Panen Besar Vannamei

Filed in Majalah, Satwa by on 03/10/2019

Tambak milik Raharditya di Kabupaten Kaur, Bengkulu seluas 18,6 hektare.

Budidaya udang vannamei secara intensif meningkatkan produksi hingga 90%.

Produksi udang vannamei rata-rata peternak di Indonesia hanya 20 ton per hektare per musim selama 4—5 bulan. Namun, Raharditya Bagus Perkasa mampu memanen udang vannamei 33—38 ton per ha atau 38,5—94% lebih tinggi daripada produksi rata-rata itu. Anak muda 24 tahun itu mengelola 18,6 hektare tambak udang di Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu. Oleh karena itu, Adit, sapaan Raharditya Bagus Perkasa, menuai total 650—690 ton per musim di tambak 18,6 hektare.

Pengusaha tambak udang, Raharditya Bagus Perkasa.

Setahun rata-rata Adit 2 kali membudidayakan udang anggota famili penaidae itu. “Satu siklus atau musim 3-4 kali panen parsial. Satu kilogram terdiri dari 90-60 udang, dan akhir panen 25-30 udang,” kata Adit.

Teknologi mutakhir

Adit rutin menjual udang vannamei ke eksportir di tanah air sejak 2015. Pasar ekspor menghendaki udang berbobot 17—50 gram per ekor dan panjang 15—20 cm. Pemuda kelahiran Bekasi, Jawa Barat, 5 September 1995 itu memulai bisnis udang sejak 2015 ketika usianya 20 tahun. Adit tergerak berbisnis udang karena tertarik mengaplikasikan ilmu manajemen yang diperolehnya semasa kuliah.

Sang ayah, Suharjito, sangat mendukung keputusan Adit menjadi pengusaha tambak udang. Adit memilih Kabupaten Kaur, Bengkulu, sebagai lokasi tambak. Alasannya lingkungan masih asri menunjang budidaya udang. Adit memulai bisnis tambak sembari melanjutkan kuliah Magister Manajemen di RMIT University, Australia. Tambak milik Adit di bawah PT Dua Putra Perkasa.

Panen perdana hasilnya cukup memuaskan. Hasil rata-rata selalu di atas 30 ton per hektare. Pemasaran pun mudah karena eksportir justru datang ke tambak mencari udang. Namun, layaknya bisnis lain perjalan tak selamanya mulus.

Pada 2017 contohnya kematian udang tinggi akibat penyakit myo akibat infectious myonecrosis virus. Udang terkena penyakit myo mengalami kerusakan jaringan otot. Solusinya segera memanen udang sebelum penyakit menyebar, dilanjutkan dengan sterilisasi tambak. Menurut Adit penyakit menyebar karena manajemen air buruk. Solusinya menerapkan budidaya intensif.

Pria asal Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, itu menggunakan metode closs. Melakukan sterilisasi terlebih dahulu air laut yang hendak dipakai di tambak pada kolam tandon seluas 3 hektare.Pencegahan lain rutin mengecek kondisi air setiap hari. Budidaya pun menggunakan alat modern serbaotomatis, antara lain alat pakan otomatis, kincir untuk menjaga oksigen terlarut, hingga laboratorium khusus untuk mengecek kondisi udang dan tambak setiap hari. Hasilnya, panen udang membubung.

Mutu udang vannamei di tambak Raharditya Bagus Perkasa memenuhi kualitas ekspor.

Adit mengatakan, budidaya udang intensif juga menguntungkan. Rata-rata rasio konversi pakan atau feed convention ratio (FCR) mencapai 1,4—1,5. Artinya untuk menghasilkan 1 kg udang, ia memerlukan 1,4 kg pakan. Sementara itu peternak lain memerlukan 1,7 kg pakan. Adapun tingkat sintasan atau survival rate (SR) 90—95%. Padat tebar rata-rata 175.000 ekor per meter persegi dan 90% mampu bertahan hingga panen.

“Jika budidaya tepat titik impas diperoleh pada waktu 3 tahun,” kata pria yang kini mengambil program Doktor Ekonomi Manajemen Stratejik di Universitas Trisakti itu. Harapan Adit, selain mengembangkan bisnis juga ingin mengeksplorasi kampung halaman orang tuanya di Jepara, Jawa Tengah.

“Jepara berposisi dekat pantai sangat potensial mengembangkan budidaya perairan. Adanya edukasi tentu bisa membantu mengembangkan daerah. Harapannya meningkatkan kesejahteraan warga setempat,” kata Adit yang berencana memperluas tambak udang untuk melayani tingginya permintaan. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software