Padi: Biaya Irit Hasil Melejit

Filed in Sayuran by on 03/09/2013 0 Comments

Bintil meningkatkan produksi padi sampai 45% sekaligus memangkas biaya 42%.

Jarot Widodo tampak semringah pada Mei 2013. Ia memanen 11 ton padi per ha. Hasil itu 5 ton lebih banyak ketimbang sebelumnya, yang hanya mencapai 6 ton. Dengan harga gabah kering panen di tingkat petani Rp3.500 per kg, ia meraup omzet Rp38,5-juta per ha. “Bulir padi lebih bernas dan jumlah anakan lebih banyak,” ungkap petani Desa Metuk, Kecamatan Boyolali, Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah, itu. Biasanya, setiap tanaman hanya mengeluarkan 20—30 anakan. Pada penanaman terakhir, setiap batang menghasilkan 40—70 anakan.

Istimewanya, biaya pemupukan dan perawatan justru berkurang. Biasanya, ia mesti merogoh kocek hingga Rp7-juta per musim tanam. Biaya itu untuk pembelian bibit, pupuk kandang, penyiangan, sampai tenaga panen. Namun, pada penanaman terakhir, ia hanya membelanjakan Rp4-juta untuk budidaya padi jenis situbagendit dengan masa tanam 98 hari sampai panen.

Alfalfa memiliki bintil akar sebagai dekomposer

Alfalfa memiliki bintil akar sebagai dekomposer

Seleksi

Penurunan biaya yang diikuti kenaikan produksi itu lantaran Jarot menggunakan kompos jerami yang diberi pengurai berbahan bintil akar alfalfa Medicago sativa. Menurut Dr Nugroho Widiasmadi, peneliti di Fakultas Pertanian Universitas Wahid Hasyim, Semarang, Jawa Tengah, akar alfalfa mengandung berbagai macam bakteri. Beberapa bakteri di akar alfalfa adalah Rhizobium sp sebagai penambat nitrogen Bakteroides succinogenes (pencerna selulosa), Bakteroides ammylophilus (pencerna amilum), dan Clostridium sporogenus (pencerna protein).

Jerami padi menyediakan nutrisi untuk perkembangbiakan bakteri. Nugroho mengisolasi makhluk-makhluk liliput itu dari bintil akar alfalfa berumur lebih dari 5 tahun. Dari satu bintil, ia bisa mendapat 15-juta bakteri Rhizobium sp. Nugroho  mengkulturkan bakteri itu dalam media protein. Dalam 3—4 jam, bakteri memperbanyak diri 100—1.000 kali lipat. Bakteri itu lalu ia kemas dalam botol. Setiap botol mengandung 1,5-miliar CPU (colony per unit) bakteri.

Untuk membuat kompos, Jarot mengeringkan jerami hingga kadar air 10% lalu menebarkan bekatul di atas permukaan jerami. Ia mencampur seliter larutan dekomposer bakteri alfalfa, menambahkan air sampai volume 5 liter, lalu menyiramkan campuran itu ke 100 kg jerami. Pria berumur 42 tahun itu mengaduk rata lalu menutup jerami dengan terpal. Selang 1—2 hari, kompos jerami siap dibenamkan di lahan. Dua hari sebelum tanam, ia membajak lahan lalu menebar 4 ton pupuk kandang sebagai pupuk dasar.

Sebelum menanam, ia merendam 10 kg benih padi dalam 80 ml  larutan bakteri selama 1 jam. Setelah itu, Jarot menyebarkan benih di bedengan persemaian. Lima belas hari setelah semai, Jarot menanam bibit padi di lahan. Ia mengambil bibit dengan serok dari dasar bedengan. Tanah yang terambil tidak dicuci seperti lazim dilakukan para petani konvensional. Tujuannya mencegah akar putus. “Jika putus tanaman stres,” ujar pria kelahiran 1970 itu.

Jarot menanam ketika lahan macak-macak. Ayah 3 anak itu membuat lubang tanam dengan jarak 20 cm x 20 cm dan legowo 40 cm. Setiap lubang tanam hanya ditanami 1 bibit. Pada 7 hari setelah tanam (hst), ia menyemprotkan 10 l pupuk organik cair untuk memacu pertumbuhan. Jarot membuat pupuk itu dari seliter urine kambing terfermentasi bakteri dan menambahkan air sampai volume 10 l. Sehektar lahan memerlukan 10 l pupuk organik cair. Perlakuan itu ia ulang setiap 7 hari hingga padi berumur 55 hst.

Jarot Widodo, produksi padi melonjak hingga 42%

Jarot Widodo, produksi padi melonjak hingga 42%

Menambat nitrogen

“Pupuk organik cair juga berfungsi sebagai pestisida alami, sehingga sawah bebas gangguan belalang,” kata Jarot. Serangan tikus yang menyebabkan rebah batang padi ia antisipasi dengan mencampur 6 bungkus terasi, 4 buah asam jawa, satu sendok makan kopi, dan empat buah pisang. Campuran itu Jarot letakkan di setiap sudut petakan. Hasilnya, tikus enggan masuk ke dalam petakan. Penyiangan gulma ia lakukan sehari sebelum pemupukan. Akhirnya pada 98 hst Jarot panen.

Biasanya, Jarot melakukan pemupukan dengan pupuk kimia pada 10 hst, 21 hst, dan 35 hst. Untuk sehektar lahan, total kebutuhan pupuk mencapai 4—5 kuintal senilai Rp2-juta dan pestisida Rp1-juta. Namun, dengan dekomposer bakteri alfalfa, kebutuhan itu nihil. Sebagai gantinya, Jarot hanya menghabiskan 10 l larutan dekomposer senilai Rp500.000,  dan 4 ton pupuk kandang dan jerami senilai Rp2-juta. Ditambah ongkos tenaga kerja, total biaya yang ia keluarkan mulai mengolah tanah sampai panen hanya Rp4-juta.

Selain lebih murah, penggunaan pupuk organik cair membawa perubahan pada padi yang Jarot tanam. Ketika hamparan padi di sebelah petakan rebah akibat angin kencang, padi di lahan Jarot tetap tegak berdiri. “Batang dan akar padi lebih kokoh,” ujar Jarot. Pupuk bintil alfalfa juga meningkatkan rendemen giling padi hingga 87%, jauh di atas standar nasional yang hanya 75%. Pasalnya, bulir padi lebih bernas dan padat sehingga sedikit bulir pecah.

Berdasarkan riset Renan Subantoro, peneliti alfalfa di Fakultas Pertanian Universitas Wahid Hasyim Semarang, bakteri Rhizobium melliloti bersimbiosis dengan akar alfalfa membentuk bintil akar. Akar alfalfa menambat nitrogen lebih tinggi dibanding tanaman anggota Fabaceae atau kacang-kacangan lain (lihat tabel). Selain itu, akar alfalfa juga berfungsi sebagai dekomposer yang mampu mendegradasi senyawa-senyawa tertentu.

Menurut Prof Abdul Karim, periset padi dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor, Jawa Barat,  nitrogen produksi urine kambing terfermentasi baik ketimbang unsur sejenis asal pupuk Urea. Pasalnya, nitrogen masuk melalui stomata daun, sehingga efisiensi penyerapan nitrogen tinggi. Namun, kenaikan produksi hanya berkisar 1—1,5 ton. “Jika lebih tinggi, berarti itu spesifik lokasi alias hanya daerah tertentu yang bisa mengalami lonjakan produksi,” ujar Abdul Karim.  (Kartika Restu Susilo)

 

Powered by WishList Member - Membership Software