Pala Unggul dari Bogor

Filed in Majalah, Perkebunan by on 10/04/2019

Pala nurpakuan agribun kaya minyak asiri berkadar miristisin tinggi.

 

Pala unggul yang menghasilkan 5.000—9.000 buah per tahun.

Inilah nurpakuan agribun, pala asli Bogor, Jawa Barat. Pada November 2018, Kementerian Pertanian melepas Nurpakuan Agribun sebagai varietas unggul lokal. Periset Balai Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) Bogor, Dr. Otih Rostiana M.Sc meneliti karakternya sejak akhir 2015.Yang terpenting, rendemen minyak asiri pala nurpakuan agribun mencapai 14,5% dengan kadar miristisin paling tinggi 14%.

Pohon induk

Pohon induk nurpakuan agribun di Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Menurut Otih, kandungan miristisin asiri pala bogor itu lebih tinggi ketimbang pala banda yang menjadi andalan banyak penyuling. Dalam deskripsi resmi pala banda, Balittro Bogor menyatakan kadar miristisin minyak pala banda 13,7%. Miristisin adalah salah satu parameter kualitas minyak pala. Periset di Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Universitas Pattimura, Ambon, Sophia Grace Sipahelut S.P., M.Sc. menyatakan, kandungan minimal miristisin minyak pala adalah 10%.

Selain unggul kandungan minyak terbang, produktivitas pala bogor juga mantap. Pohon umur 20—46 tahun menghasilkan 5.000—9.000 buah per tahun. “Pohon berbuah sejak umur 7 tahun,” kata pemilik pohon pala di Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Euis Roswati. Produksinya naik setiap tahun seiring pertambahan cabang dan tajuk.

Selain Tamansari, pohon Myristica fragrans itu tumbuh Kecamatan Leuwisadeng, Nanggung, Sukajaya, Tanjungsati, Cijeruk, dan Sukamakmur. Di Kecamatan Leuwisadeng, kondisinya berbeda seorang warga Desa Sadeng, Leuwisadeng, Satri, menanam pala sejak remaja. “Di Sadeng pohon pala membentuk hamparan,” kata Euis.

Untuk memperoleh pohon induk tunggal (PIT) nurpakuan agribun, Otih Rostiana menyurvei ke-7 kecamatan itu sejak akhir 2015—awal 2018. Dalam kurun itu pala 3 kali panen tapi pada musim berbeda. “Tujuannya meneliti pengaruh cuaca terhadap produktivitas,” kata peneliti berusia 55 tahun itu. Penelitian Otih dan tim Balittro menjadi dasar penetapan PIT di 2 lokasi, yaitu Tamansari dan Leuwisadeng. Kedua lokasi itu juga menjadi blok penghasil tinggi (BPT), yang menjadi sumber benih nurpakuan agribun.

Rentan penyakit

Dr. Otih Rostiana, M.Sc., periset Balittro yang meneliti karakter nurpakuan agribun.

Data Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat menyatakan, pada 2017 Kabupaten Bogor mempunyai lahan pala seluas 1.696 hektare. Dari luasan itu, 926,7 ha adalah lahan dengan tanaman produktif. Menurut Otih Rostiana, nurpakuan agribun terbukti cocok dan adaptif di Bogor. “Asalnya mungkin dari Banda atau Kepulauan Tidore, tapi adaptasi beberapa abad menjadikan pala bogor menyesuaikan dengan agroklimat di Bogor,” kata Otih.

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (Distanhorbun) Kabupaten Bogor, Ir. Irma Villayanti menegaskan, meski adaptif dengan iklim Bogor, nurpakuan agribun memerlukan perawatan agar produksi optimal. Salah satunya adalah pemangkasan dan pemupukan. (Argohartono Arie Raharjo)

Tags: , , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software