Padi Wangi dari Lahan Kering

Filed in Sayuran by on 09/01/2009 0 Comments

Agus Budiono kini mengebunkan kembali padi gogo di Desa Tegalpingen, Kecamatan Pengadegan, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, sejak 2008. Sejak 1980 Agus berhenti bercocok tanam padi gogo dan beralih menanam jagung. ‘Karena hasil panen padi gogo rendah dan mutu beras jelek,’ kata Agus. Selama ini beras padi gogo yang ditanamnya pera sehingga konsumen kurang suka. Produktivitas pun rendah, 2-3 ton per hektar.

Padi gogo merupakan padi yang ditanam di lahan kering atau dikenal padi ladang karena ditanam di ladang, bukan di sawah. Kebutuhan air untuk pertumbuhan padi bergantung pada curah hujan.

Agus membudidayakan padi gogo galur baru bernama unsoed G136. Pemulia padi itu, Prof Ir Totok Agung DH MP PhD, dosen di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Galur itu merupakan hasil silangan padi mentikwangi dan poso. Mentikwangi, jenis padi dalam, mewariskan sifat wangi dan rasa pulen. Sedangkan poso, jenis padi gogo, menurunkan sifat toleran kekeringan dan produktivitas tinggi.

Terbatas

Untuk menghasilkan padi gogo aromatik itu, Totok meriset selama 6 tahun sejak 2001. Ia tertarik mengembangkan padi gogo lantaran budidaya padi di lahan kering sangat minim. Padahal, budidaya padi gogo bisa menjadi solusi ketahanan pangan. ‘Saat ini pasokan padi nasional bergantung pada padi sawah. Setiap tahun lahan sawah terus terkonversi menjadi lahan nonpertanian,’ kata Totok.

Di Jawa yang merupakan lumbung padi nasional, misalnya, dalam 2 dekade terakhir 54.716 ha per tahun lahan sawah berubah menjadi lahan nonsawah. Hal senada juga disampaikan Dr Satoto, peneliti di Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Sukamandi, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Padi gogo sangat berpotensi untuk dikembangkan karena banyak lahan kering yang belum digarap.

Luas lahan kering di Indonesia mencapai 55,6-juta hektar. Yang ditanami padi gogo hanya 1,1-juta  hektar, dengan produksi 2,93-juta ton,’ kata Totok, guru besar Fakultas Pertanian Unsoed. Artinya, masih ada 54,5-juta hektar lahan kering yang belum dimanfaatkan. Bila rata-rata produksi padi gogo 3 ton per ha, maka potensi lahan kering yang belum tergarap itu mencapai 163,5-juta ton gabah setiap musim panen

Oleh karena itu budidaya padi gogo harus digalakkan. Apalagi paradigma produktivitas rendah, dan rasa tidak enak yang selama ini melekat pada padi gogo sudah terbantahkan. Padi gogo temuan Totok memiliki rasa pulen, aroma wangi, dan produktivitas tinggi. ‘Kandungan amilosa galur unsoed G136 19%, tergolong pulen, di atas 20% pera. Produktivitas mencapai 6 ton per hektar,’ ujar doktor alumnus Universitas Kyushu, Jepang itu.

Galur unsoed G136 diuji di beberapa daerah, seperti Sumbawa, Lombok, Bali, Cilacap, Kulonprogo, Sleman, Banjarnegara, Banyumas, Purbalingga, Banten, dan Jember. Hasil uji multilokasi itu menunjukkan padi gogo unsoed G136 berproduktivitas tinggi. Di Banjarnegara galur baru itu menghasilkan 5,23 ton; Kulonprogo, 5,9 ton; Purbalingga, 6,24 ton gabah kering per hektar. Saat ini galur unsoed G136 sedang dalam proses untuk pelepasan sebagai varietas baru.

Unggul

Agar produksi menjulang, perlu ditunjang pola budidaya yang tepat. Menurut Totok sebelum ditanam, petani mesti membajak lahan, menggaru, dan meratakan kembali tanah. Setelah itu benamkan 5 ton pupuk kandang per hektar. Selang sepekan baru dilakukan penanaman, dengan jarak tanam 30 cm x 15 cm. Totok membuat lubang tanam dengan tugal. Setiap lubang diisi 3-5 benih padi.

