Pahlawan Pangan

Filed in Rubrik Tetap, seputar agribisnis by on 17/10/2019

Bahkan bonggol jagung pun banyak faedahnya antara lain sebagai pakan ternak, bahan briket, dan sumber pangan.

 

Pada 1939–tepat 80 tahun yang lalu, Moedjahir (baca:mujahir) menjadi berita.  Mantan tukang satai itu berubah haluan menjadi tukang ikan.  Ia menyebarkan varietas ikan baru yang diberi nama mujair. Apa istimewanya ikan itu? Mujair Oreochromis mossambicus adalah ikan dengan daya hidup yang tinggi.  Ikan anggota famili Cichlidae itu pandai beradaptasi dalam berbagai kualitas air, cepat berkembang, dan enak dikonsumsi.

Eka Budianta

Mujahir melihat ikan itu kali pertama di pantai selatan Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur. “Kalau ada bahaya, induk ikan itu melindungi anak-anaknya dalam mulut.  Kalau sudah aman, mereka dikeluarkan, bebas sampai besar.”  Begitu kisah Mujahir yang lahir di Blitar pada 1890 dan wafat pada 1957.  Namanya diabadikan dan dipopulerkan untuk ikan temuannya itu. Ikan mujair!

Agroteknologi

Sekarang, kita boleh mencatatnya sebagai salah seorang “pahlawan pangan”. Pada batu nisan makamnya pun terpampang gambar ikan yang mudah diternakkan dan murah meriah itu. Pada zaman Belanda Mujair pernah mendapat penghargaan dari asisten residen Kediri.  Setelah merdeka Pemerintah Republik Indonesia juga memberikan penghargaan kepada Mujahir atau Moedjahir.

Jenis ikan itu datang dari Afrika.  Sebenarnya mujair ikan laut, tapi pandai menyesuaikan hidup di air payau, bahkan di air tawar.  Menurut legenda, telurnya sangat kecil, bisa ikut terbang dalam uap air yang menjadi awan. Setelah menyeberangi lautan telur-telur itu ikut turun ke bumi bersama hujan.  Maka ada kisah dalam penampungan air hujan bisa mendadak muncul ikan mujair.

Benarkah begitu?  Yang jelas untuk mengubah ikan laut menjadi ikan darat, Mujahir hanya menggunakan gentong.  Awalnya gentong itu diisi air laut dan secara bertahap dicampur air tawar.  Ceritanya sampai sebelas kali mengganti air, sampai akhirnya mendapat bibit andalan. Pada 12 September 2019, Bapak Teknologi Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie (1936-2019) wafat. Ia sangat gemas kalau bicara teknologi untuk pertanian, perikanan, dan peternakan.

Presiden Republik Indonesia pada 21 Mei 1998—20 Oktober 1999 itu menonjol sebagai teknokrat, tapi berdarah pertanian. Ayahnya kelahiran Gorontalo, lulusan  sekolah pertanian di Bogor,  dan bekerja pada Dinas Pertanian di Parepare, Provinsi Sulawesi Selatan. Di sanalah B.J. Habibie dilahirkan.  Ayahnya, Alwi Abdul Jalili Habibie, Adjunct Landbouw Consulen, bertugas membimbing, membina para mantri pertanian di Sulawesi Selatan.  Termasuk di antaranya menemukan bibit-bibit unggul untuk memenuhi kebutuhan pangan.

Sampai sekarang, tugas untuk memenuhi kebutuhan pangan tidak pernah berubah.  Menteri Pertanian, Dr. Ir. Amran Sulaiman, M.P. pun mendorong jajarannya bekerja keras siang malam agar tidak terjadi kekurangan pangan.  Bahkan, Provinsi Kalimantan Utara kini dipersiapkan sebagai lumbung pangan untuk ibu kota Republik Indonesia yang baru. Kabar baiknya, generasi milenial menyambut baik.

Dengan teknologi mutakhir, drone, dan komputerisasi, sekolah pertanian kini mulai diminati lagi.  Belasan ribu petani muda siap menjadi “pahlawan” untuk mencapai kemandirian pangan.  Mereka berjanji mengikuti suriteladan BJ Habibie untuk memanfaatkan teknologi modern bagi pertanian.

Anak muda

Diskusi pertanian dan peternakan pun makin marak di kalangan muda.  Contohnya adalah Gerakan Pemuda/i Bertani (GPB) yang diikuti hampir 400 orang.  Mereka tersebar di berbagai wilayah Indonesia.  Saya pernah diundang ke diskusi mereka di Purbolinggo, Lampung Timur.  Pemimpinnya Muhammad Arief Hidayat dari Jepara, Jawa Tengah. Peserta dari daerah lain juga banyak, termasuk dari Jakarta dan Bandung.

Ikan mujair adaptif di perairan bersalinitas.

“Tugas gerakan kami adalah menyebarkan semangat dan inspirasi,” kata Arif.  Selain itu juga mempromosikan paket-paket agrowisata dan terobosan baru.  Contoh program-program di Nusa Tenggara Barat oleh Umminingsih, dan “Omah Mbako” di Temanggung oleh Kitri. “Makin banyak peminat yang mengakui bahwa GPB memberikan inspirasi kegiatan baru. Omah Mbako menunjukkan perspektif lain dari budidaya tembakau,” tuturnya.

Ternyata upaya penyadaran teknologi Pertanian 4.0 menciptakan pasar tersendiri. Komoditasnya dipanen justru mulai tahap penelitian dalam bentuk penyebaran informasi. Asep Nugraha Ardiwinata dari Kementerian Pertanian (Kementan), misalnya, menarik perhatian dengan mendorong penggunaan insektisida nabati.  Manfaatnya bagus karena meningkatkan produksi dengan menekan dampak kerusakan lingkungan sekecil-kecilnya.

Limbah pertanian seperti bonggol jagung dan urine sapi pun dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.  Sepatutnya kalau Kementan melakukan transformasi pendidikan pertanian lebih gencar.  Sudah disadari bahwa modal utama setiap bangsa terletak pada kualitas sumber daya manusianya. Indonesia di masa kini dan masa depan, makin memerlukan “pahlawan pangan”.  Jangan takut kalau nama Anda menjadi nama tomat, buah, umbi, atau ikan seperti Mujahir. ***

Tags: , ,

 

Powered by WishList Member - Membership Software