Padi Masyhur Warisan Leluhur

Filed in Eksplorasi by on 01/07/2009 0 Comments

 

Julukan beras terenak itu bukannya tanpa alasan. ‘Nasinya harum dan sangat pulen,’ ujar Kafi. Itu karena kadar amilosa beras taun sedang. Menurut Dr A Satoto, peneliti Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, rasa nasi dipengaruhi kadar amilosa. Semakin tinggi kadar amilosa rasa nasi semakin pera. Sebaliknya, semakin rendah amilosa nasi menjadi basah dan lengket.

Satoto menuturkan persepsi tentang rasa nasi sangat subyektif. Masyarakat di Pulau Jawa umumnya menyukai beras yang berkadar amilosa menengah. Cirinya pulen – basah dan agak lengket, tetapi tidak keras bila dingin. Sedangkan warga Sumatera Barat lebih menyukai nasi yang agak pera.

Karena istimewa, Kafi hanya memasak taun pada saat-saat khusus. ‘Biasanya pada akhir pekan saat berkumpul bersama keluarga,’ katanya. Ia menyantapnya dengan menu yang sangat sederhana: ikan mas atau ayam goreng ditambah lalapan dan sambal. ‘Kalau lauk pauknya terlalu beragam, kelezatan nasi justru tak terasa,’ ujar alumnus New South Wales Institute of Technology, Australia, itu.

Sayang, Kafi tak selamanya dapat merasakan nikmatnya beras taun. ‘Saya pertama kali mendapatkannya dari seorang bangsawan Bali sepuluh tahun silam. Itu pun tak pernah banyak. Paling hanya 1 – 2 kg,’ ujar Kafi. Menurut Ir I Nengah Swarsana, anggota Subak Wangaya Betan di Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, bagi sebagian besar warga Bali beras taun itu ibarat mitos karena hanya dikonsumsi para bangsawan. Disebut beras taun karena berasal dari padi berumur 8 bulan sehingga hanya dipanen sekali setahun.

Sayangnya, sejak 1965 petani mulai meninggalkan padi taun dan padi lokal lain karena produktivitasnya rendah yaitu hanya 1 – 1,5 ton/ha. Pada masa itu petani tergiur menanam varietas unggul baru genjah seperti PB-5 dan PB-8. Dengan varietas itu petani bisa memanen padi 3 kali setahun. Produktivitasnya pun mencapai 5 – 8 ton/ha. Akibatnya beberapa padi lokal punah.

Kafi pun merasakan sulitnya memperoleh taun. Sejak 7 tahun silam Kafi tak pernah lagi mendapat kiriman beras taun dari rekan di Bali. Sebagai pengganti rekannya acapkali mengirim beras mansur. Beras itu juga pulen dan harum. ‘Tapi rasanya tak seenak beras taun,’ kata mantan karyawan sebuah pasar swalayan terkenal itu.

Padi mansur salah satu padi lokal yang lestari hingga kini. Padi itu sebagian besar dibudidayakan petani di Kecamatan Penebel. ‘Dulu saya pernah menanam IR64, tapi hasil panennya rendah, hanya 1,5 ton/ha,’ ujar Ketut Redana Sukarta, anggota Subak Asah Piling di Desa Mengesta, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan.

Menurut Ir Gde Made Sukawijaya MM, kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Tabanan, rendahnya produksi IR64 lantaran ketidaksesuaian iklim. Maklum, varietas padi yang dilepas pada 1986 itu maksimal dibudidayakan di daerah berketinggian 400 m dpl. Sedangkan lahan di Kecamatan Penebel rata-rata berketinggian 500 – 1.500 m dpl. Akhirnya petani kembali menanam mansur. Mansur ditanam sekali setahun setiap Juli. Padi berbulir pendek itu dipanen pada November.

Hingga kini mansur tetap menjadi andalan warga Penebel. Selain paling cocok ditanam di dataran tinggi, budidaya mansur juga menguntungkan. Dengan budidaya intensif, Ketut memanen rata-rata 8 ton/ha. Jumlah itu setara dengan produktivitas varietas unggul baru. Hanya saja umur panen lebih lama yakni 5 bulan, varietas unggul rata-rata panen pada umur 115 hari setelah tanam.

Harga jual gabah mansur di tingkat petani mencapai Rp5.500/kg. Harga itu dua kali lipat padi biasa yang hanya Rp2.400/kg. Di tingkat konsumen harga beras mansur mencapai Rp10.000/kg. Harga lebih tinggi lantaran keunggulan mansur begitu masyhur. ‘Mansur biasanya dibeli hotel-hotel besar dan pasar swalayan di Bali,’ kata Ketut.

Padi lokal khas Bali lainnya yang populer ialah beras merah. Padi lokal itu sebagian besar dibudidayakan di Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Tabanan. Kelezatan nasi beras merah setara mansur. Bedanya, nasi merah kurang pulen karena digiling maksimal 2 kali. Kulit ari yang terbuang hanya sedikit sehingga masih tersisa saat dimasak.

Meski begitu, beras merah tetap disukai karena berserat dan berkadar vitamin B tinggi. Apalagi beras merah dibudidayakan secara organik sehingga baik bagi kesehatan. Karena itu harga beras merah di pasaran mencapai Rp15.000/kg.

Yang menarik produktivitas padi beras merah tetap tinggi meski dibudidayakan organik. Rata-rata 7 – 8 ton/ha. Menurut Satoto, produktivitas beras merah tinggi karena memiliki keunggulan spesifik lokasi. Di Penebel beras merah sejak dulu kala dibudidayakan tanpa tambahan pupuk sintetis kimia. ‘Jadi padi itu sudah merasa ‘nyaman’ hidup meski hanya mendapat nutrisi organik,’ kata Satoto.

Akibatnya tanaman tidak terlalu responsif terhadap pupuk sintetis kimia. Penambahan pupuk anorganik tidak mendongkrak produktivitas secara signifikan. Padi merah biasanya ditanam pada Desember dan dipanen Juli. Kafi menyebut keunggulan spesifik lokasi itu sebagai provenance.

Sayang kepopuleran beras merah dan mansur kerap disalahgunakan pedagang yang tidak bertanggung jawab. Beras merah atau mansur dicampur dengan beras biasa, Sebetulnya mudah membedakan beras mansur asli dan palsu. ‘Beras mansur berbentuk hampir bulat. Pada bagian kepala biasanya terdapat semburat putih,’ tutur Ketut. Yang agak sulit beras merah. Beras khas Bali itu hanya dikenali dari aromanya yang harum setelah dimasak. Makanya banyak konsumen yang membeli langsung ke petani. Dengan begitu, buah tangan istimewa itu tak berujung kecewa. (Imam Wiguna)

 

Powered by WishList Member - Membership Software