Pacu Buah Gincu

Filed in Buah by on 30/11/2011

Setahun terakhir Handi Erik lebih sering pergi ke dapur. Bukan untuk memasak, tapi mengumpulkan air bekas membersihkan daging atau ikan yang hendak diolah sang istri. Air berwarna merah pekat itu ia tampung dalam baskom. Kemudian, byur! Sebanyak 3 liter air berbau amis itu ia siramkan ke areal di sekitar perakaran dua pohon mangga gedong gincu di halaman rumah.

Handi juga menampung air bekas mencuci beras. Ia hanya memakai air cucian beras pertama yang berwarna putih keruh. Air leri itu langsung ia siramkan ke daerah perakaran tanpa fermentasi lebih dahulu. Air cucian beras kerap diberikan bersamaan dengan air cucian daging dan ikan.

Berkat perlakuan nyeleneh itu pada Juni-Oktober 2011 Handi memanen 300 kg gedong gincu dari kedua pohon berumur 25 tahun. Di tempat tinggalnya, Desa Jembarwangi, Kecamatan Tomo, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat, yang sentra gedong gincu, panen raya Mangifera indica berkulit hijau dengan semburat merah itu biasanya berlangsung pada November-Desember.

Sinergi

Ahli fisiologi tumbuhan dari Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), Ir Edhi Sandra MSi menuturkan proses pembentukan bunga terjadi bila proses vegetatif tanaman optimal serta memiliki cadangan “makanan” cukup untuk memasuki fase pembungaan atau generatif. Untuk memunculkan calon bunga, tanaman butuh asam amino, mineral, dan vitamin yang sangat dibutuhkan tanaman.

“Dalam air cucian daging dan ikan terkandung asam amino, sedangkan air cucian beras kaya vitamin B1,” tutur Edhi Sandra. Salah satu asam amino berupa triptofan, pembentuk zat pengatur tumbuh golongan auksin yang berperan merangsang pembentukan bunga. Prof Dr Roedhy Purwanto, guru besar Departemen Agronomi dan Hortikultura dan Dr Triadiati MSi, ahli fisiologi tumbuhan dari Departemen Biologi IPB menambahkan, cucian beras, daging, dan ikan antara lain mengandung unsur nitrogen, kalium, serta karbon. “Pada tanah subur, karbon berperan sebagai sumber nutrisi bagi mikrob bermanfaat di dalam tanah,” ujar Triadiati.

Menurut mereka, air cucian beras, daging, dan ikan, bukanlah faktor utama penentu munculnya bunga. Oleh karena itu, selain menyiramkan air cucian beras, daging, dan ikan, Handi juga memberikan beragam pupuk mengandung unsur-unsur penting seperti nitrogen, fosfor, kalium, serta mineral.

Setiap usai panen, Handi dan  100 pemilik pohon mangga gedong gincu di Jembarwangi membenamkan 20 kg bokashi dan 40-80 kg pupuk kandang per tanaman yang difermentasi dengan cendawan Tricoderma serta 4-8 kg NPK dan 1-2 kg kalium nitrat KNO3 per tanaman. Nutrisi itu diperlukan untuk memulihkan kondisi tanaman. (baca: Empat Kali Lipat di Luar Musim, Trubus edisi Februari 2011)

Selanjutnya pemupukan cukup dengan menyiramkan 1-2 liter urine sapi fermentasi setiap satu bulan. Urine sapi mengandung 1,5% kalium, 1% nitrogen, dan 0,5 fosfor. Mereka juga menabur 1-2 kg abu gosok setelah pemupukan sebanyak 1 kali sebagai sumber kalsium dan kalium. Kalsium menguatkan batang, kalium merangsang pembentukan akar, membantu pembentukan protein dan karbohidrat sehingga memaniskan buah. “Semua unsur saling bersinergi sehingga tidak dapat dikatakan hanya satu unsur saja yang berperan memacu pembungaan,” tutur Triadiati.

Banyak faktor

Semula, Handi merangsang pembunga-an dengan menyemprotkan   20 cc/20 l paklobutrazol. Menurut Ir Edhi Sandra MSi, paklobutrazol merupakan bahan kimia penghambat pertumbuhan sel. Pemberian pada dosis tinggi menyebabkan seluruh pembelahan sel  dalam  tumbuhan  berhenti. Sedangkan  fotosintesis  terus  berjalan  untuk menghasilkan  fotosintat  (hasil  fotosintesis tanaman, red).  Fotosintat  yang  merupakan makanan  bagi  tanaman  menjadi  berlebih karena  tidak  dipakai  sebagai  energi  dalam proses pembelahan sel. Akibatnya tanaman memiliki banyak cadangan makanan untuk memunculkan calon bunga.

Pekebun di Pemalang, Jawa Tengah, Timbul, menyiramkan pupuk hayati ke area perakaran untuk memacu bunga pohon arumanis di kebunnya. Ia melarutkan  30 ml pupuk hayati ke dalam delapan liter air. Menurut Wayan Supadmo, produsen, pupuk hayati itu mengandung mikrob pelarut fosfat dan kalium. Jasad renik itu berperan melepaskan ikatan fosfat dan kalium yang mengendap karena terikat mineral tanah. Dengan begitu fosfor yang bekerja merangsang pembungaan dan kalium untuk mengoptimalkan proses fotosintesis dapat diserap tanaman.

Faktor lingkungan turut berpengaruh. “Stres berupa cekaman kekeringan diperlukan tanaman untuk menurunkan kandungan hormon giberelin sehingga terjadi induksi pembungaan. Setelah proses biokimia selesai, tanaman akan memunculkan tunas calon bunga,” tutur Roedhy Purwanto. Triadiati menambahkan sinar matahari yang cukup diperlukan agar proses fotosintesis optimal.

Pengamatan Roedhy Purwanto, setahun terakhir perubahan iklim yang ekstrem turut mempengaruhi proses pembuahan pada tanaman buah. sehingga wajar bila banyak pohon mangga mampu berbuah sepanjang tahun. (Hikmat Sumantri SP, anggota staf Pengendali OPT Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura, Jawa Barat)

 

  1. Air cucian daging dan ikan mengandung asam amino jenis triptofan yang merangsang bunga
  2. Dengan panen di luar musim harga jual  lebih tinggi
  3. Pekebun arumanis di Pemalang, Jawa Tengah, memajukan masa berbunga dengan pupuk hayati
  4. Pupuk hayati mengandung mikrob pelarut fosfat dan kalium sehingga keduanya lebih mudah diserap tanaman
  5. Selain nutrisi, faktor lingkungan seperti cekaman kekeringan menginduksi pembungaan
 

Powered by WishList Member - Membership Software