Orok-orok Tingkatkan Produksi Susu

Filed in Satwa by on 01/10/2011

Geger sore C. usaramoensis berprotein tinggi dan menurut botanis Karelheyne telah lama digunakan masyarakat sebagai pakan kuda dan sapiBiji beracunDalam masa laktasi, seekor kambing perah hanya menghasilkan rata-rata 2 liter susu per pekan. Namun, periset dari Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, drh Fajar Wahyono MP, membuktikan keampuhan daun orok-orok sebagai pendongkrak produksi susu kambing perah hingga 3,4 liter. Menurut Fajar daun orok-orok berprotein tinggi, yakni 25%; daun geger sore-salah satu jenis orok-orok-mencapai 27%.

Kandungan nutrien total yang dapat dicerna (TDN) pada daun geger sore Clotalaria usaramoensis 73,5%; daun orok-orok lembut C. juncea, 68%. ”TDN mencerminkan ketersediaan nutrien untuk sumber energi ruminansia. Jika TDN tinggi, potensi energinya untuk ternak juga tinggi,” ujar ahli nutrisi dan pakan ternak itu. Fajar juga mencoba jenis kacang-kacangan lain, seperti kacang babi Tephrosia vogelli.

Cepat mencerna

Sebelum menguji coba pada kambing perah, Fajar dan tim peneliti itu memberikan daun orok-orok ke rumen buatan. ”Tujuannya untuk mengetahui tingkat kecernaan,” ujar Dr Limbang KN, salah satu peneliti. Ternyata tingkat kecernaan kedua jenis crotalaria itu lebih baik daripada daun kacang babi. Oleh karena itu Fajar hanya menggunakan daun C. usaramoensis dan C. juncea sebagai campuran konsentrat pakan kambing perah.

Dokter hewan alumnus Universitas Gadjah Mada itu memanfaatkan daun orok-orok sebagai bahan konsentrat dengan campuran antara lain bungkil kelapa, dedak, onggok, dan tetes tebu. Ke dalam konsentrat dasar itu Fajar mencampurkan 6% daun geger sore pada konsentrat I, gabungan 3% daun geger sore dan 3% daun orok-orok lembut (konsentrat II), serta 6% daun orok-orok lembut (konsentrat III).

Sebelum mencampurkan ke dalam konsentrat, Fajar melayukan daun kedua jenis orok-orok itu dengan menjemur. ”Tujuannya agar protein sitoplasmik yang menyebabkan kembung dapat terdegradasi,” ujar Limbang. Ia lantas menghancurkan daun kering menjadi serbuk agar awet dan mudah tercampur dalam konsentrat.

Dalam riset itu, Fajar tetap memberi pakan hijauan berupa rumput gajah sebagai sumber serat. Pemberian pakan rumput pada siang hari, sementara konsentrat pada pagi dan sore hari. Pada pagi hari ia memberikan konsentrat yang mengandung tetes tebu untuk meningkatkan kecernaan melalui peningkatan jumlah mikroba dalam rumen. Akibat populasi mikrob meningkat, kambing lebih cepat mencerna sumber serat ketika “makan siang”.

Fajar memberikan ketiga jenis konsentrat itu kepada 16 kambing peranakan ettawa (PE) berbobot rata-rata 39,3 kg di Unit Pelaksana Teknis Daerah Pembibitan Ternak Unggul (UPTDPTU) Mulyorejo, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Semua kambing dalam masa laktasi alias menyusui. Sebagai perbandingan, ia juga memberikan pakan konsentrat pabrik kepada kambing lainnya. Hasilnya kambing yang mengonsumsi pakan konsentrat daun geger sore menghasilkan 2,875 liter susu; daun orok-orok, 3,400 liter, dan campuran kedua orok-orok itu 2,950 liter per ekor setiap pekan. Peningkatan produksi sebesar 33,7-58,1%.

”Terlihat peningkatan produksi susu pada kambing yang mengonsumsi orok-orok dibanding yang hanya makan konsentrat pabrikan yang biasa kami pakai,” kata Dwi Retnosari, kepala kandang di UPTDPTU Mulyorejo. Bukan hanya produksi, kualitas susu pun meningkat, terlihat dari kandungan lemak susu dan total solid. Kadar lemak susu dan total solid tertinggi terkandung pada susu kambing yang mengonsumsi daun orok-orok lembut, masing-masing 5,21 dan 14,46.

Murah

Selain meningkatkan produksi susu, penggunaan orok-orok juga memiliki kelebihan lain. Orok-orok murah dan gampang tumbuh, bahkan saat musim kering. Selama ini peternak memanfaatkan bungkil kedelai dan ampas tahu untuk meningkatkan produksi susu kambing. Namun, harga bungkil kedelai dan ampas tahu relatif mahal dan sulit diperoleh. Menurut Fajar, peternak dapat menanam orok-orok dan memangkas 3 kali setahun.

Menurut Fajar, daun orok-orok dan geger sore berpeluang meningkatkan produksi susu sapi. Sudah sejak lama masyarakat memanfaatkan geger sore untuk pakan kuda dan sapi sebagaimana laporan botanis Karel Heyne dalam buku De Nuttige Planten van Nederlandsch Indie atau Tumbuhan Berguna Indonesia.

Heyne menyitir pendapat Van Helten-penulis Mededeelingen van het Algemeen Proefstation Landbouw atau Laporan Umum Laboratorium Percobaan Pertanian, pada zaman Hindia Belanda-bahwa daun geger sore bergizi dan tidak beracun. Harap mafhum, crotalaria terdiri atas sekitar 600 spesies yang semua sohor sebagai orok-orok. Beberapa jenis bersifat hepatotoksik alias racun bagi hati serta menyebabkan kembung bila hewan ternak mengonsumsi daun segar, tanpa pengolahan dahulu.

Indonesia mendatangkan geger sore C. usaramoensis dari Afrika Timur pada 1916 sebagai pupuk hijau. Ketika itu masyarakat menanam semak anggota famili Fabaceae itu di kebun kopi sebagai penahan erosi dan angin. Sementara masyarakat praktis tak memanfaatkan orok-orok lembut yang merupakan tanaman asli Indonesia. Namun, mengetahui faedah orok-orok begitu tinggi, boleh jadi para peternak kambing dan sapi bakal memanfaatkannya. (Tri Susanti)

 

Powered by WishList Member - Membership Software