Padi Tahan Rendam

Filed in Sayuran by on 05/09/2010 0 Comments

 

Uji ketahanan rendam. Padi Inpara 4 dan 5 tahan rendam dalam kolam berukuran 150 cm x 150 cm x 140 cm dengan air setinggi 30 - 50 cmPadi Inpara cocok untuk daerah berawa karena tahan rendamSawah Yusirwan di Desa Eretankulon, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, itu memang berada di wilayah rawan banjir. Saat hujan turun atau air sungai meluap, lahan itu bisa tergenang air setinggi 30 – 50 cm selama 5 – 6 hari. Saat surut bibit padi IR64 yang ditanam Yusirwan baru tampak. ‘Daunnya menguning lalu mati,’ ungkapnya.

Menurut Yusirwan untuk lahan 1 ha dibutuhkan sekitar 40 kg benih dengan harga Rp5.000/kg. ‘Itu belum termasuk biaya penyemaian dan buruh tanam sebanyak 20 orang dengan upah Rp15.000/orang,’ ungkap pria 45 tahun itu. Total jenderal, setiap kali menanam bibit Yusirwan merogoh kocek minimal Rp500.000. Padahal gara-gara terendam air, Yusirwan dapat mengulang penanaman bibit hingga 3 kali.

Boleh jadi kini Yusirwan tak perlu merugi lagi bila ia menggunakan padi tahan rendaman yang dikeluarkan oleh Balai Besar Penelitian Padi (BB Padi) bekerja sama dengan International Rice Research Institute (IRRI) di Filipina. Padi yang dilepas sebagai varietas Inpara-4  dan Inpara-5 itu tahan rendaman air hingga 14 hari pada masa vegetatif. Inpara merupakan kependekan dari inbrida padi rawa. Padi baru itu toleran rendaman dibandingkan jenis IR64 atau IR42 yang paling pol bertahan 3 – 4 hari.

Toleran

Menurut Ir Bambang Kustianto MS, pemulia di BB Padi, kehadiran Inpara-4 dan 5 merupakan solusi masalah yang sering menimpa petani di wilayah rentan banjir atau rendaman air. Apalagi dengan kondisi iklim global yang tak menentu, perubahan pola cuaca berdampak pada kekeringan atau banjir secara ekstrim.

Sejatinya terdapat dua strategi adaptasi padi terhadap pengaruh rendaman. Pertama melalui  mekanisme stem elongation ability atau pemanjangan batang mengikuti permukaan air sehingga padi lepas dari kondisi anaerob atau tanpa udara. ‘Tanpa udara fisiologi tanaman terganggu,’ ujar Prof Dr Zulkifli Zaini, periset padi di Badan  Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian RI. Mekanisme stem elongation ability itu cocok untuk daerah yang seringkali tergenang dalam waktu panjang.

‘Yang kedua submergence tolerant atau mampu menyimpan cadangan energi selama terendam dan tumbuh setelah air surut,’ kata Bambang. Strategi ini manjur untuk daerah yang terendam kurang dari 14 hari. ‘Pemanjangan batang pada daerah yang terendam sesaat akan merugikan karena tanaman justru rebah setelah air surut,’ tambahnya. Inpara-4 dan 5 hadir dengan strategi kedua yaitu menyimpan cadangan energi lewat penurunan laju pemanjangan batang.

Kemampuan yang dimiliki Inpara-4 dan 5 itu diwariskan secara genetik melalui introduksi gen toleran rendaman sub1 kepada varietas unggul populer. Inpara-4 merupakan hasil seleksi tunggal populasi galur IR82809. Galur IR82809 merupakan hasil silang balik generasi ketiga pada 2005 antara tetua jantan varietas swarna dan tetua betina IR49830-7-1-2-3 yang toleran rendaman. Hal sama terjadi pada Inpara-5, dari seleksi tunggal populasi galur IR84194-22.  Galur ini merupakan silangan generasi ketiga antara varietas IR64 (jantan) dan galur toleran rendaman IR40931-33-1-3-2 (betina).

Unggul

Galur-galur itu selanjutnya diuji rendaman menggunakan IR42 sebagai varietas pembanding. Caranya, benih direndam dalam air jernih selama 24 jam, kemudian dicuci dan diperam selama sehari-semalam. Media tanam yang dipakai berupa tanah liat dalam wadah plastik berukuran 40 cm x 25 cm x 4 cm yang diberi 2 g pupuk Urea, 2 g KCl, dan 1 g TSP.  Duabelas benih kemudian ditanam dalam barisan dan ditutup tanah setebal 2 – 3 cm. Sepuluh hari setelah tanam, bibit diseleksi. Pada setiap wadah disisakan 10 tanaman terbaik.

Tanaman berikut wadah direndam air setinggi 50 cm dalam bak berukuran 150 cm x 150 cm x 140 cm selama 14 hari. Setelah masa perendaman, galur-galur itu ditaruh dalam rumah kaca. Baru 5 hari berikutnya dipantau kondisinya. ‘Yang daunnya masih hijau, tanda bagus dan bisa bertahan hidup,’ ungkap Bambang. Hasilnya 85,44% Inpara-4 dan 96,43% Inpara-5 lolos hidup, sedangkan IR42 tersisa 6,9%.

Berikutnya melalui uji multilokasi di Indramayu (Jawa Barat); Purworejo, Cilacap, (Jawa Tengah);  Ogan Komering Ilir, Banyuasin (Sumatera Selatan) terlihat produksi tahan rendaman itu tak kalah dibandingkan varietas IR42 dan IR64. Produksi gabah kering giling (GKG) Inpara-4 mencapai 4,9 – 5 ton dengan potensi hasil 7,63 ton GKG/ha. Inpara-5 mencapai 4,5 – 4,7 ton GKG dengan potensi hasil 7,2 ton GKG/ha. Inpara-4 dan 5 masing-masing dapat dipanen pada umur 135 dan 115 hari.

Khusus Inpara-4 memiliki tekstur pera karena kadar amilosanya tinggi, sekitar 29%; Inpara-5 bertekstur sedang dengan kadar amilosa 25%. ‘Inpara-4 potensial dikembangkan di Sumatera dan Kalimantan yang menyukai beras bertekstur pera,’ ungkap Bambang, master pemuliaan tanaman dari Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Inpara-5 bisa menjadi pilihan petani di Jawa, Bali, dan Sulawesi. (Faiz Yajri)

 

  1. Petani di Indramayu memanen Inpara-4
  2. Uji ketahanan rendam. Padi Inpara 4 dan 5 tahan rendam dalam kolam berukuran 150 cm x 150 cm x 140 cm dengan air setinggi 30 – 50 cm
  3. Padi Inpara cocok untuk daerah berawa karena tahan rendam
  4. Ir Bambang Kustianto MS, Inpara-4 dan 5 toleran rendaman 14 hari pada fase vegetatif
 

Powered by WishList Member - Membership Software