Pabrik Parasit Baik

Filed in Pojok luar by on 01/04/2013 0 Comments

Lebah Bombus terrestris tingkatkan keberhasilan polinasi bunga tomatPerusahaan Koppert memproduksi jutaan serangga dan musuh alami untuk membantu pekebun.

Kotak-kotak putih sebesar kardus pembungkus air mineral dalam kemasan itu diletakkan di beberapa titik di dalam greenhouse tomat ceri seluas 16 ha. Dari dalam kotak itu terlihat lebah-lebah madu berwarna kuning-hitam keluar-masuk melalui lubang di kotak. Lebah Bombus terrestris itu lalu menyambangi bunga-bunga tomat ceri, mengisap nektar, dan memindahkan polen ke putik.

Whitefly musuh pekebun mawarPemilik greenhouse memang sengaja mendatangkan lebah-lebah madu itu ke kebun untuk membantu penyerbukan tomat ceri. Dengan bantuan serangga mungil itu, tingkat polinasi hampir 100%. Para pekerja mengganti kotak-kotak berisi koloni lebah dengan kotak-kotak baru per tiga bulan. Setiap kotak terdiri atas ratu lebah, lebah pekerja, telur, larva, dan pupa. Pemilik greenhouse tomat ceri bercitarasa seperti madu itu mendatangkan lebah madu dari sebuah perusahaan produsen serangga: Koppert.

Musuh alami

Koppert juga mengembangkan beragam parasit baik seperti Encarsia formosa yang membantu pekebun mawar potong mengatasi serangan kutu putih. Predator itu bekerja menangkapi pengganggu pertumbuhan tanaman mawar. Sementara pekebun stroberi, mentimun, dan gerbera sentosa dari thrips karena bantuan predator bernama Amblyseius swirskii. Predator sama juga dapat dipakai untuk mengatasi kutu putih.

Perusahaan Koppert didirikan pada 1967 oleh Jan Koppert. Ketika itu Jan memulai bisnis dengan membudidayakan mentimun di dalam greenhouse. Ia tidak melulu mengurusi tetek-bengek cara budidaya, tetapi juga menekuni cara mengatasi hama dan penyakit yang ramah lingkungan. Dalam pandangan Jan, penggunaan pestisida untuk mengatasi hama dan penyakit tanaman tidak cukup efektif. Belum lagi Jan juga menderita alergi karena penggunaan bahan kimia itu di kebunnya.

Itulah sebabnya Jan mulai mencari  cara mengatasi organisme pengganggu tanaman secara alami. Ketika itu serangan spidermite menjadi masalah di kebun mentimunnya. Alih-alih menyemprotkan pestisida, Jan malah menggunakan musuh alami yakni serangga Phytoseiulus persimilis. Ia mendengar keandalan musuh alami itu dari sebuah ujicoba di Inggris dan Swiss.

Hasilnya Phytoseiulus persimilis terbukti efektif mengatasi spidermite. Dari pengalaman sukses itu Jan pun mengembangkan sendiri Phytoseiulus persimilis. Musuh spidermite dari kebunnya lalu dipakai oleh para pekebun lain. Dari sanalah bisnis Koppert sebagai “pabrik” musuh alami dimulai. Pada 1972, misalnya, Koppert memproduksi musuh alami kutu putih, yakni parasit Encarsia formosa. Selain itu perusahaan juga mengembangkan musuh alami untuk thrips, aphid, leafminer, ulat, mealybug, sciarid fly, dan vine weevil.

Menurut Paul Koppert, putra Jan yang kini menjadi general manager perusahaan Koppert, salah satu keuntungan menggunakan cara biologi untuk mengatasi hama tanaman yakni produk yang dihasilkan bebas dari residu bahan kimia. Residu pestisida membahayakan kesehatan konsumen. “Sistem kontrol biologi ini merupakan solusi utama untuk rantai pangan sehat di dunia modern saat ini,” kata Paul. Keuntungan lain pekebun menghemat biaya tenaga kerja untuk pengendalian hama. Sebab, musuh alami dapat bekerja sendiri secara aktif.

Lagi pula penggunaan musuh alami tidak menyebabkan resistensi hama seperti pada penggunaan pestisida kimiawi. Namun, bukan berarti Koppert menolak penggunaan pestisida sama sekali. Prinsip mereka adalah penggunaan yang seimbang: kontrol biologi ketika itu memungkinkan, bahan kimia jika diperlukan, biological control where it’s possible, chemicals when necessary.

