Padi Hitam 8 Ton/Ha

Filed in Laporan khusus by on 06/06/2013 0 Comments

Produktivitas padi hitam dengan sistem SRI mencapai 8 ton per haDianggap gila dan ditentang istri tak mengurungkan niat Jefri menerapkan SRI. Toh ia sukses membuktikan kesaktian SRI meningkatkan produksi hingga 160%.

“Saya sampai dianggap gila oleh istri saya,” ujar Jefri Abdul Rahman, petani di Desa Randudongkal, Kecamatan Randudongkal, Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah. Pada 2005, Jefri menanam padi hitam dengan teknologi system of rice intensification (SRI) yang ia dapat dari seorang kawan di Thailand. Ia menanam satu bibit padi hitam di setiap lubang, lazimnya 3—4 bibit. Petani lain menganggap cara itu nyeleneh dan mencemoohnya. Jefri bergeming, sang istri tidak. Pertengkaran di sawah percobaan seluas 4.000 m2 itu pun pecah. Saking emosinya, Jefri mendorong istri tercinta hingga jatuh. “Saya kesal, jadi saya tinggal dia di sawah,” kata Jefri.

 

Pertengkaran itu membuat rumah tangga mereka bak membeku. Empat bulan berselang, metode tanam SRI yang Jefri terapkan berbuah     3,2 ton gabah kering panen beras hitam per

4.000 m2. Produktivitas rata-rata padi hitam dengan teknik konvensional hanya 3—4 ton per ha atau jika dikonversi hanya 1,2—1,6 ton per 4.000 m2.

Itu berarti terdapat peningkatan produksi hingga 160%. Kenaikan itu berpengaruh signifikan terhadap pemasukan Jefri. Apalagi, harga beras hitam tergolong premium, berkisar Rp20.000—      Rp25.000 per kg. Kebekuan rumahtangga pun seketika mencair. Kini, Jefri menanam padi hitam di lahan 2—3 ha dari total luas sawahnya 25 ha. Rata-rata produktivitas padi hitam dengan sistem SRI di sawah Jefri 8 ton per ha.

Filokron padi

Petani kelahiran 6 Juni 1968 itu memulai perlakuan sejak benih. Ia merendam benih padi dalam pupuk berbahan baku campuran urine sapi, jahe, kunyit, dan agensi hayati selama 2—3 jam. Tujuannya mempercepat perkecambahan benih. Campuran itu juga efektif sebagai pestisida nabati. Untuk merendam 25 liter benih, Jefri mengencerkan 1 ml pupuk dalam 10 liter air.

Selanjutnya ia menyemai benih pada nampan semai dengan media tanam berupa pupuk kandang dan tanah.  Ia menyebar 200—250 gram benih dalam satu nampan. “Menanam benih di nampan menghemat kebutuhan lahan,” kata Jefri. Ayah dua anak itu menyemai 3—5 kg benih untuk memenuhi kebutuhan bibit lahan seluas satu ha. Hari ke-5 pascasemai, lelaki berkulit cokelat itu memindahkan bibit setinggi 15 cm itu ke lahan. Untuk mencegah stres, alumnus Institut Teknologi Indonesia itu memindahkan bibit sekaligus media tanam.  Penanaman tidak boleh lebih dari 7 hari karena saat itu tanaman mulai memasuki masa filokron kedua.

Satu filokron adalah satu periode terbentuknya seperangkat ’anakan padi’ lengkap dengan sistem akar dan daun. Semakin muda bibit dipindahkan, semakin banyak jumlah filokron yang dihasilkan sehingga anakan yang dapat dihasilkan semakin banyak. Itu karena anakan yang terbentuk saat awal, juga akan membentuk filokron-filokronnya. Filokron ditemukan oleh ahli padi Jepang, Katayama pada 1955. Pemindahan bibit metode SRI harus dilakukan pada umur bibit sangat muda, yaitu 7—15 hari setelah semai. Katayama mengungkapkan bahwa penanaman bibit pada usia 15 hari sesudah penyemaian akan membuat potensi anakan menjadi tinggal 1/3 dari jumlah potensi anakan. Sedangkan bibit muda menambah potensi anakannya hingga 64%.

