Organik Lebih Untung

Filed in Topik by on 01/12/2009 0 Comments

 

Namun, hasil tinggi itu tak langsung dinikmatinya saat pertama kali mencoba berbudidaya organik. Tahun pertama, produktivitas masih setara dengan budidaya konvensional, 4—5 ton per ha. Padahal, biaya membengkak sampai 30% karena tingginya biaya pupuk kandang serta tenaga kerja pemupukan dan penyiangan. Pada tahun-tahun selanjutnya produktivitas terus meningkat karena tanah semakin subur.

Bandingkan jika ia tetap bertahan menanam padi secara konvensional, hasil panen tak lebih dari 5,3 ton per hektar. Biaya produksinya memang lebih rendah, hanya Rp9-juta. Namun dengan hasil 5,3 ton dan harga jual Rp2.400/kg, omzetnya hanya Rp12.720.000. Keuntungan pun tipis, Rp3.720.000 per ha.

Dengan organik, meski biaya membengkak sampai Rp11.810.000, tapi keuntungan mencapai Rp15.390.000. Musababnya omzet melambung sampai Rp27.200.000 berkat hasil berlipat dan harga jual gabah organik yang lebih tinggi: Rp3.400 per kg. Inilah hitung-hitungan Hendra menanam padi secara organik. (Nesia Artdiyasa/Peliput: Faiz Yajri)

 

Budidaya padi organik, keuntungan 5 kali lipat dibanding konvensional

 

Spesifikasi

– Budidaya padi organik dengan System of Rice Intensification (SRI)

– Luas pengusahaan 1 ha

– Lama pengusahaan 4 bulan

– Varietas sintanur

 

A. Investasi

– Alat penyemprot 2 unit @ Rp700.000 (masa pakai 10 kali musim tanam) Rp 1.400.000

– Cangkul 5 unit @ Rp50.000 (masa pakai 10 kali musim tanam) Rp 250.000

Total investasi Rp 1.650.000

 

B. Biaya produksi

1. Sarana produksi

– Sewa lahan Rp 1.750.000

– Benih 5 kg @ Rp5.000 Rp 25.000

– Pupuk kandang dan kompos 6.000 kg @ Rp600 Rp 3.600.000

– Pestisida nabati 10 l @ Rp2.000 Rp 20.000

– MOL 30 l @ Rp3.000 Rp 90.000

– Sewa traktor Rp 1.100.000

– Penyusutan alat penyemprot Rp 140.000

– Penyusutan cangkul Rp 25.000

Total sarana produksi Rp 6.750.000

2. Tenaga Kerja

– Penyemaian 6 HOK @ Rp20.000 Rp 120.000

– Olah tanah 20 HOK @ Rp20.000 Rp 400.000

– Membuat lubang tanam 8 HOK @ Rp20.000 Rp 160.000

– Tanam 54 HOK @ Rp20.000 Rp 1.080.000

– Pemupukan 30 HOK @ Rp20.000 Rp 600.000

– Penyiangan 60 HOK @ Rp20.000 Rp 1.200.000

– Pengendalian hama penyakit 10 HOK @ Rp20.000 Rp 200.000

– Panen dan jemur 65 HOK @ Rp20.000 Rp 1.300.000

Total tenaga kerja Rp 5.060.000

Total biaya produksi Rp 11.810.000

 

C. Penerimaan

Produksi padi organik 8.000 kg @ Rp3.400 Rp 27.200.000

 

D. Keuntungan

Rp27.200.000-Rp11.810.000 Rp 15.390.000

 

E. Pertimbangan usaha

1. BEP (Break Even Point)

a. BEP untuk volume produksi

BEP = Rp11.810.000 : Rp3.400/kg = 3.473,5 kg

Titik balik modal tercapai jika produksi padi organik 3.473,5 kg per ha

b. BEP untuk harga produksi

BEP = Rp11.810.000 : 8.000 kg  = Rp1.476,3/kg

Titik balik modal tercapai jika harga padi organik Rp1.476,3/kg

 

2. B/C (Perbandingan penerimaan dan biaya)

B/C = Rp27.200.000 : Rp11.810.000  = Rp 2,30

Setiap penambahan biaya Rp1, memperoleh penerimaan Rp2,30

 

3. NPV (Net Present Value)

NPV = Rp27.200.000 x 1/ (1 + 0,01)4  = Rp 26.128.320

Dengan asumsi bunga bank 12% per tahun, penerimaan yang akan diperoleh 4 bulan mendatang senilai Rp26.128.320

 

Powered by WishList Member - Membership Software