Sepuluh hari setelah tanam, Totok memberikan 200 kg NPK/ha. Pemupukan kedua, 100 kg NPK/ha ditaburkan 35 hari setelah tanam. Sedangkan pemupukan ketiga saat padi berumur 55 hari berdosis 100 kg Urea/ha. ‘Waktu pemberian pupuk disarankan saat kondisi tanah lembap. Tujuannya supaya pupuk mudah terserap ke dalam tanah,’ kata Totok. Padi siap panen ketika umur 110 hari atau 80% bulir padi sudah menguning.

Menurut Satoto untuk mendukung pengembangan padi gogo, sekarang tersedia beragam varietas unggulan. Beberapa varietas padi gogo lain adalah situpatenggang yang pulen dan wangi, limboto dengan produktivitas tinggi, 5 ton per hektar, dan situbagendit, varietas ampibi yang bisa dikembangkan di sawah maupun di ladang. Dengan beragam varietas unggul itu budidaya padi gogo pun berproduktivitas tinggi, sekaligus menghasilkan nasi pulen dan wangi.

Komputerisasi

Harap mafhum sebagian besar konsumen memang menggemari nasi pulen dan wangi. Selain varietas unggul, ‘Proses pengolahan dari gabah menjadi beras juga mempengaruhi citarasa nasi. Gabah yang diolah dengan bagus menghasilkan beras yang higenis, enak, dan sehat dikonsumsi,’ kata Diana Rahardjo, manager produksi Mahkota ABC, produsen beras di Tangerang, Provinsi Banten.

Diana mengembangkan proses penggilingan beras bersistem komputerisasi yang bisa menghasilkan beras bebas kotoran sehingga lebih enak ketika disantap. Ia mengolah gabah kering menjadi beras dengan melewati serangkaian mesin. Mulamula Diana memasukkan gabah kering ke dalam lubang penampung. Proses selanjutnya, mesin bekerja otomatis. Gabah kemudian bergerak masuk ke mesin pemisah sampah untuk membersihkan bulir padi dengan sampah yang mungkin terbawa. Setelah itu gabah menuju mesin pemecah kulit: gabah dipecah menjadi beras berkulit ari. Dengan mesin pemisah sekam, beras dan sekam pun terpisah.

Selanjutnya beras masuk ke mesin stoner untuk memisahkan beras dan batu atau pasir yang mungkin terbawa saat pengemasan gabah dari petani. Beras lalu melewati mesin poles untuk menghilangkan kulit ari dan bekatul sehingga beras menjadi lebih putih. Setelah itu beras masuk ke dalam mesin penyortir warna. Mesin itu terintegrasi dengan sistem komputer. Mesin memisahkan beras berwarna putih dengan beras kusam dan gabah yang masih tersisa.

Dengan sistem itu kualitas dan citarasa beras yang dihasilkan lebih bagus dan higienis,’ kata Diana. Tampilan beras lebih seragam karena sekam, beras kusam, dan beras putih terpisah sempurna berkat sistem komputerisasi. Saat ini Diana mengolah 20 ton gabah kering per hari. Pasokan gabah diperoleh dari petani di Surakarta dan Purwodadi, Provinsi Jawa Tengah, serta Karawang, Cianjur, dan Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Diana menerima gabah kering dengan kadar air 13-14%, gabah padat berisi, dan tidak beraroma apek. (Ari Chaidir)

  1. Prof Ir Totok Agung DH MP PhD temukan padi gogo wangi berproduktivitas tinggi
  2. Galur unsoed G136, padi gogo aromatik, produktivitas mencapai 6 ton/ha dengan citarasa nasi pulen
  3. Diana Rahardjo kembangkan proses penggilingan
  4. beras bersistem komputerisasi
  5. Mesin penggiling beras dengan sistem komputerisasi, hasilkan beras higienis

 

Foto-foto: Ari Chaidir
Koleksi: Totok Agung

 

Powered by WishList Member - Membership Software