Pakar Akuakultur Dunia Hadiri Konferensi Internasional di Kota Bogor

Filed in Peristiwa by on 29/10/2019

Sistem budidaya perikanan di Asia berkembang dari semula tradisional menjadi intensif. Oleh karena itu memerlukan kajian lebih lanjut terkait aspek keberlanjutan dari sistem budidaya intensif. Sekitar 90% lokasi budidaya perikanan dunia berada di Asia. Perubahah sistem budidaya intensif mempengaruhi

lingkungan. Jadi, sistem budidaya intensif berbasis ekologi (ecological intensification) bisa menjadi solusi untuk meningkatkan produksi akuakultur dengan memaksimalkan pemanfaatan proses ekologi dan peran ekosistem yang diberikan oleh keragaman hayati.

Itulah tema besar konferensi internasional bertajuk Ecological Intensification: A New Paragon for Sustainable Aquaculture yang diselenggarakan pada 28—30 Oktober 2019 di IPB International Convention Center (IICC) Kota Bogor, Jawa Barat. Konferensi internasional itu terwujud berkat kerja sama antara Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM KP), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), melalui Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar dan Penyuluhan Perikanan (BRPBATPP) dengan Institut de Recherche pour le Développement (IRD).

Menurut ketua penyelenggara, Dr. Ir. Tri Heru Prihadi M.Sc., acara itu untuk memperingati 20 tahun kerja sama penelitian antara kedua institusi. Konferensi akuakultur internasional itu juga menjadi ajang pertukaran informasi inovasi teknologi dan pengalaman di bidang akuakultur dalam dan luar negeri. Perwakilan IRD di Indonesia, Domenico Caruso, mengatakan acara itu bisa mengubah perspektif para pemangku kepentingan sehingga tercipta budidaya akuakultur yang berkelanjutan.

Lebih lanjut Heru menuturkan konferensi internasional itu istimewa bagi peneliti lantaran jurnal dan prosiding pun bertaraf internasional atau berindeks Scopus. Konferensi internasional itu satu-satunya seminar di BRSDM KP yang berindeks Scopus. Kelebihan lainnya yaitu,”Konferensi internasional yang berlangsung selama 3 hari itu gratis,” kata Heru. Lebih dari 90 peserta dari berbagai kalangan seperti peneliti, akademisi, praktisi, dan para pemangku kepentingan dari 8 negara (Indonesia, Prancis, Belgia, India, Belanda, Australia, dan Chili) menghadiri konferensi akuakultur internasional.

Setiap peserta menyampaikan hasil riset dan inovasi teknologi akuakultur melalui seminar dan poster. Kehadiran para pakar akuakultur dari dalam dan luar negeri makin meningkatkan kualitas keilmuan acara itu. Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS., salah satu pembicara ahli dari Indonesia bersama dengan Ketua Shrimp Club Indonesia (SCI), Iwan Sutanto. Prof. S. K. Das, Ph.D., dari India menyampaikan hasil riset tentang teknologi bioflok untuk manajemen produksi akuakultur.

Pembicara ahli dari Chili yaitu Doris Soto fokus meneliti perkembangan dan penerapan pendekatan ekosistem untuk akuakultur. Adapun Marc Vardegem dari Belanda berbicara tentang materi bertema penggunaan ekosistem kolam demi akuakultur yang berkelanjutan. Sementara Patrick Sorgeloos menyampaikan materi pendekatan ekologi untuk manajemen mikrob yang lebih baik pada budidaya udang intensif. Pembicara ahli lainnya yakni Roel H. Bosma dari Belanda, Michael A. Rimmer (Australia), dan Joël Aubin (Prancis). Riefza Vebriansyah

Tags: ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software