Panen 5 Ha 14 Jam

Filed in Sayuran by on 02/10/2013
Ferry Setiawan, lebih efektif dengan mekanisasi

Ferry Setiawan, lebih efektif dengan mekanisasi

Ferry Setiawan panen padi di lahan 5 ha dalam 14 jam.

Hujan disertai angin yang turun semalam menyebabkan sebagian padi siap panen di sawah Ferry Setiawan rebah. Petani di Desa Pombulaajaya, Kecamatan Konda, Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara, itu menanam padi ciherang di lahan 5 ha. Umur tanaman anggota famili Poacecae itu sama sehingga waktu panen pun berbarengan. Panen berbarengan di lahan 5 ha? Berapa banyak tenaga kerja? Ferry hanya bertiga—dibantu 2 orang—untuk memanen padi di lahan seluas itu. Dua orang itu bertugas memasukkan gabah ke karung.

Petani muda yang energik itu cekatan  menyalakan mesin pemanen berkekuatan 60 HP dari tepi sawah. Ia duduk di jok ruang kemudi itu untuk mengatur arah jalan kendaraan. Kendaraan melaju perlahan dengan kecepatan kurang dari 5 km per jam untuk memotong batang padi. Di bagian depan bawah mesin itu memang dilengkapi alat pemotong. Ferry dapat mengatur ketinggian potong  batang padi, biasanya 15—20 cm dari permukaan tanah. Artinya padi yang tinggi, pendek, bahkan rebah sekalipun bukan masalah.

 

Cover 1.pdfTiga dalam satu

Alat pemanen pintar itu lantas bekerja dengan mengirimkan hasil potongan ke sebuah ruang perontok. Pada bagian itu terdapat jeruji dan silinder panjang untuk merontokkan gabah dari malai. Malai tanpa sebutir gabah pun itu akan keluar mesin, sementara gabah berjalan ke ruangan lain.  Alat panen itu juga dilengkapi dengan sistem pembersih sehingga gabah bebas dari kotoran seperti jerami, daun padi, dan debu.

Bahkan alat itu mampu memisahkan gabah bernas dan gabah kosong. Dua pekerja yang membantu Ferry menampung gabah hasil panen di bagian belakang kendaraan. Mereka memasukkan gabah ke karung. Cara panen Ferry sangat praktis karena untuk memotong batang padi,  merontokkan bulir padi,  dan mengumpulkan gabah hasil panen cukup di satu alat.  Pantas untuk panen padi di lahan 1 ha, Ferry hanya perlu 2—3  jam. Panen di sawah  seluas 5 ha itu rampung dalam 14 jam.

Perekayasa alat dan mesin pertanian dari Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Ir Agung Santosa menuturkan, penggunaan alat pemanen padi menyingkat waktu panen. Menurut Nozomi Kobayashi, direktur PT Kubota Machinery Indonesia, produsen alat-alat pertanian, mesin pemanen padi itu mampu mengunduh gabah dari lahan seluas 0,42—0,53 ha per jam.

Bandingkan ketika Ferry belum menggunakan mesin pemanen. Ia memerlukan 18—20 tenaga kerja selama 8 jam untuk memanen gabah dari sehektar lahan. Sudah begitu, biayanya terbilang tinggi. Setiap 600 kg gabah kering panen (GKP), 100 kg menjadi upah tenaga kerja. Jika produksi 6 ton GKP per ha, maka upah tenaga panen 1 ton setara Rp3,3-juta pada tingkat harga jual Rp3.300 per kg.

Artinya Ferry harus mengalokasikan Rp16,5-juta untuk upah tenaga kerja jika panen secara manual.  Sementara penggunaan mesin pemanen itu amat irit. Untuk memanen sehektar sawah, mesin itu hanya memerlukan 15—20 liter solar atau seharga Rp82.500—Rp110.000. Total jenderal, untuk pemanenan Ferry hanya mengeluarkan Rp1.750.000 per 5 ha. Potensi penghematan Ferry mencapai Rp1,5-juta.

 

Gabah hilang

Ferry Setiawan mengatakan setelah menggunakan mesin pemanen itu, “Kebutuhan tenaga kerja banyak berkurang.” Panen di lahan seluas 5 ha itu ia tangani sendiri dengan bantuan 2 pekerja untuk memasukkan gabah ke dalam karung. Penggunaan mesin pemanen, pengumpul, sekaligus perontok memangkas biaya panen dari 17% menjadi tinggal 10%.  Itulah sebabnya penggunaan mesin pemanen itu sangat ekonomis.

Panen padi manual, kehilangan hasil 13—15%

Panen padi manual, kehilangan hasil 13—15%

Menurut Elphyson Tendanlangi, manajer penjualan dan perbaikan PT Kubota Machinery Indonesia, minus biaya operasional, investasi mesin kembali setelah satu setengah tahun atau tiga musim panen. Jika jangka usia ekonomis mesin panen itu lima tahun saja, maka empat tahun berikutnya murni keuntungan. Ferry menyewakan mesin itu kepada para petani sekecamatan. Biaya sewa Rp30.000 per karung gabah 100 kg. Jika penyewa menuai 50 karung per ha, maka Ferry mendapat Rp1,5-juta. “Padahal, saya bisa memanen hingga 5 ha per hari,” ujar Ferry.

Oleh karena itu Ferry menambah jumlah mesin pemanen.  Semula ia hanya memiliki satu mesin pemanen pada 2011. Kini, Ferry memiliki 8 mesin pemanen padi yang siap membantu petani kala musim panen tiba. Panen saat kondisi tanah becek dan padi rebah pun bukan masalah lagi. Pasalnya, roda karet membuat mesin pemanen mampu berjalan stabil di tanah berlumpur sekalipun. Menurut Nozomi Kobayashi, tekanan pada permukaan tanah sebesar 0,20 kgf/cm2 bisa meminimalisir kerusakan lahan. Mesin pemanen itu juga mudah dipindahkan dari satu lahan ke lahan lain hanya dengan bantuan truk kecil atau traktor.

Bukan hanya cepat, hasil padi juga meningkat. Ferry memperoleh 24,5 ton gabah dari sawah 5 ha. Jumlah itu lebih banyak 14,1% ketimbang panen manual, yang hanya 4—4,2 ton. Penggunaan mesin pemanen padi memang mengurangi kehilangan hasil, meningkatkan kualitas gabah, dan menghemat tenaga kerja. Menurut Ir Bram Kusbiantoro MS, peneliti pascapanen di Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Subang, Jawa Barat, kehilangan hasil saat perontokan padi (panen manual) mencapai 13—15%.

Jika petani panen 5 ton GKP per ha, gabah yang hilang sebanyak 650—750 kg atau senilai hampir Rp3-juta. Dengan mesin milik Ferry, tingkat kehilangan berkurang sampai kurang dari 3%. “Ada selisih 500—700 kg antara panen manual dan dengan mesin. Panen biasa hanya 4—4,5 ton, dengan mesin mampu 4,7—5,2 ton per ha,” ujar Ferry.

Mesin cerdas itu tetap saja memiliki keterbatasan. Ia hanya mampu menangani lahan mendatar berupa  hamparan luas, seperti di daerah Jawa Tengah, Jawa Timur, atau Sulawesi Tenggara. Sementara di sawah dengan pematang berkelok, berundak, atau terasering, mesin berkekuatan     60 tenaga kuda itu justru merepotkan. Itu sebabnya kehadiran mesin berbentuk mirip kendaraan perang itu tidak akan mematikan rezeki tenaga panen harian. (Kartika Restu Susilo)

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software