cara itu juga akan menambah tenaga kerja, karena tidak dilakukan bersamaan pembungkusan buah. Menurut Triqadafi pengembangan dan perbaikan faster frover sedang berjalan. Ia memodifikasi beberapa bagian pada alat itu di antaranya memperkecil dimensi. Semula petani minta faster frover diberi tabung air untuk membasahi tangan agar mudah saat mengambil plastik.

Tampilan faster frover di telepon pintar.

Setelah mereka menguji coba kembali, fungsi tabung air kurang bermanfaat. “Kami hilangkan tabung air itu plus memperkecil dimensi faster frover,” ujar Triqadafi, pemuda kelahiran Tulungagung, Jawa Timur itu. Faster frover yang semula berukuran 7 cm x 6 cm x 5 cm berubah menjadi 4 cm x 2 cm x 1,5 cm. Selain itu, alat GPS yang semula menempel di alat, ia pindah ke telepon pintar.

Petani menggunakan smartphone, mereka juga sudah bisa mengoperasikannya. Dari data yang semula tersimpan di SD card, sekarang bisa langsung tersimpan di handphone melalui bluetooth karena menggunakan GPS bawaan handphone. (Bondan Setyawan)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software