Itulah yang disarankan oleh para tenaga lapang Koppert kepada para pekebun. Langkah pertama perlindungan tanaman berupa pencegahan misal sistem budidaya yang baik dan terkontrol serta sanitasi tanaman. Langkah kedua berupa program pengawasan misal penggunaan sticky trap, jebakan feromon, atau deteksi dengan virus. Langkah ketiga, tahap pengendalian secara biologi dengan musuh alami, pengendalian mekanis, dan pengendalian secara kimiawi yang selektif sehingga meminimalisir residu terhadap lingkungan.

Penyerbuk alami

Pada 1988 perusahaan Koppert memperlebar sayap dengan memproduksi lebah penyerbuk tanaman tomat. Harap mafhum pada saat itu aktivitas penyerbukan di dalam greenhouse tomat masih dilakukan secara manual. Pekerja menggunakan berbagai alat melakukan penyerbukan buatan. Cara itu menghabiskan banyak waktu dan hasilnya tidak maksimal. Dengan bantuan serangga penyerbuk tingkat keberhasilan polinasi menjadi lebih tinggi.

Penyerbukan oleh serangga pun membuat tomat yang dihasilkan lebih berkualitas: ukuran lebih seragam, bobot lebih tinggi, citarasa lebih enak, dan kandungan vitamin lebih tinggi. Keuntungan lain pekebun menghemat biaya tenaga kerja untuk penyerbukan buatan karena lebah melakukan polinasi terus-menerus. Selain tomat, kehadiran serangga penyerbuk juga membantu polinasi di kebun produksi sayuran lain seperti paprika dan tanaman buah seperti stroberi, apel, kiwi, pir, dan ceri.

Pada 1990 Koppert mengembangkan strategi mengatasi hama dan penyakit tanaman berbasis mikrob. Dari uji coba di laboratorium Koppert melahirkan produk berisi enzim tertentu yakni enzim lectoperoksida yang mampu mengatasi serangan cendawan penyebab embun tepung. Oleh karena itu Koppert memiliki tiga perwira atasi hama dan penyakit tanaman, yakni parasit, predator, dan mikroorganisme seperti cendawan baik, virus, dan bakteri.

Berkat berbagai inovasi itu perusahaan Koppert berkembang menjadi perusahaan dunia. Produk-produk Koppert digunakan oleh pekebun berbagai komoditas mulai dari tanaman sayuran, tanaman hias, buah-buahan, biji-bijian, jamur, kentang, bahkan ruang terbuka publik di 80 negara di  seluruh dunia. Maklum saja aplikasinya sederhana.

Pekebun tinggal menaburkan atau menggantung kemasan produk mengandung musuh alami pada daun atau bagian lain tanaman. Pekebun—terutama di greenhouse tanaman hias—juga bisa menggunakan mesin penyebar (blower) untuk menyebarkan musuh alami ke seluruh tanaman. Selanjutnya tinggal serahkan urusan membasmi organisme pengganggu tanaman pada musuh alaminya.

Saat ini kegiatan produksi di perusahaan Koppert dioperasikan oleh 800 pegawai di pusat-pusat produksi di 20 negara di seluruh dunia di antaranya Belanda, Republik Slowakia (untuk lebah), Spanyol, Amerika Serikat, Turki, Meksiko, Selandia Baru, dan Korea Selatan. Seluruh musuh alami dan serangga penyerbuk diproduksi di sarana produksi modern dengan tenaga ahli dari berbagai bidang ilmu. Hasil karya mereka mendapat anugerah berbagai penghargaan seperti Horti Fair Innovation Award pada 2007.

Inovasi terakhir yakni perlindungan menyeluruh terhadap tanaman baik di bagian atas maupun bawah tanah. Sebab seluruh bagian tanaman termasuk akar yang berada di dalam tanah juga rentan serangan hama. Misal produk mengandung Macrocheles robustulus, predator hama di tanah seperti thrip. Dengan perlindungan menyeluruh dari bala tentara serangga baik Koppert tanaman menjadi lebih kuat, sehat, dan produktif. ***

 

Powered by WishList Member - Membership Software