Mikroorganisme lokal

Lima hari sebelum tanam, Jefri membenamkan 2,5 ton pupuk kandang di lahan satu ha. “Selain menyuburkan tanah, pupuk kandang mengembalikan sifat butiran tanah yang rusak akibat penggunaan pupuk kimia sintesis,” kata Jefri. Selang tujuh hari, Jefri 1 bibit per lubang tanam sedalam 1 cm dengan jarak 50 cm x 50 cm.

Untuk memenuhi nutrisi tanaman, Jefri menggunakan mikroorganisme lokal (MOL) yang dibuat sendiri dengan memanfaatkan bahan-bahan di sekitar pemukiman. Sebut saja rebung bambu, bonggol dan batang pisang, buah maja, pisang, keong mas, serta buah-buahan matang. Pria berusia 45 tahun itu mengencerkan 1 ml larutan MOL dengan seliter air, lalu menyemprotkan ke tanaman dan tanah di sekitar tanaman. Setiap hektar lahan membutuhkan 6 liter larutan MOL per penyemprotan. Ia mengulang penyemprotan 10 hari sekali.

Nun di Desa Pereng, Kecamatan Mojogedang, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah, Paiman Hadi Supadmo juga menerapkan teknologi serupa. Sebelum tanam, petani berusia 74 tahun itu merendam bibit dalam ramuan perangsang akar yang ia racik sendiri. Paiman memfermentasi 1 kg akar rebung, 1 kg akar pinang, 1 kg akar kelapa, 500 g akar alang-alang, 1 m tebu hitam, ragi tempe, dan terasi dalam 25 liter air kelapa selama 10 hari. Bibit direndam selama 10 jam dalam 500 ml ramuan yang diencerkan dengan 10 liter air.

Ayah dua anak itu menanam dengan satu bibit per lubang tanam dengan jarak 40 cm x 40 cm. Petani lulusan sekolah rakyat (SR) itu menerapkan sistem jajar legowo empat baris. Setelah 4 baris tanam, ia merenggangkan 50 cm untuk baris berikutnya dan begitu seterusnya.

Pemupukan lanjutan dengan MOL ia berikan sesuai kebutuhan tanaman. Untuk mencegah serangan cendawan, Hadi memfermentasi 2,5 kg jahe, 10 kg laos, 5 kg kunyit, dan  2,5 kg kencur dalam 25 liter air kelapa selama 14 hari. Sedangkan untuk mengatasi serangan hama wereng, kakek empat buyut itu menyemprotkan pestisida nabati berbahan baku urine sapi dipadu daun sirsak dan kulit kamboja. Hadi memanen padi saat tanaman berumur 120 hari setelah tanam dengan produktivitas 6 ton per ha.

Hingga April 2013, tercatat 60 anggota Kelompok Tani Rukun Makaryo yang diketuai Hadi menerapkan SRI. Luas lahan total 40 ha, tetapi baru 5,59 ha yang mendapat sertifikasi dari Lembaga Sertifikasi Mutu Produksi Pertanian Persada. Karena SRI produktivitas padi hitam pun melambung. (Kartika Restu Susilo)

 

FOTO:

 

  1. Produktivitas padi hitam dengan sistem SRI mencapai 8 ton per ha
  2. Tanam bibit padi hitam pada umur 7 hari pascasemai. Semakin lambat menanam potensi anakan kian turun. Penanaman 15 hari pascasemai potensi anakan tinggal sepertiga
  3. Mikroorganisme lokal (MOL) dari jahe, laos, kunyit, dan kencur
  4. Hamparan padi hitam SRI. Metoda SRI biasanya dibarengi dengan cara budidaya organik
  5. Jefri Abdul Rahman terapkan SRI pada padi hitam sejak 2005
 

Powered by WishList Member - Membership Software